Bab 3: Malam di Dapur
1620Please respect copyright.PENANAYiRDzrrtWl
Jam menunjukkan pukul 01.47 dini hari. Rumah besar itu sunyi senyap, hanya ditinggalkan suara AC yang berhembus pelan dan menangkap jam dinding di ruang tamu. Dion sudah pulang sejak pukul dua belas malam, langsung mandi cepat dan jatuh tertidur lelap di kamar utama lantai atas. Bu Mira di rumah belakang juga sudah terlelap. Laras tidak mampir pada hari itu. Hanya ada Raka dan Renata yang masih terjaga, gairah mereka berdua sudah mencapai titik didih sejak malam sebelumnya.
1620Please respect copyright.PENANAGGQjOzOCQY
Raka turun ke dapur karena haus. Ia hanya memakai celana pendek hitam longgar tanpa kaos, dada atletisnya terpapar. Begitu tiba di dapur yang temaram, hanya diterangi lampu bawah kabinet yang kuning lembut, ia melihat Renata sudah ada di sana. Wanita itu berdiri membelakangi pintu, hanya mengenakan kemeja oversized milik Dion yang panjangnya sampai tengah paha. Rambut hitam bergelombangnya terurai acak-acakan, memberi kesan baru bangun tidur yang sangat menggoda.
1620Please respect copyright.PENANAM4YQRU50UW
Renata membungkuk mengambil botol air dingin dari kulkas. Kemeja itu naik tinggi, menampilkan bokong montoknya yang hanya tertutup celana dalam tipis berwarna hitam. Garis celah bokongnya jelas terlihat. Raka berhenti di ambang pintu, tititnya langsung menikmati pemandangan itu.
1620Please respect copyright.PENANAK0gxwiMHjT
“Kak Ren juga tidak bisa tidur?” tanya Raka dengan suara rendah.
1620Please respect copyright.PENANAodlbpMskPo
Renata menoleh, tersenyum genit meski ada bayangan gelisah di matanya. “Kakak haus… dan gatal. Kamu bikin Kakak nggak tenang semalaman, Dek.”
1620Please respect copyright.PENANA3R81hUes0q
Raka mendekat. Tubuhnya menempel di belakang Renata. Ia merangkul pinggang wanita itu dari belakang, mencium tengkuknya yang harum. Aroma tubuh Renata yang manis bercampur sedikit keringat malam langsung memabukkan. “memek Kakak masih basah ya dari tadi sore?”
1620Please respect copyright.PENANAgYrVsmf3sk
Renata mendesah pelan saat bibir Raka menyentuh kulitnya. “Basah banget… bahkan sampai sekarang. Kakak sudah ganti celana dalam dua kali.”
1620Please respect copyright.PENANA7ynPxeO9gx
Tangan Raka menjulang ke bawah, mengangkat ujung kemeja Renata. Jari-jarinya menyentuh celana dalam yang sudah lembab. Ia mengusap perlahan di atas kain, merasakan panas dan kelembaban yang luar biasa. Renata menggigit bibir, pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan jari Raka.
1620Please respect copyright.PENANAM5sxH1KFO5
“Kita di sini saja… Dion tidur nyenyak di atas,” bisik Renata, suaranya sudah bergetar karena nafsu. “Tapi pelan-pelan ya, Dek. Jangan sampai ada suara.”
1620Please respect copyright.PENANArh8jyepKSJ
Raka membalik tubuh Renata menghadapnya. Mereka berciuman dengan lapar. Lidah mereka saling menari, saling hisap, suara kecupan basah memenuhi dapur yang sepi. Tangan Raka membuka kancing kemeja Renata satu per satu. Payudara F-cup montok itu melompat keluar, puting-putingnya sudah mengeras tegak. Raka langsung menunduk, menghisap salah satu puting dengan rakus.
1620Please respect copyright.PENANA2OiPNsdsnl
“Ahh…pelan, Dek…enak sekali,” desah Renata. Tangannya memegang kepala Raka, menekannya lebih dalam ke dada. Raka bergantian menghisap kedua puting itu, lidahnya berputar di sekitar puncak yang sensitif, sesekali menggigit lembut hingga Renata menggelinjang.
1620Please respect copyright.PENANAGr4cG4hzRm
Sambil menghisap, tangan Raka turun ke celana dalam Renata. Ia menariknya ke bawah hingga jatuh ke lantai. memek Renata kini telanjang, sudah banjir sperma. Cairan bening kental menetes perlahan ke lantai keramik. Aroma khas kenikmatan wanita memenuhi udara dapur.
1620Please respect copyright.PENANAgV5wLpZE35
Raka mengangkat Renata ke meja dapur yang dingin. Wanita itu duduk dengan kaki terbuka lebar. Raka berlutut di depannya, wajahnya tepat di depan memek yang merah basah. kristoriskecilnya sudah membengkak besar, berdenyut minta perhatian.
1620Please respect copyright.PENANAnHGyhj5tWe
“Wangi sekali memek Kak Ren,” puji Raka sebelum menjulurkan lidahnya. Ia menjilat perlahan dari bawah ke atas, menikmati rasa asin-manis yang kental. Renata menekan mulutnya sendiri dengan tangan agar tidak berteriak.
1620Please respect copyright.PENANAVdYhCaBsE5
"Lidahmu… ahh! Jilat kristoris… hisap… ya seperti itu!"
1620Please respect copyright.PENANA76rowl6ccP
Raka menghisap kristorisitu dengan kuat, lidahnya berputar cepat. Dua berkisar masuk ke lubang memek yang sempit dan panas, berputar dengan irama stabil. Suara squish-squish cairan terdengar jelas di dapur yang sunyi. Tubuh Renata gemetar hebat, naik turun dengan cepat. Kakinya menjepit kepala Raka, tumitnya menekan punggung adik iparnya.
1620Please respect copyright.PENANAqwG2kOq7cg
“Kakak mau keluar… jangan berhenti… Raka… ahhh!”
1620Please respect copyright.PENANAZPpxgTJQUY
Renata orgasme pertama. memeknya berdenyut kuat di jari Raka, cairan bening menyembur kecil ke mulut Raka. Tubuhnya mengejang, udara mata kenikmatan mengalir di sudut matanya. Raka terus menjilat hingga gelombang itu mereda, lalu berdiri dan mencium Renata agar ia merasakan sendiri rasanya.
1620Please respect copyright.PENANAZQVioUglTg
“Kak Ren enak banget,” bisik Raka. tititnya sudah sangat tegang, kepalanya mengkilap basah oleh precum.
1620Please respect copyright.PENANAUKBJTZW7HA
Renata menatap titit itu dengan mata lapar. Ia turun dari meja, berlutut di lantai dapur, dan langsung menyambut batang tebal itu ke dalam mulut. “Gede… panas… Kakak suka,” gumamnya sebelum menghisap dalam-dalam. Suara gluck… gluck… basah dan mesum menggemuruh. Renata menghisap dengan lihai, lidahnya menjilat urat-urat tebal, sesekali menelan sampai pangkal.
1620Please respect copyright.PENANAGEStzgVW2F
Raka memegang rambut Renata, pinggulnya maju mundur pelan. “Mulut Kakak enak sekali… seperti memek yang panas. Raka mau masuk ke memek Kakak sekarang.”
1620Please respect copyright.PENANAc8OWD0o1H6
Renata mendongak, matanya berkaca-kaca. “Masukin, Dek… tapi pelan dulu. tititmu terlalu besar. Kakak takut sakit tapi juga sangat ingin.”
1620Please respect copyright.PENANA7fmZFsWlsU
Raka mengangkat Renata kembali ke meja dapur. Ia membuka kaki wanita itu lebar-lebar, ujung tititnya menggesek-gesek bibir memek yang licin. Sensasi panas dan basah membuat keduanya mendesah bersamaan. Raka mendorong dengan pelan. Kepala titit masuk, meregang dinding memek Renata yang sudah lama tidak merasakan ukuran sebesar ini.
1620Please respect copyright.PENANAAKw1ICtnh9
“Ahh! Besar sekali…pelan, Dek…pelan…” Renata mencengkeram bahu Raka. Wajahnya campur aduk antara sakit dan kenikmatan. Keringat mulai membasahi dahi dan bagian dada.
1620Please respect copyright.PENANAGNDA6O64DB
Raka mendorong lebih dalam, senti demi senti. memek Renata sangat sempit, panas seperti oven, dan berdenyut hebat di sekitar tititnya. “Kak Ren… memek Kakak sangat enak… erat banget… basah banget…”
1620Please respect copyright.PENANAylN9PjqTqi
Setelah setengah batang masuk, Raka berhenti sebentar memberi waktu Renata menyesuaikan. Mereka berciuman lagi, lidah saling hisap untuk mengalihkan sensasi. Lalu Raka mendorong hingga pangkal. tititnya tertelan sepenuhnya oleh memek Renata.
1620Please respect copyright.PENANAMv62N1nKSH
“Ya Tuhan… penuh sekali… Kakak merasa sangat penuh,” erang Renata. Air matanya jatuh. Perutnya terasa kembung karena tekanan titit yang besar. Raka mulai bergerak pelan, keluar masuk dengan irama yang terkontrol. Suara plok-plok basah mulai terdengar setiap kali pangkal titit bertemu bibir memek.
1620Please respect copyright.PENANAb0ysxB2aFg
Lambat meluncurkan gerakan semakin cepat. Renata mulai menikmati. Pinggulnya bergerak maju menyambut setiap tusukan. “Lebih keras, Dek… Kakak sudah biasa… tusuk memek Kakak yang gatal ini!”
1620Please respect copyright.PENANA4b898iJqnG
Raka memegang pinggul lebar Renata, menghantam lebih kuat. Meja dapur bergoyang pelan. Payudara Renata bergoyang-goyang pembohong mengikuti irama. Raka menunduk, menghisap puting-putingnya sambil terus menusuk ke dalam.
1620Please respect copyright.PENANAxUqK6egJLu
“Kak Ren milik Raka sekarang… memek ini cuma buat titit Raka,” desis Raka kasar.
1620Please respect copyright.PENANA2d6dVeF4Es
"Iya… iya… Kakak milikmu… ahh! Lebih dalam… di situ! Titik G Kakak… ya di situ!"
1620Please respect copyright.PENANAqGuiPWY1qE
Renata orgasme kedua. memeknya berdenyut hebat, menyemburkan cairan bening yang membasahi titit Raka dan lantai dapur. Kakinya gemetar tak terkendali, tubuhnya mengejang kuat. Raka terus menghantam selama orgasme itu, memperpanjang kenikmatan.
1620Please respect copyright.PENANAGwxcYnVdMi
Ia membalikkan posisi Renata. Sekarang wanita itu berbaring di meja dapur, bokong montoknya terangkat tinggi. Raka memasukinya dari belakang dengan satu hantaman kuat. Posisi ini membuat penetrasi lebih dalam. Renata menangis kenikmatan, tangannya mencengkeram pinggir meja.
1620Please respect copyright.PENANAozP1zonMhe
“Kasar… pukul pantat Kakak… ya!”
1620Please respect copyright.PENANAQ2cCfg7tXj
Plak! Plak! Plak!
1620Please respect copyright.PENANA1CZ6YWsAri
Suara imajinasi tangan Raka di bokong Renata menggema. Kulit putihnya memerah meninggalkan bekas telapak tangan. Raka semakin pembohong, satu tangannya meraih rambut Renata, menariknya ke belakang seperti kendali. Tusukan semakin cepat dan kuat.
1620Please respect copyright.PENANAK49DAaEFdR
“Kak Ren muncrat lagi… Raka rasain… keluar lagi!”
1620Please respect copyright.PENANA7PKHR76PUL
Renata orgasme ketiga yang lebih hebat. Kali ini cairannya menyembur cukup deras, membasahi paha mereka berdua. Tubuhnya hampir ambruk, tapi Raka memeluknya dari belakang dan terus menusuk.
1620Please respect copyright.PENANADXsiFS57WH
“Aku mau keluar di dalam, Kak…boleh?” tanya Raka dengan suara parau.
1620Please respect copyright.PENANAuq4J2iSfWg
“Keluarin… isi memek Kakak… kasih sperma panas adik ipar… Kakak mau penuh!”
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah 1620Please respect copyright.PENANA0N4QaaAHTd
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah
1620Please respect copyright.PENANAA0bReYpk2n


