Bab 2: Sentuhan Tak Sengaja
1492Please respect copyright.PENANABMQgzUzyGa
Renata berjalan menuju kamar mandi utama dengan pinggulnya yang lebar bergoyang menggoda. Tank top hitam tipis itu semakin naik, memperlihatkan garis punggung mulus dan pinggang ramping yang kontras dengan bokong montoknya. Raka masih duduk di sofa, kontolnya berdenyut keras di balik celana pendek, napasnya berat. Kata-kata Renata tadi — “Mau ikut mandi bareng?” — masih bergema di kepalanya seperti undangan yang berbahaya.
1492Please respect copyright.PENANAZ4WTdz4hG1
Ia menunggu beberapa menit, berusaha menenangkan diri. Tapi darah mudanya terlalu panas. Akhirnya Raka bangkit dan melangkah pelan menuju koridor yang mengarah ke kamar mandi. Pintu kamar mandi tidak terkunci sepenuhnya. Bunyi air shower terdengar jelas, disertai uap hangat yang keluar dari celah pintu.
1492Please respect copyright.PENANAWHIBvGjg7d
Raka mendorong pintu perlahan. Aroma sabun mandi bunga vanilla dan tubuh wanita dewasa langsung menyeruak, membuat kepalanya pusing karena nafsu. Di balik kaca shower yang agak buram karena uap, ia melihat siluet Renata. Tubuh tinggi semampai itu berdiri di bawah pancuran, air mengalir deras membasahi rambut hitam bergelombangnya yang menempel di punggung. Payudara F-cup montoknya terlihat jelas, puting-puting merah muda menonjol karena air dingin yang ia campur hangat.
1492Please respect copyright.PENANA3R2BjEsoXh
“Kak Ren…” panggil Raka dengan suara serak.
1492Please respect copyright.PENANAN4snDiSAVq
Renata menoleh. Ia tidak terkejut. Malah bibirnya melengkung senyum genit. “Kamu benar-benar masuk ya, Dek? Berani sekali adik ipar Kakak.”
1492Please respect copyright.PENANAgtxte7zhqh
Tapi ia tidak menyuruh Raka keluar. Sebaliknya, Renata membuka pintu shower sedikit, membiarkan uap dan aroma tubuhnya keluar lebih kuat. “Mau cuci punggung Kakak nggak?”
1492Please respect copyright.PENANASHh6O3I1Ax
Raka tidak perlu diajak dua kali. Ia melepas kaos dan celana pendeknya dalam sekejap. kontolnya yang sudah 19 sentimeter tegang berdiri tegak, kepalanya berdenyut merah gelap. Renata melirik ke bawah, matanya melebar sedikit, pupilnya membesar penuh hasrat. “Wah… besar sekali. Dion nggak ada seujung kuku punya adik iparnya.”
1492Please respect copyright.PENANAbbvAdFa92q
Raka melangkah masuk ke bawah shower. Air hangat menyiram tubuh atletisnya. Ia berdiri di belakang Renata, tangan besarnya menyentuh bahu wanita itu. Kulit Renata licin, panas, dan sangat halus. Jari-jarinya menekan pelan, memijat bahu dan punggung dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda.
1492Please respect copyright.PENANA2rkPrV16Cp
“Ahh… enak, Dek,” desah Renata. Suaranya sudah mulai manja. Pinggulnya mundur sedikit hingga menyentuh kontol Raka yang keras. Batang tebal itu terjepit di antara celah bokongnya yang montok. Raka menggeram pelan, tangannya turun ke pinggang Renata, meremas lembut.
1492Please respect copyright.PENANAjRew90WsWZ
“Kak Ren… tubuh Kakak benar-benar gatal ya? Dari tadi Kakak sengaja godain Raka terus,” bisik Raka di telinga Renata. Napas hangatnya membuat wanita itu menggigil.
1492Please respect copyright.PENANA1HtR6omG9v
Renata menggigit bibir bawahnya. “Kamu tahu sendiri. Suami Kakak jarang pulang, kalau pulang juga cuma sebentar… nggak pernah puasin Kakak. Kamu di sini tiap hari, badan kek gini, bikin Kakak… basah terus.”
1492Please respect copyright.PENANANPmanm7Vx4
Tangan Raka bergerak lebih berani. Ia meraih kedua payudara montok itu dari belakang, meremasnya dengan penuh nafsu. puting-puting merah muda itu langsung mengeras di antara jari-jarinya. Renata mendesah panjang, kepalanya mendongak ke belakang, bersandar di dada Raka. “Pelan dulu, Dek… ahh, enak sekali tanganmu.”
1492Please respect copyright.PENANAcmNIzgbwSL
Raka memilin puting itu lembut lalu lebih keras, menarik-narik pelan. Sensasi panas dan lembab dari air shower bercampur dengan getaran tubuh Renata. Ia bisa merasakan bagaimana pinggul wanita itu bergerak pelan, menggesek kontolnya naik turun di celah bokong. Cairan alami Renata mulai mengalir, aromanya manis dan pekat bercampur bau sabun.
1492Please respect copyright.PENANAnNnL6XDZMH
“Kak Ren basah banget. memek Kakak sudah banjir sperma ya?” tanya Raka kasar sambil satu tangannya turun ke perut rata Renata, lalu semakin ke bawah.
1492Please respect copyright.PENANAZxUl5APYZt
Renata mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Iya… sentuh Kakak di situ, Dek. Jangan cuma godain.”
1492Please respect copyright.PENANArfaOiQFjo8
Jari tengah Raka menemukan kristoriskecil yang sudah membengkak. Ia mengusapnya pelan dengan gerakan melingkar. Tubuh Renata langsung mengejang, kakinya sedikit gemetar. “Ahh! Di situ… ya, putar lagi… Kakak suka.”
1492Please respect copyright.PENANAIVcl16h8r9
Suara basah dari jari yang mengusap memek Renata terdengar jelas meski diterpa air shower. Raka memasukkan satu jari ke dalam lubang yang sempit dan panas. Dinding memek itu langsung menggenggam jarinya erat, berdenyut-denut seperti meminta lebih. Renata mengerang lebih keras, tangannya memegang pergelangan tangan Raka, mendorongnya lebih dalam.
1492Please respect copyright.PENANAFWJbRU408x
“Lebih dalam, Dek… Kakak mau dua jari…”
1492Please respect copyright.PENANAS3wqXdZ7Hx
Raka memasukkan jari kedua. Ia mengaduk pelan, merasakan cairan kental yang semakin banyak keluar. Aroma kenikmatan wanita itu memenuhi kamar mandi. Renata berbalik menghadap Raka. Matanya sudah berkabut nafsu, pipinya merah, bibirnya basah. Ia mencium Raka dengan liar, lidah mereka saling menari, saling menjilat dengan rakus.
1492Please respect copyright.PENANA02M9Ozj47G
Ciuman itu panas dan basah. Suara kecupan dan desahan memenuhi ruangan. Tangan Renata turun, meraih kontol Raka yang besar dan tebal. Jari-jarinya yang lentik menggenggam batang itu, mengocok pelan naik turun.
1492Please respect copyright.PENANAWjissmPC5M
“Gede banget… panas… berdenyut di tangan Kakak,” bisik Renata di antara ciuman. “Kalau ini masuk ke memek Kakak, pasti Kakak langsung gila.”
1492Please respect copyright.PENANAtA0sLx8gAX
Raka mengerang, pinggulnya maju mundur mengikuti gerakan tangan Renata. “Kak Ren… Raka mau jilat memek Kakak.”
1492Please respect copyright.PENANACVgawaJ5Zs
Tanpa menunggu jawaban, Raka berlutut di lantai shower yang basah. Ia mengangkat satu kaki Renata ke bahunya, membuka memek wanita itu lebar-lebar. memek itu sudah merah basah, cairan bening terus menetes. kristoriskecilnya menonjol menggoda.
1492Please respect copyright.PENANAeGVDsFzWUZ
Raka menjulurkan lidahnya, menjilat dari bawah ke atas dengan lambat. Rasa asin manis khas wanita langsung memenuhi mulutnya. Renata menjerit kecil, tangannya mencengkeram rambut Raka. “Ahh! Lidahmu… enak sekali… jilat kristoris, Dek… hisap…”
1492Please respect copyright.PENANA1S1KMVtmDv
Raka menuruti. Ia menghisap kristorisitu lembut, lalu lebih kuat, lidahnya berputar cepat. Dua jarinya kembali masuk ke lubang memek, mengaduk dengan irama yang semakin cepat. Tubuh Renata gemetar hebat. Kakinya yang ditumpu hampir lemas. Air shower terus mengguyur mereka, membuat segalanya semakin licin dan panas.
1492Please respect copyright.PENANAI7CiqnrGpR
“Kakak mau keluar… jangan berhenti… Raka… ahh… ahhh!”
1492Please respect copyright.PENANARmDtweW7a9
Renata orgasme pertama malam itu. Tubuhnya mengejang kuat, memeknya berdenyut hebat menggenggam jari Raka, cairan bening menyembur sedikit ke mulut Raka. Ia menangis kecil karena kenikmatan, kakinya gemetar tak terkendali. Raka terus menjilat hingga gelombang orgasme mereda.
1492Please respect copyright.PENANA2nv2jcfNew
Renata menarik Raka berdiri, menciumnya lagi dengan penuh syukur dan nafsu. Tangan mereka saling menjelajah. Renata mengocok kontol Raka dengan gerakan cepat, ibu jarinya mengusap kepala kontol yang sudah basah oleh precum.
1492Please respect copyright.PENANApdvcolho9J
“Keluarin di perut Kakak, Dek. Kakak mau lihat sperma adik ipar,” pinta Renata dengan suara mesum.
1492Please respect copyright.PENANArAQfdyrN6D
Raka tidak tahan lama. Dengan desahan keras, ia menyemburkan sperma panasnya ke perut dan payudara Renata. Semprotan putih kental itu menempel di kulit putih mulus wanita itu, dicampur air shower. Renata tersenyum puas, jarinya mengoles sperma itu ke puting-putingnya sendiri.
1492Please respect copyright.PENANA48PXOc6G6g
Mereka membersihkan diri sambil terus saling sentuh. Setelah shower, mereka keluar dengan handuk. Tapi nafsu belum padam. Di kamar Raka yang kosong, mereka berbaring di tempat tidur. Renata hanya memakai handuk yang longgar.
1492Please respect copyright.PENANAbSPQwfoC7A
“Ini salah, Dek…” bisik Renata, tapi tangannya tetap mengelus kontol Raka yang mulai bangkit lagi. “Kakak istri Dion… tapi Kakak sudah lama nggak merasa hidup seperti ini.”
1492Please respect copyright.PENANALB1hqOBs6a
Raka menatapnya dalam. “Kalau Kak Ren mau berhenti, kita berhenti sekarang. Tapi Raka tahu, memek Kakak masih gatal.”
1492Please respect copyright.PENANAYXhIncrkSw
Renata menggeleng. Ia membuka handuknya, memperlihatkan tubuh telanjang yang sempurna. “Jangan berhenti. Tapi… belum boleh masuk dulu ya. Kakak masih takut. Kita main dulu… pelan-pelan.”
1492Please respect copyright.PENANAqJLD3VhKSP
Raka mengangguk. Malam itu mereka habiskan waktu dengan foreplay panjang. Raka menggunakan jari dan lidahnya untuk membuat Renata orgasme dua kali lagi. Renata membalas dengan mulutnya yang hangat dan lihai, menghisap kontol Raka dalam-dalam hingga hampir ke tenggorokan. Suara gluck-gluck basah memenuhi kamar. Bau seks memenuhi udara.
1492Please respect copyright.PENANAptkvrmtsLM
“Kak Ren enak sekali… mulut Kakak panas dan basah,” puji Raka sambil memegang kepala Renata.
1492Please respect copyright.PENANA7bw0GmLb9y
Renata mendongak, matanya berkaca-kaca karena refleks. “sperma adik ipar enak… Kakak mau biasain minum ini setiap hari.”
1492Please respect copyright.PENANAC2QbT8Jp5z
Mereka hampir kebablasan beberapa kali, tapi Renata masih menahan penetrasi penuh. “Tunggu besok… atau lusa. Kakak mau nikmati godaan ini dulu.”
1492Please respect copyright.PENANAeJ7f7gFFST
Menjelang pukul dua malam, Dion mengirim pesan bahwa ia sudah pulang dan langsung tidur di kamar utama. Renata mencium Raka dalam-dalam sebelum kembali ke kamar suaminya. “Besok pagi… jangan lupa godain Kakak lagi ya.”
1492Please respect copyright.PENANA8HTIO9Qblu
Raka tersenyum lebar, tubuhnya masih penuh kepuasan dan ketegangan yang belum selesai. Godaan semakin kuat. Sentuhan tak sengaja telah berubah menjadi permainan yang disengaja. Nafsu terlarang ini baru saja dimulai, dan keduanya tahu, tak ada jalan kembali.
1492Please respect copyright.PENANAWftyZlxlTY
1492Please respect copyright.PENANA578JgL0KLV
1492Please respect copyright.PENANAjdm6NVoNL5


