Pagi itu cahaya matahari menyusup lembut melalui celah gorden kamar tamu yang masih tertutup rapat. Sintya terbangun perlahan dengan tubuh yang masih terasa panas dan lengket. Malam tadi dia colmek gila-gilaan sampai muncrat berkali-kali sambil mendengar suara Indra dan Lisa ngentot di kamar sebelah. Memeknya masih terasa agak bengkak, bibir memeknya sensitif sekali, dan sprei di bawah pantatnya basah oleh cairan kenikmatannya sendiri. Bau amis manis khas memek basah masih tercium samar.
“Gila… baru dengar suara kontol ipar aja aku udah segini sange,” gumam Sintya sambil menggeliat di ranjang king size yang empuk. Payudaranya yang besar bergoyang pelan di balik daster tipis yang acak-acakan. Putingnya sudah mengeras lagi hanya karena mengingat bayangan tubuh Indra.
Tangan kanannya turun dengan sendirinya ke selangkangan. Memeknya sudah basah lagi. Licin sekali. Klitorisnya membengkak, haus sentuhan. Sintya memejamkan mata, membuka kaki lebar-lebar, lalu memasukkan dua jari langsung ke lubang memeknya yang panas dan basah.
“Ahh… Indra…” desahnya pelan.
Jarinya bergerak masuk keluar perlahan dulu, menikmati sensasi dinding memek yang menggigit jari. Dia bayangkan kontol Indra yang pasti tebal dan panjang, kepala kontolnya besar, urat-urat menonjol, masuk pelan-pelan ke memeknya. “Kontolmu pasti gede banget ya Indra… lebih gede dari kontol mantan suami brengsek itu,” pikirnya sambil nambah gerakan.
Tiga jari sekarang. Bunyi “slurp… slurp…” mesum terdengar dari memeknya yang semakin banjir. Tangan kirinya meremas payudara kanannya keras-keras, cubit putingnya sampai sakit enak. Sintya mulai goyang pinggulnya mengikuti irama jari, bayangin Indra lagi ngentot dia di posisi missionary, dada bidangnya menindih payudaranya, kontolnya menghantam dalam-dalam.
“Ngghh… dalem Indra… entot kakak ipar lu… memek aku lebih enak kan dari memek Lisa?” bisik Sintya kotor sambil gerakan jari semakin cepat. Bayangan keringat Indra menetes ke tubuhnya, bau tubuh pria dewasa yang maskulin, suara desahannya yang berat — semua bikin Sintya semakin gila.
Orgasme pertama pagi itu datang cepat. Tubuh Sintya menegang, memeknya kejang-kejang di sekitar jari-jarinya. Cairan bening muncrat keluar sedikit, membasahi telapak tangan dan sprei. “Ahh… muncrat… Indraaa…” desahnya sambil gigit bibir kuat-kuat biar tidak jerit keras.
Tapi belum cukup. Sintya balik posisi nungging, pantat bulatnya terangkat tinggi, wajah ditenggelamkan di bantal. Tangan kanannya colmek dari belakang seperti lagi dientot doggy. Bayangan Indra berdiri di belakangnya, tangan memegang pinggulnya kuat, kontol tebalnya menghantam pantatnya sampai bunyi plak-plak.
“Iya… gitu Indra… hantamin kontol ipar… keras… aku mau muncrat lagi!” Sintya gerakkan pinggul maju mundur sambil jari keluar masuk cepat. Memeknya sudah sangat basah, cairan menetes ke ranjang. Orgasme kedua datang lebih keras. Tubuhnya gemetar hebat, memeknya menyembur cairan lebih banyak, squirting kecil yang membasahi paha dan sprei. Sintya ambruk ke ranjang, napas tersengal, tubuh berkeringat.
Dia berbaring beberapa menit, menikmati sisa denyutan di memeknya. “Hari ini aku harus mulai godain dia lebih berani,” pikirnya sambil tersenyum nakal.
Sintya mandi lama. Air hangat mengalir di tubuh seksi. Dia gosok memeknya pelan-pelan dengan sabun, bayangin lidah Indra yang menjilat klitorisnya. Setelah mandi, dia sengaja pakai daster rumah putih tipis yang paling pendek. Tanpa bra, tanpa celana dalam. Payudaranya yang besar dan kencang bergoyang bebas, puting coklat muda samar terlihat. Kalau dia membungkuk, pantat montok dan memeknya hampir kelihatan semua.
Dia turun ke lantai bawah. Bau kopi dan suara napas berat terdengar dari ruang tamu. Sintya mengintip dari balik tangga.
Indra sedang workout serius. Kaosnya sudah dilepas, hanya pakai celana pendek olahraga hitam tipis yang sudah basah keringat. Badannya… ya Tuhan. Dada bidang berotot, perut sixpack yang terukir sempurna, lengan besar dengan urat-urat menonjol, bahu lebar, punggung V-shape. Keringat mengalir deras dari leher, turun ke dada, melewati perut, dan hilang di garis V yang dalam menuju selangkangan. Celana pendeknya menempel ketat di paha berotot, dan di bagian kontol terlihat tonjolan jelas. Kontol Indra sepertinya lagi setengah tegang karena gerakan push-up dan sit-up yang intens.
Sintya berdiri diam, memeknya langsung banjir lagi. Cairan hangat mengalir pelan di paha dalamnya. “Kontolnya… kelihatan gede banget. Pasti tebal, panjang, dan tahan lama. Aku mau jilat keringat di perutnya itu,” pikirnya sambil menelan ludah.
Indra tidak sadar. Dia lanjut pull-up di bar besi. Otot lengan dan punggungnya menegang maksimal, keringat terbang saat dia naik turun. Sintya merasa lututnya lemas. Memeknya berdenyut-denyut haus.
Akhirnya Sintya turun dengan langkah pelan. “Pagi Indra… workout pagi ya? Keren banget badannya,” sapanya dengan suara manis tapi agak menggoda.
Indra turun dari bar, napasnya ngos-ngosan. Matanya langsung tertuju ke dada Sintya yang bergoyang-goyang saat dia berjalan mendekat. Putingnya yang mengeras jelas menusuk kain daster tipis. “Pagi Kak Sintya. Iya, biar badan tetap fit. Lisa masih tidur di atas.”
“Wah, pasti Lisa senang banget punya suami seksi kayak kamu,” kata Sintya sambil tersenyum, mata melirik ke tonjolan kontol Indra yang semakin jelas. “Aku bantu siapin sarapan ya. Kamu lanjut aja workoutnya.”
Sintya masuk dapur, sengaja membungkuk dalam-dalam mengambil wajan dari lemari bawah. Daster tipisnya naik tinggi sekali. Pantat bulat montoknya terpampang sempurna di depan Indra. Celah pantat halus, bibir memeknya yang sudah basah dan mengkilap sedikit terlihat. Indra langsung tersedak, kontolnya ngaceng keras di balik celana pendek. Tonjolan besar dan tebal terlihat jelas, hampir menyentuh kain.
“Kak… hati-hati dong,” kata Indra dengan suara parau, susah menelan ludah.
Sintya bangun pelan, pura-pura kaget sambil memegang dada. Payudaranya bergoyang liar. “Eh maaf ya Indra. Kebiasaan aja di rumah sendiri dulu. Santai gini. Kamu ga apa-apa kan?”
Indra gelagapan, tangan mencoba nutupin kontolnya yang ngaceng. “Ga… ga apa-apa Kak.”
Sintya tersenyum dalam hati. Dia sengaja berdiri sangat dekat saat menggoreng telur. Tubuhnya hampir nempel ke punggung Indra yang masih basah keringat. Bau tubuh pria itu — campuran keringat segar dan sabun — membuat memek Sintya semakin banjir. Saat meraih garam, dadanya sengaja menyenggol lengan Indra. Puting kerasnya terasa jelas.
Sarapan siap. Lisa turun tak lama kemudian, masih mengantuk. Mereka bertiga duduk di meja makan. Sintya duduk persis di sebelah Indra. Di bawah meja, kakinya yang halus sengaja menggesek pelan paha Indra. Indra tegang, kontolnya masih setengah tegang. Lisa cerita tentang jadwal kerja hari ini yang padat, tidak sadar ketegangan di antara kakak dan suaminya.
“Indra, kamu mau kopi lagi?” tanya Sintya sambil membungkuk ke depan saat menuang kopi. Belahan dada besarnya hampir terlihat semua dari sudut pandang Indra.
Indra hanya bisa mengangguk, suaranya hampir hilang.
Setelah sarapan, Lisa berangkat kerja dengan mobil. Rumah tinggal Sintya dan Indra berdua. Indra bilang mau kerja di ruang kerjanya di lantai atas. Sintya bilang mau bersih-bersih rumah.
Begitu Lisa pergi, Sintya langsung naik ke kamar tamu. Nafsunya sudah tidak tertahankan. Dia tidur telentang di ranjang, daster diangkat sampai perut, kaki dibuka lebar-lebar seperti mau dientot.
“Indra… badanmu tadi… keringatmu… kontolmu yang ngaceng…” desahnya sambil memasukkan tiga jari langsung ke memeknya yang sudah sangat basah. Gerakannya cepat dan kasar. Bunyi mesum “slurp slurp” memenuhi kamar. Tangan satunya meremas payudara, cubit puting bergantian.
Dia bayangkan Indra masuk ke kamar sekarang, kontol tebalnya sudah ngaceng keras, lalu langsung ngentot dia tanpa banyak bicara. “Ngentot aku Indra… kakak ipar lu yang sange ini… memek aku lebih basah dari memek adik ku!”
Sintya colmek semakin gila. Empat jari sekarang, menggosok G-spot dengan kuat. Pinggulnya goyang liar. Orgasme ketiga pagi itu datang dahsyat. Memeknya squirting cukup deras, cairan menyembur ke udara dan membasahi ranjang. Tubuhnya kejang-kejang lama, mata berkunang-kunang, mulut terbuka tanpa suara.
Dia ambruk, napas tersengal-sengal. Tapi masih belum puas sepenuhnya. Dia tahu godaan hari ini baru permulaan. Malam nanti atau besok, dia akan lebih berani lagi.
Siang harinya Sintya bawa kopi ke ruang kerja Indra. Daster masih sama tipisnya. Saat meletakkan kopi di meja, dia sengaja membungkuk lama, pantatnya hampir menyentuh wajah Indra. Indra susah fokus kerja, kontolnya ngaceng lagi di balik meja.
“Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya Indra sayang…” kata Sintya sambil mengedipkan mata sebelum keluar.
Dia tahu, permainan baru saja dimulai. Dan dia akan menang.
ns216.73.216.208da2


