Bab 1: Godaan Pertama di Rumah Besar
1731Please respect copyright.PENANAFMnFNiGrnR
Rumah dua lantai di pinggir kawasan elite Jakarta Selatan itu selalu terasa terlalu luas untuk empat orang yang tinggal di dalamnya. Pada sore hari seperti ini, sinar matahari yang mulai condong ke barat menyusup melalui jendela-jendela kaca besar, menerangi ruang tamu yang mewah dengan furnitur minimalis berwarna putih dan abu-abu. Raka Ardiansyah duduk di sofa panjang sambil memegang ponsel, tapi matanya tidak benar-benar fokus pada layar. Pikirannya melayang ke arah dapur yang terbuka, tempat kakak iparnya sedang bergerak dengan anggun.
1731Please respect copyright.PENANAl9Ez4zf5sc
Raka berusia dua puluh lima tahun. Tubuhnya atletis setinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter hasil rutin gym dan olahraga basket. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan senyum yang sering membuat wanita melirik dua kali. Tiga bulan lalu ia pindah ke rumah ini setelah apartemennya direnovasi. Dion, kakak iparnya yang berusia tiga puluh dua tahun, dengan senang hati menawarkan kamar kosong di lantai atas. “Rumah ini besar, Dek. Tinggal saja dulu,” kata Dion saat itu dengan nada ramah. Raka menerima tawaran itu tanpa banyak pikir. Ia tidak tahu bahwa keputusan itu akan mengubah segalanya.
1731Please respect copyright.PENANAbztXeOxnlu
Suara langkah kaki ringan terdengar. Renata Wijaya, atau yang biasa dipanggil Ren, muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi jus segar. Wanita itu berusia dua puluh sembilan tahun, tinggi seratus enam puluh lima sentimeter, dengan tubuh yang seolah diciptakan untuk menggoda. Payudaranya yang berukuran F-cup montok bergoyang pelan di balik tank top hitam tipis yang ia kenakan. Pinggulnya lebar dan menggoda, kulit putih mulusnya berkilau di bawah cahaya sore. Rambut hitam bergelombangnya tergerai sampai ke bahu, memberi kesan liar yang tersembunyi di balik senyum manis seorang istri.
1731Please respect copyright.PENANAWPqG29Lrgt
“Ini jus alpukat, Dek. Dingin loh,” kata Renata sambil meletakkan gelas di meja depan Raka. Saat membungkuk, garis leher tank topnya melonggar. Raka bisa melihat dengan jelas belahan dada yang dalam dan lembut. Aroma sabun mandi bunga yang masih menempel di kulit Renata menyeruak ke hidungnya, manis dan menggoda.
1731Please respect copyright.PENANAoAVmGqxHAG
“Terima kasih, Kak Ren,” jawab Raka dengan suara yang ia usahakan tetap tenang. Tapi matanya sulit berpaling. Renata menyadari itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum kecil yang penuh arti.
1731Please respect copyright.PENANAq63fTTZqII
Renata duduk di kursi single di seberang Raka, menyilangkan kaki. Rok pendek yang ia pakai naik sedikit, memperlihatkan paha mulus yang putih. “Dion lagi lembur lagi malam ini. Katanya meeting sampai larut. Kamu mau makan malam apa? Kakak masakin spesial deh.”
1731Please respect copyright.PENANAmodkBTJKgA
Suara Renata lembut, tapi ada nada genit yang terselip. Raka menelan ludah. Ia tahu kakak iparnya ini cantik sejak pertama kali bertemu, tapi sejak ia tinggal di sini, godaan itu semakin terang-terangan. Dion, suami Renata, adalah pria biasa saja dengan pekerjaan tinggi di perusahaan multinasional. Ia jarang di rumah, sering pulang larut dan kelelahan. Raka sering mendengar Renata mengeluh pelan di telepon dengan temannya, meski ia berpura-pura tidak mendengar.
1731Please respect copyright.PENANAThLPcHycpj
“Apa saja boleh, Kak. Kak Ren masak enak semua kok,” balas Raka sambil tersenyum. Matanya turun lagi ke dada Renata yang naik turun pelan saat bernapas.
1731Please respect copyright.PENANAUCBjnzxXoB
Renata tertawa kecil, suaranya seperti musik yang mengalun. Ia sengaja membungkuk lebih dalam saat mengambil remote televisi di meja, memberi Raka pemandangan yang lebih jelas. Putingnya yang menonjol samar terlihat di balik kain tipis. “Kamu semakin dewasa ya sekarang. Dulu kecil, sekarang badannya sudah kek gini. Pasti banyak cewek yang ngejar.”
1731Please respect copyright.PENANAPW58Uv0Wt4
“Belum ada yang serius, Kak,” jawab Raka. “Lagian… susah cari yang sebagus Kak Ren.”
1731Please respect copyright.PENANAllXFxH8rq8
Kata-kata itu keluar begitu saja. Udara di ruangan terasa lebih panas. Renata menggigit bibir bawahnya sebentar, matanya menyipit genit. “Jangan ngomong gitu. Kakak sudah punya suami loh.”
1731Please respect copyright.PENANAmrj5qWtvZY
Tapi nada suaranya tidak terdengar marah. Justru ada tantangan di dalamnya. Raka merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Nafsunya yang memang mudah tersulut mulai bangkit. Ia membayangkan bagaimana payudara montok itu terasa di tangannya, bagaimana pinggul lebar itu bergoyang di bawah tubuhnya. Tapi ia masih menahan diri. Ini kakak iparnya. Istri kakak ipar.
1731Please respect copyright.PENANAKRymAMy3BO
Malam semakin larut. Dion mengirim pesan bahwa ia baru akan pulang jam dua dini hari. Bu Mira, ibu Renata, yang tinggal di rumah terpisah di belakang, sudah tidur lebih awal. Laras, adik Raka yang sesekali mampir, belum datang hari itu. Hanya ada Raka dan Renata di rumah besar yang sunyi.
1731Please respect copyright.PENANAqRXEoOkgxj
Renata memutuskan memasak mie goreng spesial di dapur. Raka ikut membantu, berdiri di belakangnya saat Renata mencoba mengambil bumbu di rak atas. Tubuh Raka hampir menempel. Saat Renata meraih ke atas, pinggulnya mundur sedikit dan menyentuh bagian depan celana Raka.
1731Please respect copyright.PENANAKrJlZDUDAg
“Oh, maaf Dek…” bisik Renata, tapi ia tidak langsung menjauh. Raka bisa merasakan kehangatan tubuh wanita itu. Aroma rambutnya yang harum bercampur dengan bau masakan yang menggugah selera. kontol Raka mulai mengeras di balik celana pendeknya, menekan pelan ke pinggul Renata.
1731Please respect copyright.PENANA3xBux2ssAc
“Kak Ren… hati-hati,” gumam Raka dengan suara berat. Tangan kanannya secara refleks memegang pinggang Renata sebentar untuk menstabilkan. Kulit di bawah tank top itu panas dan halus.
1731Please respect copyright.PENANAE5FMaAGcdO
Renata menoleh, wajah mereka sangat dekat. Napasnya yang hangat menyentuh pipi Raka. “Kamu yang hati-hati, Dek. Kakak bisa salah paham kalau kamu pegang gitu.”
1731Please respect copyright.PENANAK8KSyvUKwx
Tapi mata Renata tidak menunjukkan penolakan. Justru ada kilau basah di sana, seperti memek yang sudah matang dan siap dibuka. Raka melepaskan tangannya dengan berat hati, tapi jarak di antara mereka tetap dekat. Sepanjang memasak, sentuhan “tak sengaja” terus terjadi. Lengan Raka menyapu payudara Renata saat mengambil piring, jari Renata menyentuh paha Raka saat mengambil sendok.
1731Please respect copyright.PENANAyPFrvYhVJx
Mereka makan berdua di meja makan. Cahaya lampu gantung menciptakan suasana intim. Renata makan dengan lambat, sesekali menjilat bibirnya yang penuh. “Enak nggak, Dek?”
1731Please respect copyright.PENANAj5m58r8M1L
“Enak banget, Kak. Semuanya enak,” jawab Raka, tatapannya jelas bukan hanya ke mie.
1731Please respect copyright.PENANAzzekzE3nJC
Renata tertawa pelan. “Kamu nakal ya sekarang. Dulu malu-malu. Sekarang berani ngeliatin Kakak terus.”
1731Please respect copyright.PENANAdbkM7lSPaJ
“Susah nggak ngeliatin, Kak. Kak Ren cantik banget. Dion beruntung sekali.”
1731Please respect copyright.PENANAKbEVVucQvF
Wajah Renata sedikit berubah. Senyumnya memudar sesaat. “Beruntung? Kadang Kakak merasa sebaliknya. Ia sibuk terus, pulang capek, langsung tidur. Kakak… kadang merasa sendirian di rumah ini.”
1731Please respect copyright.PENANA03oUCs98Ra
Suara itu penuh kerapuhan. Raka merasakan ada celah. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan Renata di atas meja. “Kalau Kak Ren butuh teman ngobrol, Raka selalu ada.”
1731Please respect copyright.PENANARYZoRl0RgY
Jari mereka saling bertautan sebentar. Renata tidak menarik tangannya. Malah ia membalas genggaman itu dengan lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Raka dengan gerakan melingkar yang sensual. “Kamu baik, Dek. Terlalu baik malah. Kakak takut… nanti kebablasan.”
1731Please respect copyright.PENANA56obiyECC7
Kata “kebablasan” itu menggantung di udara seperti janji. Raka merasakan denyut nadinya semakin kencang. Di bawah meja, kontolnya sudah sangat tegang, berdenyut minta perhatian. Renata seolah tahu. Matanya melirik ke bawah sebentar, lalu kembali ke wajah Raka dengan senyum kecil penuh rahasia.
1731Please respect copyright.PENANAhjXAn3Ze7b
Setelah makan, mereka pindah ke ruang keluarga menonton televisi. Renata duduk di sebelah Raka, cukup dekat hingga paha mereka bersentuhan. Film yang tayang adalah drama romantis dengan adegan panas. Renata menggeliat pelan, tank topnya naik sedikit memperlihatkan perut rata yang halus.
1731Please respect copyright.PENANA4kUm9kOA3L
“Panas ya malam ini,” gumam Renata. Ia menarik tali tank topnya sedikit ke bawah, semakin memperlihatkan belahan dada. Aroma tubuhnya semakin kuat di hidung Raka — campuran parfum mahal, keringat tipis, dan sesuatu yang manis, feminin.
1731Please respect copyright.PENANAZKLMX3CTuS
Raka tidak tahan lagi. “Kak Ren… kalau gini terus, Raka bisa nggak tahan loh.”
1731Please respect copyright.PENANAvoocnnvK0R
Renata menoleh, matanya setengah terpejam. “Nggak tahan kenapa? Cerita dong ke Kakak.”
1731Please respect copyright.PENANAPWEyfVdCC6
Suara itu manja dan penuh godaan. Raka merasakan seluruh tubuhnya panas. Tangan kanannya bergerak pelan, menyentuh paha Renata yang terbuka. Kulit itu lembut seperti sutra, hangat, dan sedikit lembab karena udara malam. Renata tidak menolak. Malah ia sedikit membuka kakinya, memberi akses lebih.
1731Please respect copyright.PENANAYjH8AE44bQ
Jari Raka naik perlahan, merasakan getaran kecil di paha wanita itu. “Kak Ren… memek Kakak pasti sudah basah ya sekarang.”
1731Please respect copyright.PENANAtQVQgmTVIE
Renata menggigit bibir, napasnya mulai memburu. “Nakal sekali adik ipar Kakak ini. Jangan bicara kotor… tapi… iya, sudah agak basah. Karena kamu.”
1731Please respect copyright.PENANAEpVJqV60cM
Pengakuan itu seperti bensin di api. Raka ingin langsung menarik Renata ke pangkuannya, tapi ia menahan diri. Ini baru permulaan. Ia ingin godaan ini berlangsung lama, membuat kakak iparnya semakin gatal dan menginginkan dirinya.
1731Please respect copyright.PENANAPoLPsxm03Z
Tangan Renata bergerak ke paha Raka, menyentuh dekat sekali dengan kontol yang sudah sangat keras. “Kamu juga sudah besar sekali di sini. Kakak bisa merasakan panasnya.”
1731Please respect copyright.PENANAfWGB4o9Ogu
Mereka saling menatap. Udara penuh ketegangan seksual. Suara televisi menjadi latar belakang yang tak penting. Hanya ada napas mereka yang semakin berat, sentuhan tangan yang semakin berani, dan tatapan yang penuh nafsu terlarang.
1731Please respect copyright.PENANAkaRBa9S3d2
Renata akhirnya berdiri perlahan. “Kakak mau mandi dulu. Kamu jangan nakal ya, Dek.” Tapi sebelum pergi, ia sengaja membungkuk di depan Raka, memberi pemandangan sempurna payudara montoknya yang hampir tumpah. “Atau… mau ikut mandi bareng?”
1731Please respect copyright.PENANAidlakIW4fa
Pertanyaan itu dibiarkan menggantung. Renata berjalan ke kamar mandi dengan pinggul bergoyang menggoda. Raka duduk diam, kontolnya berdenyut hebat, pikirannya penuh bayangan tentang memek kakak iparnya yang basah dan siap.
1731Please respect copyright.PENANAghOBw4YzVT
Malam itu baru permulaan. Godaan pertama telah dinyalakan, dan api nafsu terlarang mulai membakar rumah besar yang seharusnya damai ini.
1731Please respect copyright.PENANAMzJXirykfv
1731Please respect copyright.PENANAfil1LKYNEY
1731Please respect copyright.PENANANx01DPdIjz


