Bab 1: Pertemuan Pertama dan Godaan Awal
1155Please respect copyright.PENANA7juvcpkicx
Matahari sore menyinari kompleks perumahan Green Valley dengan cahaya keemasan yang hangat. Ardian Pratama menurunkan kardus terakhir dari mobil pick-up yang ia sewa. Tubuh atletisnya yang tingginya mencapai 180 sentimeter terasa lengket oleh keringat setelah seharian memindahkan barang. Usianya baru 24 tahun, tapi ia sudah lelah dengan hiruk-pikuk kota besar. Pindah ke kompleks yang lebih tenang ini adalah keputusan terbaik yang ia buat akhir-akhir ini—setidaknya begitu yang ia pikirkan saat itu.
1155Please respect copyright.PENANAbBOujfvrYw
Rambutnya yang hitam acak-acakan ia sapu ke belakang. Wajah tampan dengan garis rahang tegas dan senyum yang mudah membuat orang nyaman menjadi modal utamanya. Ia mengenakan kaus hitam ketat yang menempel di dada bidang dan perut rata hasil latihan rutin. Saat membungkuk meletakkan kardus, otot lengannya menegang. Ia tidak tahu bahwa dari balik pagar tetangga, sepasang mata sudah memperhatikannya dengan penuh minat.
1155Please respect copyright.PENANABT3ygtXPOZ
“Hei, tetangga baru ya?”
1155Please respect copyright.PENANA9SMxco8qqL
Suara lembut namun menggoda itu membuat Ardian menoleh. Di sebelah rumahnya berdiri seorang wanita yang langsung membuat napasnya tertahan sesaat. Rina Melati. Usianya 29 tahun, janda muda yang sudah menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu kompleks sejak suaminya meninggal dua tahun lalu. Tubuhnya yang tinggi 162 sentimeter itu dibungkus tank top tipis berwarna putih yang sudah agak basah karena ia sedang menyiram tanaman. Payudaranya yang berukuran D-cup montok terlihat jelas, puting-putingnya menonjol samar di balik kain yang menempel karena air.
1155Please respect copyright.PENANA55UdlnDLjs
Pinggulnya lebar, pantatnya bulat sempurna terbalut celana pendek jeans yang memamerkan paha mulus sawo matang. Kulitnya halus, berkilau oleh keringat tipis di bawah sinar matahari sore. Rambut hitam panjangnya diikat asal, beberapa helai menempel di leher jenjangnya. Senyumnya manis, tapi ada kilatan nakal di mata cokelatnya yang dalam.
1155Please respect copyright.PENANAhzPL37ie3V
“Ya, Bu. Baru pindah hari ini,” jawab Ardian sambil tersenyum. Ia berusaha menjaga nada suara tetap sopan, tapi matanya sulit lepas dari lekuk tubuh Rina yang begitu menggoda.
1155Please respect copyright.PENANASGeOWpxg85
Rina tertawa kecil, suaranya seperti musik yang lembut. “Panggil Rina aja. Bu-bu itu bikin aku merasa tua. Kamu siapa namanya?”
1155Please respect copyright.PENANA1GejYkGNvZ
“Ardian. Ardian Pratama.”
1155Please respect copyright.PENANAvavCR191jV
Mereka berjabat tangan. Saat telapak tangan Rina menyentuh tangannya, Ardian merasakan kehangatan yang aneh. Tangan Rina lembut, tapi ada kekuatan halus di baliknya. Sentuhan itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Rina melepaskan tangan perlahan, jarinya seolah sengaja mengusap punggung tangan Ardian.
1155Please respect copyright.PENANAVth1LrZM3l
“Pasti capek ya pindahan sendirian. Kalau butuh bantuan, bilang aja. Rumahku di sebelah, selalu terbuka,” kata Rina sambil membungkuk sedikit untuk mematikan keran air. Gerakan itu membuat tank topnya tertarik ke atas, memperlihatkan perut rata dan garis pinggang yang indah. Ardian bisa melihat celah antara payudaranya yang montok. kontolnya di dalam celana langsung bereaksi, berdenyut pelan.
1155Please respect copyright.PENANAYiZCrg9ijx
“Terima kasih, Rin. Aku usahain tidak ganggu.”
1155Please respect copyright.PENANAR0Si2VzBqy
“Oh, ganggu aja. Aku malah suka ada tetangga baru yang… menarik,” balas Rina dengan senyum miring. Matanya menelusuri tubuh Ardian dari atas ke bawah tanpa malu. “Kamu olahraga ya? Badanmu bagus.”
1155Please respect copyright.PENANAUpl4vzTS83
Ardian tertawa gugup. “Lumayanlah, biar sehat.”
1155Please respect copyright.PENANADTBK336Ewy
Mereka mengobrol ringan tentang kompleks, tetangga-tetangga, dan cuaca. Sepanjang percakapan, Rina terus “tak sengaja” mendekat. Saat ia menunjuk arah taman, bahunya menyentuh lengan Ardian. Saat ia tertawa, payudaranya bergoyang pelan, puting-putingnya semakin jelas menonjol. Bau sabun mandi dan aroma tubuh wanita dewasa yang manis samar-samar tercium oleh Ardian, membuat kepalanya sedikit pusing.
1155Please respect copyright.PENANAjYIMpnXVLj
Malam mulai turun. Ardian masuk ke rumahnya yang masih berantakan. Ia mandi air dingin, tapi bayangan Rina tidak hilang. kontolnya masih setengah tegang saat ia mengenakan celana pendek. Ia mencoba mengatur barang, tapi pikirannya terus melayang ke tetangga sebelah.
1155Please respect copyright.PENANAjHLa1OYzac
Sementara itu, di rumah sebelah, Rina berdiri di depan cermin kamar tidurnya. Ia melepas tank top dan celana pendeknya. Tubuh telanjangnya terpantul sempurna. Payudaranya montok, pinggul lebar, dan memeknya yang pink selalu basah itu sudah mulai mengeluarkan cairan orgasme tipis hanya karena mengingat Ardian. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan pria. Suaminya dulu, Pak Hadi, memang memuaskan, tapi setelah dua tahun kesepian, nafsunya seperti api yang tidak pernah padam.
1155Please respect copyright.PENANAbyfjkAT1GR
Ia menggigit bibir bawahnya. “Ardian… anak muda yang gagah,” gumamnya sambil tersenyum. Tangan kanannya turun ke memeknya, mengusap kristoriskecil yang sudah mengeras. Sensasi itu membuat lututnya lemas seketika. Ia membayangkan tangan besar Ardian yang tadi menyentuh tangannya, membayangkan bagaimana jari-jari itu akan masuk ke dalam memeknya yang selalu basah.
1155Please respect copyright.PENANASlKhoXlBFu
Rina berbaring di tempat tidur, kakinya terbuka lebar. Ia mengambil dildo besar dari laci nakas—mainan kesukaannya yang sudah sering menemani malam-malam sepi. Dildo itu tebal dan panjang, hampir mendekati ukuran yang ia impikan. Ia menciumnya dulu, lalu melumurinya dengan cairan orgasme tubuhnya sendiri yang sudah meluber.
1155Please respect copyright.PENANAntlLD5WzTk
“Pelan dulu ya…” desahnya sendiri.
1155Please respect copyright.PENANAxkFaOaRlBU
Ia menekan ujung dildo ke bibir memeknya yang basah. Sensasi dingin plastik itu membuat tubuhnya menggigil. Perlahan ia dorong masuk, merasakan dinding memeknya meregang, penuh, berdenyut. “Ahh… besar sekali…” erangnya pelan. Bayangan Ardian semakin kuat. Ia bayangkan kontol Ardian yang pasti tebal dan panjang itu yang sedang memasukinya.
1155Please respect copyright.PENANAS4ZptV8xei
Gerakannya semakin cepat. Suara basah “slurp… slurp…” memenuhi kamar. Kakinya gemetar, perutnya naik turun. Tangan kirinya meremas payudaranya sendiri, memilin puting-putingnya hingga sakit kenikmatan. cairan orgasme bening terus keluar dari memeknya, membasahi seprai.
1155Please respect copyright.PENANA2k4YmSPyjY
“Ardian… masukin lebih dalam… ahh!” desahnya semakin keras. Tubuhnya melengkung, kaki jari kakinya menekuk. Orgasme pertama datang dengan cepat. memeknya berdenyut kuat, menyemprotkan cairan bening yang hangat. Tapi ia belum puas. Ia terus memompa dildo itu, membayangkan Ardian mendominasinya, membayangkan suara tamparan di pantatnya.
1155Please respect copyright.PENANA33FgmjjQOf
Di rumah sebelah, Ardian yang sedang minum air di dapur mendengar samar-samar suara desahan dari jendela yang terbuka. Ia mengira itu angin atau televisi. Tapi instingnya sebagai pria muda yang sehat mengatakan lain. kontolnya kembali mengeras sepenuhnya, menekan kain celana pendeknya.
1155Please respect copyright.PENANAKse5ouuX8a
Keesokan paginya, Ardian keluar rumah untuk berlari pagi. Rina sudah lebih dulu di halaman depan, kali ini mengenakan sports bra ketat dan legging yang sangat pas di tubuh. Keringat sudah membasahi dadanya. Ia membungkuk saat merenggangkan badan, pantat bulatnya terpampang sempurna ke arah Ardian.
1155Please respect copyright.PENANAu4uLbfSk9t
“Pagi, Ardian,” sapanya manis sambil menoleh. “Ikut lari pagi? Aku biasa lari sendirian, bosan.”
1155Please respect copyright.PENANAasVV4cP1uE
Ardian menelan ludah. “Boleh. Bareng-bareng lebih seru.”
1155Please respect copyright.PENANAXmnIqpaYbl
Mereka berlari bersama menyusuri jalan kompleks. Setiap langkah, payudara Rina bergoyang naik turun di dalam sports bra. Napasnya yang sedikit tersengal terdengar sensual di telinga Ardian. Saat melewati tanjakan kecil, Rina pura-pura kehilangan keseimbangan dan memegang lengan Ardian erat. Tubuh mereka hampir bersentuhan. Ardian bisa merasakan panas tubuh Rina dan aroma keringat manisnya.
1155Please respect copyright.PENANAHVbyNsvc7A
“Kamu kuat ya,” puji Rina sambil tersenyum nakal. “Stamina tinggi pasti.”
1155Please respect copyright.PENANAMSEclBmVC6
Ardian hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia sudah membayangkan banyak hal yang tidak pantas dilakukan dengan tetangga baru.
1155Please respect copyright.PENANANmITQChJcz
Setelah lari, Rina mengajak Ardian mampir ke rumahnya untuk minum air dingin. “Rumahku sejuk, AC-nya bagus. Jangan malu-malu.”
1155Please respect copyright.PENANAzM6AFlfkMK
Rumah Rina rapi dan harum. Mereka duduk di ruang tamu. Rina sengaja duduk agak dekat, kakinya bersilang sehingga paha mulusnya terpampang. Saat ia menyerahkan gelas air, jarinya lagi-lagi menyentuh tangan Ardian lebih lama.
1155Please respect copyright.PENANAzKuQORWzKr
“Kamu single kan?” tanya Rina tiba-tiba.
1155Please respect copyright.PENANAdW1xUJqNFl
“Iya. Baru putus beberapa bulan lalu.”
1155Please respect copyright.PENANApt3b1UbTJm
“Bagus. Aku juga… sudah lama sendiri,” kata Rina pelan. Matanya menatap Ardian dalam-dalam. Ada kerinduan yang dalam di sana, bercampur nafsu yang sudah lama terpendam. “Kadang kesepian itu berat, ya? Tubuh butuh… pelukan.”
1155Please respect copyright.PENANACD2xUYan07
Ardian merasakan kontolnya berdenyut keras. Udara di ruangan seolah semakin panas. Rina membungkuk sedikit saat meletakkan gelas, memberi Ardian pemandangan langsung ke belahan payudaranya yang dalam dan montok.
1155Please respect copyright.PENANAxTJLLZmfQK
Saat Ardian hendak pamit, Rina berdiri dan memeluknya sekilas—pelukan “ramah tetangga” yang terlalu erat. Payudaranya menekan dada Ardian. Ardian bisa merasakan kehangatan dan kelembutan itu, serta detak jantung Rina yang cepat.
1155Please respect copyright.PENANAGvhRmbcFX7
“Datang lagi ya kapan-kapan. Aku suka ada teman ngobrol,” bisik Rina di telinga Ardian sebelum melepaskan pelukan.
1155Please respect copyright.PENANANbHzEkcNUj
Ardian pulang ke rumah dengan langkah gontai. kontolnya sudah basah oleh pra-cairan di ujungnya. Ia tahu, tetangga sebelah ini berbahaya. Sangat berbahaya.
1155Please respect copyright.PENANAhyZRjGZhSZ
Malam harinya, dari jendela kamarnya yang menghadap pagar pembatas, Ardian melihat Rina lagi di halaman belakang. Wanita itu mengenakan kimono tipis yang hampir transparan. Angin malam membuat kainnya menempel di tubuh, memperlihatkan garis memek dan pantatnya. Rina menoleh ke arah jendela Ardian, seolah tahu ia sedang diperhatikan. Ia tersenyum, lalu jarinya pelan menyentuh bibirnya sendiri sebelum masuk ke rumah.
1155Please respect copyright.PENANA1ZFMlZURby
Ardian menghela napas panjang. Malam ini pasti sulit tidur.
1155Please respect copyright.PENANARPVepkjo9r
Sementara Rina di kamarnya kembali mengeluarkan dildo kesayangannya. Kali ini ia membayangkan kontol Ardian yang tebal itu. Ia memasukkan dildo perlahan, merasakan setiap senti meregangkan dinding memeknya yang sensitif.
1155Please respect copyright.PENANALlmstXH4Kk
“Ahh… Ardian… aku mau kontolmu…” desahnya dalam gelap.
1155Please respect copyright.PENANAlM9Utw5xiL
Getaran tubuhnya, suara basah mainan, dan aroma nafsunya memenuhi kamar. Orgasme kedua malam itu datang lebih kuat, membuat kakinya gemetar hebat dan air matanya keluar sedikit karena kenikmatan yang terlalu intens.
1155Please respect copyright.PENANAuN9KYswrPW
Pertemuan pertama itu baru permulaan. Godaan kecil yang akan segera meledak menjadi api besar yang tak terbendung.
1155Please respect copyright.PENANAzS3nAbKrDW


