Hari itu panas sekali di Jakarta. Matahari menyengat aspal jalan depan rumah mewah dua lantai di kawasan elite. Pintu pagar terbuka lebar saat mobil taksi hitam berhenti di depan. Dari dalam mobil, seorang perempuan turun dengan koper besar dan tas tangan. Rambutnya panjang hitam bergelombang, tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang bikin orang susah menoleh ke arah lain. Payudaranya besar dan kencang, pinggang ramping, pantat bulat montok yang bergoyang pelan saat dia berjalan. Itu Sintya, 32 tahun, kakak Lisa yang baru saja bercerai dari suaminya yang brengsek.
Sintya menarik koper sambil tersenyum tipis. Rumah ini milik adiknya, Lisa, dan suami adiknya, Indra. Sudah tiga bulan dia cerai, dan Lisa menawarkan tinggal sementara di sini sampai dia dapat pekerjaan baru dan rumah sendiri. "Ayo kak, di sini aja dulu. Rumah besar, ada kamar kosong. Indra juga oke kok," kata Lisa waktu telepon.
Sekarang dia berdiri di depan pintu utama. Sebelum sempat menekan bel, pintu sudah terbuka. Lisa muncul dengan senyum lebar, memeluk kakaknya erat. "Kak Sintya! Akhirnya datang juga. Capek ya?"
Lisa, 28 tahun, lebih kecil dari kakaknya. Tubuhnya ramping, imut, tapi agak kurang berisi di bagian dada dan pantat. Mereka berdua berpelukan lama, tertawa kecil. Lalu muncul Indra di belakang Lisa. Pria 35 tahun itu berdiri tegap, tinggi, dada bidang, lengan kekar. Kaos polos ketat di badannya memperlihatkan otot perut yang terbentuk. Wajahnya tampan, rahang tegas, mata tajam.
"Masuk yuk, Kak," kata Indra dengan suara berat yang langsung bikin Sintya merasa ada sesuatu bergetar di perut bawahnya.
Sintya melangkah masuk dan memeluk Indra sebagai salam. Pelukan itu... oh Tuhan. Dada Sintya yang besar dan empuk langsung menempel kuat ke dada Indra. Indra memeluk punggungnya, tangan besarnya hampir menyentuh pinggang Sintya yang ramping. Bau sabun dan keringat pria dewasa langsung menyeruak ke hidung Sintya. Kontol Indra, meski masih lemas di balik celana pendek, terasa sedikit menyenggol paha Sintya saat mereka berpelukan. Hanya sepersekian detik, tapi cukup buat memek Sintya berdenyut pelan.
"Senang akhirnya Kak Sintya tinggal di sini," kata Indra sambil melepaskan pelukan, tapi matanya sempat melirik ke bawah, ke belahan dada Sintya yang terlihat dari kemeja longgar yang dia pakai.
Sintya tersenyum manis, pura-pura tak sadar. "Iya, makasih ya Indra. Aku janji ga bakal ganggu kalian berdua. Aku bantu-bantu rumah aja."
Mereka bertiga masuk ke ruang tamu. Lisa langsung sibuk menyiapkan minum, sementara Indra bantu angkat koper Sintya ke kamar tamu di lantai atas. Kamar itu luas, ada tempat tidur king size, lemari, dan jendela besar menghadap taman belakang. Sintya duduk di pinggir ranjang sambil mengipas-ngipas wajahnya yang panas. Entah kenapa, dari pertama lihat Indra tadi, perutnya terasa aneh. Hangat. Basah.
Malam harinya mereka makan malam bertiga. Lisa masak ayam goreng dan sayur. Sintya bantu di dapur, pakai apron yang agak ketat. Saat membungkuk ambil piring dari bawah, pantatnya yang bulat terangkat, celana pendek tipisnya naik sedikit memperlihatkan garis pantat. Indra yang lagi duduk di meja makan sempat melirik lama. Lisa tak sadar, sibuk cerita tentang pekerjaannya yang lagi banyak proyek.
Setelah makan, mereka ngobrol di ruang keluarga. Sintya duduk di sofa satu dengan Indra, Lisa di sebelah suaminya. Kaki Sintya "tak sengaja" menyentuh kaki Indra. Kulitnya halus, hangat. Indra bergeser sedikit, tapi Sintya pura-pura tak tahu dan terus cerita tentang masa lalunya yang berantakan setelah cerai.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Lisa menguap. "Aku capek banget hari ini. Tidur ya sayang," katanya sambil cium pipi Indra.
Indra mengangguk. "Iya, aku juga sebentar lagi."
Lisa naik ke kamar utama di lantai atas. Sintya pamit ke kamar tamunya. Tapi dia tak langsung tidur. Dia mandi air hangat, menggosok tubuhnya pelan-pelan. Saat sabun melewati memeknya yang sudah agak basah, Sintya menggigit bibir. "Kenapa ya... dari tadi mikirin Indra terus," gumamnya sendiri.
Dia pakai daster tipis tanpa bra dan tanpa celana dalam. Payudaranya yang besar bergoyang bebas di balik kain tipis. Putingnya sudah mengeras sedikit. Sintya berbaring di ranjang, mematikan lampu, tapi jendela sedikit terbuka biar angin masuk.
Rumah jadi sepi. Hanya ada suara AC dan... suara dari kamar utama.
"Ahh... Indra... pelan sayang..." suara Lisa terdengar samar-samar lewat dinding.
Sintya membeku. Dia mendengar suara ranjang berderit pelan. Lalu suara Indra yang berat, "Enak ya memek kamu... basah banget..."
Sintya merasa memeknya langsung banjir. Dia membayangkan Indra telanjang, kontolnya yang pasti besar dan tebal sedang masuk ke memek adiknya. Tangan Sintya tanpa sadar turun ke bawah, mengangkat daster, dan menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak.
"Ya ampun... kok aku sange gini," bisiknya.
Suara dari kamar sebelah semakin jelas. Lisa mulai moans lebih keras. "Aduh kontol kamu gede... ngentot aku lebih dalem sayang..."
Sintya memasukkan satu jari ke memeknya. Basah sekali. Licin. Panas. Dia bayangkan kontol Indra — pasti panjang, tebal, urat-urat menonjol, kepala kontolnya besar dan merah. Bayangan itu membuatnya memasukkan dua jari sekaligus.
"Ahh..." desah Sintya pelan, takut kedengeran.
Dia mulai gerakkan jari masuk keluar pelan-pelan, mengikuti irama ranjang yang berderit. Di kepalanya, Indra sedang menggoyang pinggulnya kuat-kuat, kontolnya menghantam memek Lisa. Tapi Sintya bayangkan dirinya yang di bawah Indra. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang, pantatnya ditepuk, memeknya diregang oleh kontol ipar.
"Indra... kontolmu... gede banget," gumam Sintya sambil nambah satu jari lagi. Tiga jari sekarang. Memeknya bunyi "slurp slurp" yang mesum karena sudah sangat basah.
Suara Lisa makin liar. "Iya... ngentot aku... aku mau muncrat..."
Sintya ikut semakin cepat. Jempolnya menggosok klitoris sambil tiga jari keluar masuk memeknya. Payudaranya naik turun mengikuti gerakan tangan. Putingnya keras seperti batu. Dia bayangkan Indra mencium lehernya, menggigit putingnya, sambil kontolnya menghantam G-spot-nya tanpa ampun.
"Ahh... ahh... Indra... entot kakak ipar lu... lebih enak dari memek Lisa kan?" Sintya mulai kotor bicara sendiri. Nafsunya sudah tak terbendung.
Derit ranjang di kamar sebelah semakin kencang. Indra pasti lagi ngentot Lisa dengan kuat. Sintya membayangkan kontol itu keluar masuk, basah oleh cairan memek, urat-uratnya menggesek dinding memeknya sendiri.
Tubuh Sintya menegang. Perut bawahnya panas sekali. "Aku... mau... muncrat..."
Dia nambah gerakan, jari keluar masuk cepat sekali. Tangan satunya meremas payudara kirinya keras-keras, cubit puting. Bayangan Indra di atasnya, kontolnya dikocok di dalam memeknya, creampie panas memenuhi rahimnya.
"Indraaa...!!" Sintya menjerit pelan di bantal saat orgasme pertama datang. Memeknya kejang-kejang di jari-jarinya. Cairan bening muncrat keluar, membasahi telapak tangan dan sprei. Bukan cuma sedikit — dia squirting cukup deras, seperti air mancur kecil. Tubuhnya kejang beberapa detik, napasnya tersengal.
Tapi orgasme itu belum cukup. Suara dari kamar sebelah masih berlanjut. Lisa lagi moans minta lebih. Sintya belum puas. Dia balik posisi, nungging di ranjang, pantatnya terangkat tinggi. Tangan kanannya tetap colmek dari belakang, posisi seperti lagi dientot doggy oleh Indra.
"Ahh... iya... gitu Indra... hantamin kontolmu ke memek aku... dalem... dalem banget..." Sintya bisik sambil gerakkan pinggulnya maju mundur, bayangin Indra berdiri di belakangnya, tangan memegang pinggulnya, kontol tebalnya menghantam pantatnya sampai bunyi "plak plak".
Dua jari, lalu tiga lagi. Memeknya sudah sangat licin, cairan menetes ke sprei. Klitorisnya digosok kasar. Payudaranya bergantung dan bergoyang liar.
Orgasme kedua datang lebih keras. "Mmmhh... muncrat lagi... ahh!!" Sintya menekan wajah ke bantal saat memeknya menyembur cairan lagi. Kali ini lebih banyak. Paha dalamnya basah kuyup. Lututnya lemas, tapi dia terus colmek, bayangin Indra belum selesai, masih ngentot dia tanpa henti.
Dia balik lagi ke posisi telentang, kaki dibuka lebar-lebar. Empat jari sekarang masuk, menggosok dinding memeknya yang sensitif. Bayangan kontol Indra yang besar memenuhi memeknya, kepala kontolnya menghantam serviks, sperma panas menyembur di dalam.
"Indra... isi memek kakak ipar lu... creampie aku... buat aku hamil kontol ipar..." Sintya sudah gila nafsu. Dirty talk sendiri makin kotor.
Orgasme ketiga membuat tubuhnya melengkung. Memeknya menyembur cairan lagi, kali ini sampai membasahi paha dan lantai sedikit. Sintya gemetar hebat, mata berkunang-kunang, napas tersengal-sengal. Dia colmek pelan-pelan lagi sambil menikmati sisa orgasme, jari keluar masuk lambat, merasakan dinding memek yang masih berdenyut.
Akhirnya dia ambruk di ranjang, tubuh basah keringat dan cairan kenikmatannya sendiri. Daster tipisnya sudah acak-acakan. Memeknya masih berdenyut pelan, puas tapi masih haus.
Di kamar sebelah, suara Lisa dan Indra akhirnya reda. Mungkin mereka sudah selesai. Sintya tersenyum tipis di kegelapan.
"Ini baru malam pertama..." gumamnya. "Kontol Indra... aku mau yang asli."
Dia bangun pelan, membersihkan diri di kamar mandi kamar tamu. Saat melihat bayangan dirinya di cermin — wajah memerah, bibir bengkak karena digigit, memek masih basah dan agak bengkak — Sintya tahu, tinggal di rumah ini bakal jadi neraka nafsu yang enak.
Dia kembali ke ranjang, tapi sulit tidur. Pikirannya penuh bayangan kontol iparnya. Besok dia harus mulai godain Indra pelan-pelan. Lisa adiknya, tapi nafsu ini sudah tak bisa ditahan.
Malam itu, Sintya tidur dengan tangan masih di memeknya, jari sesekali gerak pelan, mimpi tentang Indra yang ngentot dia sepanjang malam.
ns216.73.216.208da2


