Bab 2: Sentuhan Tak Sengaja
1011Please respect copyright.PENANAtqKsByBd1q
Dua hari setelah pertemuan pertama, udara pagi di kompleks Green Valley terasa lebih hangat dari biasanya. Ardian berdiri di garasi rumah barunya sambil menyusun kardus-kardus yang belum terbuka. Tubuh atletisnya kembali berkeringat, kaus abu-abu ketat menempel di dada bidangnya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Rina—tetangga sebelah yang seksi itu. Setiap kali ia menutup mata, ia melihat payudara montok yang bergoyang, pinggul lebar, dan senyum nakal yang seolah mengundang.
1011Please respect copyright.PENANA03lFupWk6e
Tiba-tiba terdengar ketukan di pagar. Ardian menoleh dan langsung merasakan kontolnya bergerak pelan di dalam celana pendeknya.
1011Please respect copyright.PENANAYIvkwB9xxB
“Ardian! Kamu sibuk tidak?” suara Rina terdengar manis.
1011Please respect copyright.PENANAXF1p8ohfgL
Rina berdiri di depan pagar dengan penampilan yang lagi-lagi membuat darah Ardian mendidih. Kali ini ia mengenakan kaus oversized longgar yang sedikit melorot di satu bahu, memperlihatkan tali bra hitam tipis dan kulit sawo matang yang mulus. Bawahannya hanya hotpants pendek berwarna hitam yang nyaris tidak menutupi separuh paha mulusnya. Rambutnya diikat ponytail tinggi, membuat leher jenjangnya terlihat semakin menggoda.
1011Please respect copyright.PENANAUIiTfnEHgF
“Tadi malam aku susah tidur mikirin barang-barang di gudang belakang yang harus dipindah,” kata Rina sambil tersenyum meminta maaf. “Suamiku dulu yang biasa angkat yang berat-berat. Sekarang… aku sendirian. Bisa tolong sebentar? Tidak lama kok.”
1011Please respect copyright.PENANAU4tFuyWSFP
Ardian menelan ludah. “Bisa, Rin. Aku bantu sekarang.”
1011Please respect copyright.PENANATh0hc4YXgY
Ia mengikuti Rina melewati pagar pembatas menuju halaman belakang rumahnya. Saat berjalan di belakang, Ardian tidak bisa menahan diri untuk tidak memandangi pantat bulat Rina yang bergoyang menggoda dengan setiap langkah. Hotpants itu menempel ketat, memperlihatkan garis celah pantat yang sempurna. Aroma sabun mandi floral bercampur keringat tipis tercium samar, membuat Ardian semakin sulit berkonsentrasi.
1011Please respect copyright.PENANAuvN0Hrc3Ko
Mereka masuk ke gudang kecil di belakang rumah Rina. Ruangan itu agak pengap, penuh kardus, lemari lama, dan peralatan rumah tangga. Rina sengaja membungkuk di depan Ardian untuk menunjuk kardus paling bawah.
1011Please respect copyright.PENANA9nIIf1pFhi
“Ini yang paling berat. Isinya buku-buku lama suamiku,” kata Rina. Saat membungkuk, kaus oversizenya melorot lebih rendah. Ardian bisa melihat hampir seluruh payudara kiri Rina yang montok, puting merah mudanya yang mengeras jelas terlihat. Jarak mereka sangat dekat. Saat Ardian membungkuk untuk mengangkat kardus, lengannya tidak sengaja menyentuh paha dalam Rina yang hangat dan lembut.
1011Please respect copyright.PENANAOwD3gct04h
“Oh… maaf,” gumam Ardian, tapi ia tidak langsung menarik tangan.
1011Please respect copyright.PENANACjWlB7Q7rA
Rina tersenyum kecil, matanya berkilat. “Tidak apa-apa. Sentuh saja kalau perlu pegangan.”
1011Please respect copyright.PENANAjOBaMMtp5T
Mereka mulai memindahkan kardus satu per satu ke ruang penyimpanan di dalam rumah. Setiap kali mengangkat, tubuh mereka saling bersentuhan. Dada Ardian sesekali menyenggol punggung Rina. Pinggul Rina beberapa kali “tak sengaja” menyentuh kontol Ardian yang sudah setengah tegang. Sentuhan itu membuat keduanya diam-diam menahan napas.
1011Please respect copyright.PENANAMsC1xKH7vJ
Di kardus ketiga, Rina pura-pura kehilangan keseimbangan. Tubuhnya mundur ke belakang dan langsung menempel erat ke tubuh Ardian. Payudaranya yang montok tertekan kuat di lengan Ardian. Ardian bisa merasakan kelembutan dan kehangatan yang luar biasa, serta denyutan jantung Rina yang cepat.
1011Please respect copyright.PENANANSHKPcEghV
“Wah, hampir jatuh,” bisik Rina dengan suara agak serak. Ia tidak langsung menjauh. Malah, pinggulnya bergeser pelan, merasakan kejantanan Ardian yang semakin mengeras di balik celana.
1011Please respect copyright.PENANA5PtpWW7VB7
Ardian merasakan panas naik ke wajahnya. “Hati-hati, Rin.”
1011Please respect copyright.PENANAdEKAAwlGLO
Mereka melanjutkan, tapi ketegangan di udara semakin tebal. Rina sengaja banyak bergerak, membungkuk dalam, merenggangkan tubuh di depan Ardian. Setiap gerakan memperlihatkan lebih banyak kulit dan lekuk tubuhnya. Bau tubuh Rina yang manis semakin kuat di ruangan pengap itu, bercampur aroma cairan orgasme alami dari memeknya yang mulai basah.
1011Please respect copyright.PENANAYKxVurDeQX
Setelah semua kardus selesai dipindah, mereka berdiri berhadapan di ruang tamu. Keringat membasahi tubuh keduanya. Kaus Rina sudah lengket, memperlihatkan bentuk puting-putingnya yang menonjol jelas.
1011Please respect copyright.PENANA5yAW6KzFEu
“Terima kasih banyak ya, Ardian,” kata Rina sambil memegang lengan Ardian. Jarinya mengusap pelan otot lengan itu. “Kamu kuat sekali. Badanmu… enak dipeluk.”
1011Please respect copyright.PENANAxDFklZyHSj
Ardian tersenyum gugup. “Sama-sama. Kalau butuh apa-apa lagi, panggil saja.”
1011Please respect copyright.PENANAyPx8SqNiQa
Rina mendekat lagi, kali ini pelukannya lebih erat dari kemarin. Payudaranya menekan dada Ardian dengan sempurna. Ardian bisa merasakan kehangatan kulit Rina melalui kain tipis. Tangan Rina turun ke punggungnya, hampir menyentuh pinggang. Napas Rina yang hangat menyapu leher Ardian.
1011Please respect copyright.PENANAlyYQHMxX1z
“Aku senang punya tetangga seperti kamu,” bisik Rina di telinga Ardian. “Anak muda, kuat, dan… perhatian.”
1011Please respect copyright.PENANAI6wR4ulpKT
Saat melepaskan pelukan, tangan Rina “tak sengaja” menyapu bagian depan celana Ardian. Ia merasakan kekerasan kontol itu sesaat. Mata Rina melebar sedikit, lalu tersenyum penuh arti.
1011Please respect copyright.PENANA18nVNkIWd5
Ardian pulang dengan hati berdegup kencang dan kontol yang sudah sangat tegang. Ia mandi air dingin dua kali, tapi bayangan sentuhan Rina tetap melekat.
1011Please respect copyright.PENANApk5PcUSDKU
Malam harinya, di rumah Rina, kesepian kembali menyerang lebih kuat. Rina berbaring di kamar tidur yang temaram, hanya diterangi lampu tidur kuning lembut. Tubuhnya sudah telanjang sepenuhnya. Kulit sawo matangnya berkilau karena lotion yang ia oleskan tadi.
1011Please respect copyright.PENANA6JzqrCOV26
Ia memejamkan mata, membayangkan wajah tampan Ardian, tubuh atletisnya, dan terutama benjolan besar yang tadi ia sentuh sekilas. memeknya sudah basah sekali sejak sore tadi. cairan orgasme beningnya mengalir pelan ke celah pantat.
1011Please respect copyright.PENANAtmd21oZsuF
“Ardian…” desahnya pelan sambil tangan kanannya turun ke memeknya.
1011Please respect copyright.PENANANWmpeGbRiw
Jarinya mengusap bibir memek yang sudah membengkak, lalu naik ke kristoriskecil yang mengeras. Sentuhan ringan itu membuat tubuhnya menggigil. Ia membayangkan jari Ardian yang tebal dan kasar sedang mengusapnya. Dua jarinya masuk perlahan ke dalam memek yang hangat dan licin. Suara basah “slurp” kecil terdengar saat jari masuk lebih dalam.
1011Please respect copyright.PENANAyzgO0r0Ox2
“Ahh… enak sekali…” erang Rina. Kakinya terbuka lebar, lutut ditekuk. Tangan kirinya meremas payudara kanannya, memilin puting hingga sakit kenikmatan. Ia bayangkan mulut Ardian sedang mengisap putingnya, lidahnya memutar di ujung yang sensitif.
1011Please respect copyright.PENANANwZHeHmHyy
Rina bangkit sebentar, mengambil dildo besar kesayangannya dari laci. Mainan itu tebal, berurat, hampir 20 senti panjang—ia sengaja pilih yang mendekati ukuran yang ia bayangkan dari Ardian. Ia melumurinya dengan cairan orgasme tubuhnya sendiri yang meluber banyak.
1011Please respect copyright.PENANA0X8Pudelyd
Perlahan ia tekan ujung dildo ke bibir memeknya. Sensasi dingin plastik yang licin membuat kristoris berdenyut hebat. “Pelan… bayangkan ini kontol Ardian yang tebal…” gumamnya.
1011Please respect copyright.PENANANx2TUWtih8
Ia dorong masuk perlahan. Dinding memeknya meregang lebar, penuh, berdenyut menyambut. Rasa penuh itu membuat matanya terpejam nikmat. “Ohh… besar… meregang sekali…” desahnya panjang. Ia bayangkan Ardian berada di atasnya, mendorong kontolnya pelan tapi pasti, mendominasinya.
1011Please respect copyright.PENANA2Q0qgoHrat
Gerakan naik turun dimulai. Suara basah “plok… plok… slurp…” semakin keras memenuhi kamar. Rina mempercepat, pinggulnya terangkat mengikuti irama. Kakinya gemetar hebat, jari kaki menekuk. Ia tambahkan gerakan memutar dildo, merasakan setiap urat mainan menggesek titik sensitif di dalam memeknya.
1011Please respect copyright.PENANAf1JqANouY7
“Ardian… fuck aku lebih keras… kontolmu tebal sekali… ahh!” desahnya semakin kotor. Air matanya keluar sedikit karena kenikmatan yang terlalu intens. cairan orgasme beningnya menyembur kecil setiap kali dildo keluar masuk.
1011Please respect copyright.PENANAKclcZ4da2p
Ia membalik posisi, berlutut seperti anjing, pantatnya terangkat tinggi. Dildo tetap digerakkan dari belakang. Bayangan Ardian menampar pantatnya dan memasukinya dari belakang membuat nafsunya semakin liar. Tangan kirinya meraih kristoris memainkannya cepat.
1011Please respect copyright.PENANAiUrcbbWNpO
Tubuh Rina mulai kejang. memeknya berdenyut kuat-kuat, dinding dalamnya mencengkeram dildo. Orgasme pertama datang seperti gelombang besar. “Ardian!!! Aku… keluar!!!” erangnya hampir menjerit. Cairan bening hangat menyembur deras dari memeknya, membasahi seprai dan paha dalamnya. Kakinya gemetar tak terkendali, perutnya naik turun cepat.
1011Please respect copyright.PENANAioEqmMSBW4
Tapi Rina belum puas. Ia terus memompa dildo meski tubuhnya masih bergetar. Orgasme kedua datang hanya dalam hitungan menit, lebih kuat. Kali ini ia squirting lebih banyak, cairannya memercik ke udara. Air matanya mengalir, campuran kesepian dan kenikmatan yang luar biasa.
1011Please respect copyright.PENANAY6VAed69f8
Setelah puas, Rina berbaring lemas di tempat tidur yang basah. Napasnya tersengal. Ia memeluk bantal, membayangkan dada Ardian.
1011Please respect copyright.PENANAvvAAmv7XSP
“Ardian… aku mau kontolmu yang asli,” bisiknya dalam gelap. “Aku sudah tidak tahan lagi.”
1011Please respect copyright.PENANALDtBJfR92d
Sementara itu, di rumah sebelah, Ardian juga sulit tidur. Ia mendengar samar-samar suara erangan dari jendela yang terbuka. Instingnya tahu itu suara Rina. kontolnya berdiri sempurna, berdenyut menyakitkan. Ia menggenggamnya pelan, membayangkan memek pink Rina yang pasti sangat basah dan hangat.
1011Please respect copyright.PENANAMpXb1tSrjt
Hubungan tetangga mereka baru saja dimulai, tapi godaan dan sentuhan tak sengaja ini sudah membakar api yang sulit dipadamkan.
1011Please respect copyright.PENANAZUETkq15t1
1011Please respect copyright.PENANArZMRgc2i8n
1011Please respect copyright.PENANARFqdOEajut


