Merisa menutup pintu kamarnya pelan, tubuhnya terasa berat setelah seharian mengurus toko dan menghadapi drama dengan Layra tadi siang.
718Please respect copyright.PENANA9JCKtDcaod
718Please respect copyright.PENANAzOAU1QeOJe
Ia melepas dress yang dikenakannya, berdiri di depan cermin hanya dengan bra dan celana dalam.
718Please respect copyright.PENANAlpUYHpEOo9
Bayangan wajah Hardian dan Layra masih mengganggu, tapi kali ini ada sedikit kelegaan.
718Please respect copyright.PENANAFfgn7vrsNM
Sebab pamannya berjanji akan mengurus semuanya.
718Please respect copyright.PENANAPgdG3AGMri
Di lantai bawah, Rianti selesai membersihkan diri di kamar mandi tamu.
718Please respect copyright.PENANAy8nMZCmX1H
718Please respect copyright.PENANAw79IqpK3rQ
Ia mengenakan daster longgar yang tipis, rambutnya masih agak basah. Pikirannya melayang ke sesi panas tadi sore dengan Dirwan.
718Please respect copyright.PENANALjVzZZTvyo
Tubuhnya masih terasa sensitif, setiap gerakan mengingatkannya pada sentuhan pria itu.
718Please respect copyright.PENANAoyvTaOpoTM
718Please respect copyright.PENANAR2N9M9biL0
Ia tersenyum kecil sambil menyentuh perutnya, merasakan sisa kehangatan di dalam sana.
718Please respect copyright.PENANAwirKunE0Jl
718Please respect copyright.PENANAK0vQTyBcyK
Singkat cerita.
718Please respect copyright.PENANArEBqhk8d69
718Please respect copyright.PENANA2aAHJiGLqw
Malam pun mulai larut. Dita sudah tertidur di kamarnya setelah mandi dan makan malam ringan bersama yang lain.
718Please respect copyright.PENANAPaDCXzKad3
Rumah terasa sepi, hanya ada suara AC dan sesekali kendaraan lewat di luar.
718Please respect copyright.PENANAPzF37n7w4n
Merisa turun ke lantai bawah untuk minum air. Ia melihat Mamanya. Rianti, duduk di sofa ruang keluarga, menonton TV dengan volume rendah.
718Please respect copyright.PENANAI6EVBbZjwW
“Ma, belum tidur?” tanya Merisa sambil menuang air dingin.
718Please respect copyright.PENANAt0Hab7NRZ0
Rianti menoleh, senyumnya lembut seperti biasa. “Belum, Mama belum ngantuk. Duduk sini dulu, cerita hari ini gimana.”
718Please respect copyright.PENANAjgvxDxESaW
Merisa mendekat, duduk di sebelah ibu tirinya. Mereka berbincang pelan tentang toko, pekerjaan, dan sedikit tentang pertemuan keluarga kemarin.
718Please respect copyright.PENANA3RYHYRESI9
718Please respect copyright.PENANAVuAAwgO4F0
Merisa tidak menceritakan detail konfrontasi dengan Layra di toko, ia tidak ingin Mama nya khawatir lebih dalam.
718Please respect copyright.PENANAEu9n2d47HP
718Please respect copyright.PENANAMDcCQxkxlC
Bu Rianti mendengarkan sambil sesekali mengelus lengan Merisa, naluri keibuannya selalu muncul di saat seperti ini.
718Please respect copyright.PENANATCcJU5xKN1
Tak lama, ponsel Merisa bergetar. Tertera nomor tak dikenal disana. Ia sejenak ragu-ragu mengangkat, tapi akhirnya menjawab.
718Please respect copyright.PENANAmUihtlwkYF
Suara di seberang adalah pengacara yang disebutkan Dirwan. Mereka membahas langkah awal perceraian, dokumen yang dibutuhkan, dan jadwal pertemuan besok.
718Please respect copyright.PENANA4117tu0rFH
718Please respect copyright.PENANADI2UVbUDr2
Merisa mendengarkan dengan jantung berdegup kencang. Ini nyata.
718Please respect copyright.PENANAY7FfTVLdaQ
718Please respect copyright.PENANAelqeKTXEih
Bu Rianti memperhatikan ekspresi putrinya berubah. Setelah telepon itu ditutup, ia bertanya pelan,
718Please respect copyright.PENANAE8XTCHZSkU
“Itu soal perceraian ya?”
718Please respect copyright.PENANATzBzOkm6dA
Merisa mengangguk. “Paman sudah mulainya. Besok aku ketemu pengacara.”
718Please respect copyright.PENANAvsYda1V3oR
718Please respect copyright.PENANAM5lgl88XTr
Rianti memeluknya singkat. “Apapun keputusanmu, Mama dukung. Kamu pantas dapat yang lebih baik.”
718Please respect copyright.PENANA2ndJ4GXbDK
718Please respect copyright.PENANADBMhfOr5c2
Malam itu Merisa tidur dengan pikiran campur aduk. Sementara di tempat lain, Dirwan berada di ruang kerjanya yang gelap.
718Please respect copyright.PENANAHJsECQJ5WD
Layar laptop menampilkan laporan dari anak buahnya.
718Please respect copyright.PENANA2HZdHPCvwr
Pengawasan terhadap keluarga Kusuma berjalan ketat. Ia juga memantau gerak-gerik Hardian dan Layra.
718Please respect copyright.PENANAovKOzOeQQQ
Senyum tipis muncul di wajahnya saat membaca laporan bahwa Layra mendatangi toko Merisa tadi.
718Please respect copyright.PENANAUC6GyxhE6a
“Berani sekali dia.” gumamnya.
718Please respect copyright.PENANAfR5b5PTb4e
718Please respect copyright.PENANAD9GcS4pAzB
Keesokan paginya.
718Please respect copyright.PENANAHxrIW7JYT0
Rutinitas rumah berjalan seperti biasa. Dita berangkat sekolah lebih awal karena ada kegiatan ekstrakurikuler.
718Please respect copyright.PENANAOU6ORFQYey
Merisa bersiap untuk bertemu pengacara. Bu Rianti membantu menyiapkan sarapan, tapi matanya sesekali melirik jam.
718Please respect copyright.PENANAoy0RwMbnwB
Dia mengingat jika Dirwan bilang mungkin mampir lagi hari ini.
718Please respect copyright.PENANAvIrAh8kRhL
Merisa berangkat dengan mobilnya. Di perjalanan, ia menerima pesan dari Dirwan.
718Please respect copyright.PENANAzKfdBkDonk
“Paman tunggu di kafe dekat kantor pengacara. Kita bicara dulu.”
718Please respect copyright.PENANAZ1HpB0xBzs
Hati Merisa hangat. Kehadiran pamannya selama ini seperti benteng yang tak terduga.
718Please respect copyright.PENANA8jYk7eulOy
718Please respect copyright.PENANArWbF0iOmJi
Sesampainya di kafe, Dirwan sudah duduk di pojok dengan setelan jas rapi.
718Please respect copyright.PENANAauJqKafbcC
Wajahnya tenang, tapi aura ketegasan dan wibawanya terasa. Mereka berbincang tentang strategi perceraian.
718Please respect copyright.PENANA4D5F3hoyw6
718Please respect copyright.PENANAyJrVEbXtFA
Dirwan menjelaskan bahwa bukti perselingkuhan Hardian sudah lengkap, termasuk saksi dan rekaman.
718Please respect copyright.PENANAcmK7mxuJMD
Merisa mendengarkan tanpa banyak bicara, ia hanya mengangguk sesekali.
718Please respect copyright.PENANAMfJiOV1on2
718Please respect copyright.PENANAcV2fkUeEd5
“Risa, kamu tidak perlu takut. Semua urusan hukum dan bisnis sudah paman atur,” kata Dirwan sambil menatapnya dalam.
718Please respect copyright.PENANAqtkwNE3XGF
Tatapan itu membuat Merisa sedikit gelisah, tapi ia merasa aman. Ia merasa jantungnya berdegup kencang saat melihat dia kontak mata dengan pamannya.
718Please respect copyright.PENANAb2xVnUPa8J
718Please respect copyright.PENANAO7t3nZmGMB
Setelah pertemuan dengan pengacara yang berjalan lancar, Merisa pulang dengan perasaan lebih ringan.
718Please respect copyright.PENANAgti3JZvjQD
718Please respect copyright.PENANA9MlvSQrC2v
Sementara itu, di rumah, Bu Rianti sedang membersihkan kamar utama.
718Please respect copyright.PENANA3yeZz9Ui2d
Tak lama ponselnya bergetar. Pesan dari Dirwan. “Aku datang sore ini. Siapkan seperti kemarin.”
718Please respect copyright.PENANAifWJfyHsZ6
718Please respect copyright.PENANAzurOb4cEC9
Bu Rianti tersipu. Ia segera menyiapkan kamar, mengganti seprai, menyalakan aromaterapi, dan memilih lingerie hitam yang lebih seksi dari kemarin.
718Please respect copyright.PENANAeIyfXm1ukq
Tubuhnya sudah mulai bereaksi hanya dengan membayangkan sentuhan Dirwan.
718Please respect copyright.PENANApyRik3A39Q
718Please respect copyright.PENANAmgnpj25vZU
Sore menjelang. Dirwan tiba tepat saat Merisa sedang mandi di lantai atas.
718Please respect copyright.PENANAiOTbLIZeoP
Bu Rianti menyambutnya di pintu dengan daster tipis yang hampir transparan.
718Please respect copyright.PENANApJRWrwhzfz
Tanpa banyak kata, Dirwan menariknya masuk dan mengunci pintu. Mereka langsung berciuman panas di ruang tamu.
718Please respect copyright.PENANAXCRTBJfz3R
Tangan Dirwan menyusup ke dalam daster, meremas payudara Rianti yang sudah mengeras putingnya.
718Please respect copyright.PENANAwqxl3FKAXH
718Please respect copyright.PENANA8iLjmEDVki
“Uhh… mas, pelan dulu… Merisa di atas,” desah Rianti di sela ciuman, tapi pinggulnya justru mendesak ke depan.
718Please respect copyright.PENANA5n1JTORJRG
718Please respect copyright.PENANA4uNGXZ1VhB
Dirwan tidak menjawab dengan kata. Ia mengangkat Rianti ke meja makan, membuka lebar pahanya, dan langsung menunduk.
718Please respect copyright.PENANA15nVvpsCKo
718Please respect copyright.PENANA94YQFN81nQ
Lidahnya menjilati celah basah itu dengan rakus. Bu Rianti menutup mulutnya sendiri agar tak berteriak.
718Please respect copyright.PENANAmqSwyYWmYa
“Aahh… sshh… enak mas…” Tubuhnya menggeliat, cairan sudah mengalir deras.
718Please respect copyright.PENANAnRReh8POB3
Mereka pindah ke kamar tamu lantai bawah agar lebih aman.
718Please respect copyright.PENANAiDSDKWodQh
Kelanjutanya bisa kalian temukan di lin!k bawah 👇👇 ini
https://bit.ly/42zj3qJ718Please respect copyright.PENANA0H5xm3z2aP


