Pagi itu rumah terasa sepi setelah Lisa berangkat kerja lebih pagi. Indra sudah selesai workout dan mandi, sekarang duduk di meja dapur sambil minum kopi hitam. Tubuhnya masih agak basah, kaos ketat membalut dada bidang dan perut sixpack-nya. Celana pendeknya longgar, tapi tonjolan kontolnya yang besar masih samar terlihat karena pagi tadi dia sempat terangsang melihat Sintya di tangga.
Sintya turun dari kamar tamu dengan daster tipis yang sama seperti kemarin — putih, pendek, tanpa bra, tanpa celana dalam. Payudaranya yang besar bergoyang pelan setiap langkah. Memeknya sudah basah sejak bangun tadi, karena mimpi basah tentang kontol Indra. Dia sengaja berjalan pelan, pinggul bergoyang, seolah tidak tahu ada orang di dapur.
“Pagi lagi Indra,” sapa Sintya dengan senyum manis. Suaranya lembut tapi ada nada menggoda. “Lisa udah berangkat ya? Aku bantu masak sarapan.”
Indra menoleh. Matanya langsung tertuju ke dada Sintya yang bergoyang bebas. Putingnya yang mengeras jelas menusuk kain tipis. “Pagi Kak Sintya. Iya, Lisa udah berangkat jam setengah tujuh tadi. Aku tinggal minum kopi dulu.”
Sintya mengangguk dan masuk ke dapur. Dia berdiri di depan lemari bawah, sengaja membungkuk dalam-dalam untuk mengambil wajan dan panci yang “butuh”. Daster tipisnya naik tinggi sekali, hampir ke pinggang. Pantat bulat montoknya terpampang sempurna di depan Indra yang duduk tepat di belakangnya. Celah pantat halus, bibir memeknya yang sudah basah mengkilap sedikit terlihat karena cahaya pagi.
Indra yang lagi minum kopi langsung tersedak. Kontolnya langsung ngaceng keras di dalam celana pendek. Tonjolan besar dan tebal terlihat jelas, kepala kontolnya hampir menyentuh kain. “Kak Sintya…” katanya dengan suara parau, “hati-hati ya…”
Sintya pura-pura tidak mendengar. Dia tetap membungkuk lama, menggoyang pantatnya pelan seolah mencari sesuatu di lemari. Pantatnya semakin dekat dengan wajah Indra. Jaraknya tinggal beberapa senti. Bau memek Sintya yang harum dan basah samar tercium.
Indra merasa kontolnya sakit karena terlalu tegang. Tangan kirinya mencoba menutupi tonjolan itu, tapi gagal. Matanya tidak bisa berpaling dari pantat Sintya yang mulus dan menggoda.
Akhirnya Sintya berdiri pelan. Saat dia mundur, pantatnya “tidak sengaja” menyenggol kontol Indra yang sudah ngaceng keras. Kontak itu langsung. Pantat Sintya yang empuk dan hangat menempel kuat di kontol Indra yang tebal dan panas. Indra bisa merasakan bentuk kepala kontolnya menyentuh celah pantat Sintya.
Sintya diam sejenak, pura-pura kaget. “Oh… maaf Indra,” katanya dengan suara manis tapi nakal. Dia tidak mundur langsung. Malah sedikit menggesek pantatnya ke kontol Indra sekali lagi, pelan dan sengaja. “Waduh… kontol ipar ngaceng ya? Maaf ya, aku ga sengaja.”
Indra mundur cepat, wajahnya memerah, napasnya berat. Kontolnya berdenyut keras di balik celana. “Kak… Sintya… ini… ini salah. Lisa adik kamu…”
Sintya berbalik, tersenyum manis sambil memegang dada besarnya. “Salah apa sih Indra? Cuma nempel sedikit kok. Kamu kan cowok normal, pasti suka lihat perempuan seksi. Aku juga ga apa-apa.” Dia mendekat lagi, payudaranya hampir menyentuh dada Indra. “Kamu ga perlu malu. Aku kakak ipar kamu… kita keluarga.”
Indra mundur sampai punggungnya menyentuh meja dapur. Kontolnya masih ngaceng keras, hampir keluar dari celana pendek. “Kak Sintya… jangan gini. Aku suami Lisa. Kamu adiknya…”
Sintya tertawa kecil, tangannya “tidak sengaja” menyentuh lengan Indra yang berotot. “Aku tahu kamu suami Lisa. Tapi aku juga perempuan yang sendirian. Cerai, kesepian. Kamu ga perlu takut. Aku cuma godain sedikit.” Dia membungkuk lagi untuk ambil sesuatu di meja, payudaranya hampir jatuh keluar dari daster. “Kamu mau telur atau roti aja sarapannya?”
Indra diam. Kontolnya sakit karena terlalu tegang. Dia bisa mencium bau tubuh Sintya yang harum campur nafsu. “Telur… cukup,” jawabnya pendek.
Sintya mulai menggoreng telur. Setiap gerakan dia sengaja membuat payudaranya bergoyang dan pantatnya bergoyang. Indra duduk di kursi, tangan di bawah meja mencoba meredakan kontolnya yang ngaceng. Tapi setiap kali Sintya membungkuk atau berbalik, dia melihat bayangan memek atau payudara.
Setelah sarapan siap, mereka duduk berhadapan. Sintya sengaja buka kaki sedikit di bawah meja, daster pendeknya naik. Indra bisa melihat paha dalam Sintya yang halus dan basah. Memeknya sudah sangat basah, cairan menetes pelan di paha.
“Kamu kelihatan tegang Indra,” kata Sintya sambil makan pelan. “Santai aja. Aku ga akan bilang apa-apa ke Lisa. Ini rahasia kita berdua.”
Indra hanya mengangguk. Dia makan cepat, lalu berdiri. “Aku kerja dulu di atas Kak. Terima kasih sarapannya.”
Sintya tersenyum. “Sama-sama ipar. Kalau butuh bantuan… panggil aku aja ya.”
Indra naik ke ruang kerja dengan kontol masih ngaceng. Dia tutup pintu, duduk di kursi, dan langsung keluarkan kontolnya yang tebal, panjang, urat-urat menonjol. Kontolnya sudah bocor cairan bening. Dia colmek cepat sambil bayangin pantat Sintya yang tadi nempel ke kontolnya. Dalam hitungan menit dia ejakulasi deras ke tisu, sperma putih kental menyembur banyak.
Sementara itu di bawah, Sintya membersihkan dapur sambil tersenyum puas. Memeknya basah kuyup. Dia masuk kamar mandi tamu, duduk di closet, dan langsung colmek.
Tapi colmek kali ini dia buat sangat panjang dan detail.
Sintya duduk di closet dengan kaki dibuka lebar. Daster diangkat sampai perut. Memeknya sudah sangat basah, bibir memek bengkak dan mengkilap. Klitorisnya menonjol. Dia mulai dengan dua jari, masuk keluar pelan sambil menutup mata.
“Indra… kontolmu tadi ngaceng keras banget… nempel di pantat aku…” bisiknya. Jarinya bergerak lebih cepat. Bayangan kontol Indra yang tebal dan panas menempel di celah pantatnya tadi membuatnya semakin sange.
Dia bayangkan kejadian di dapur berlanjut. Indra tidak mundur, malah memegang pinggulnya dari belakang. Kontol Indra yang ngaceng ditarik keluar dari celana, lalu langsung ditekan ke memeknya dari belakang.
“Ahh… Indra… masukin kontol ipar ke memek aku…” Sintya memasukkan tiga jari sekaligus. Gerakannya cepat dan dalam. Bunyi “slurp slurp” keras di kamar mandi kecil. Cairan memeknya menetes ke closet.
Dia bayangkan Indra mengangkat dasternya, membuka pantatnya lebar, lalu kontol tebalnya mendorong masuk ke memeknya dari belakang. “Ngentot aku dari belakang Indra… dalem… keras…”
Sintya colmek semakin gila. Empat jari sekarang, menggosok G-spot dengan kuat. Tangan satunya meremas payudara, cubit puting sampai sakit enak. Bayangan Indra ngentot dia di dapur, tangan memegang pinggulnya kuat, kontolnya keluar masuk cepat, bunyi plak-plak keras.
“Plak… plak… plak…” Sintya bayangkan suara itu sambil gerakkan jari lebih cepat. “Indra… kontolmu gede… memek aku penuh… aku mau muncrat…”
Orgasme pertama datang. Memeknya kejang, cairan menyembur deras ke tangan dan closet. Sintya gemetar, tapi dia tidak berhenti. Dia lanjut colmek sambil berdiri, membungkuk di depan cermin kamar mandi. Posisi seperti lagi dientot doggy.
Dari belakang, jari masuk keluar cepat. Bayangan Indra berdiri di belakangnya, tangan kiri memegang rambutnya, tangan kanan menepuk pantatnya, kontolnya menghantam memeknya tanpa ampun.
“Nepuk pantat aku Indra… keras… bilang aku pelacur ipar…” Sintya colmek sendiri sambil bisik kotor. “Aku pelacur ipar… haus kontol ipar… entot aku sampe muncrat berkali-kali…”
Orgasme kedua datang lebih kuat. Sintya squirt deras, cairan menyembur ke lantai kamar mandi. Tubuhnya gemetar hebat, lutut lemas. Tapi dia masih lanjut.
Dia duduk lagi di closet, kaki diangkat tinggi, memegang lutut. Posisi terbuka lebar. Empat jari masuk dalam-dalam, ibu jari menggosok klitoris. Bayangan Indra ngentot dia di posisi ini, kontolnya menghantam serviks, sperma panas menyembur di dalam rahimnya.
“Creampie aku Indra… isi memek kakak ipar lu sampe penuh… aku mau hamil kontol ipar…” Sintya sudah gila nafsu. Dirty talk sendiri makin kotor dan panjang.
Dia colmek selama hampir satu jam. Orgasme ketiga, keempat, kelima datang berturut-turut. Setiap kali muncrat, cairan semakin banyak. Lantai kamar mandi basah kuyup. Sintya gemetar, napas tersengal, mulut terbuka, mata setengah tertutup.
Di bayangannya, Indra ngentot dia di dapur, di meja makan, di lemari. Berbagai posisi. Kontol Indra selalu tebal, panjang, panas, dan tahan lama. Sintya bayangkan sperma Indra menyembur banyak di dalam memeknya, di mulutnya, di payudaranya.
Akhirnya setelah orgasme keenam yang sangat kuat, Sintya ambruk ke lantai kamar mandi. Tubuhnya basah keringat dan cairan memek. Memeknya masih berdenyut, bibir memek bengkak dan merah. Dia tersenyum puas tapi masih haus.
“Ini baru godaan pertama…” gumamnya sambil membersihkan diri. “Besok aku akan lebih berani lagi.”
Malam harinya, setelah Lisa pulang dan mereka makan malam bertiga, Sintya kembali ke kamar tamu dengan nafsu yang masih tinggi. Lisa dan Indra naik ke kamar utama. Sintya dengar lagi suara mereka ngentot, tapi kali ini dia tidak cuma colmek biasa.
Dia colmek sambil bayangin kejadian dapur tadi berlanjut menjadi ngentot panjang. Dia bayangkan Indra menyusulnya ke kamar mandi setelah Lisa tidur, lalu ngentot dia di closet, di wastafel, di lantai. Adegan seks yang sangat panjang dan detail di kepalanya.
Sintya colmek selama dua jam penuh malam itu. Berbagai posisi, berbagai fantasi tentang kontol Indra. Muncrat berkali-kali sampai sprei dan lantai basah. Dia bisik-bisik nama Indra sambil orgasme, “Indra… kontol ipar… aku mau yang asli besok… godain aku lagi…”
Pagi esoknya, Sintya sudah siap dengan rencana godaan baru yang lebih berani.
ns216.73.216.208da2


