Bab 3: Undangan ke Rumah
1046Please respect copyright.PENANA1Lc3MYps39
Hari ketiga sejak Ardian pindah, hujan deras mengguyur kompleks Green Valley sejak sore. Udara terasa lembab dan sejuk, tapi di dalam dada Ardian justru panas membara. Ia baru saja selesai menata ruang kerja ketika ponsel bergetar. Pesan dari Rina.
1046Please respect copyright.PENANAF245Xc1KT5
*Rina: Ardian, hujan deras gini kamu belum makan malam kan? Aku masak lebih, ke sini yuk minum kopi hangat. Rumah sepi.*
1046Please respect copyright.PENANAcvvGB7LQCt
Ardian membaca pesan itu dua kali. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu ini bukan sekedar undangan kopi. Setelah dua hari penuh godaan dan sentuhan tak sengaja, ketegangan di antara mereka sudah mencapai titik didih.
1046Please respect copyright.PENANAL4WIMcbS7K
Ia mengganti kaus dengan yang lebih rapi, menyemprotkan sedikit parfum, lalu berjalan ke rumah sebelah dengan payung. Pintu rumah Rina terbuka sedikit sebelum ia mengetuk.
1046Please respect copyright.PENANAY2hIUHIGbj
“Masuk, Ardian,” suara Rina terdengar dari dalam.
1046Please respect copyright.PENANAQyISNvsfZT
Ruang tamu Rina hangat diterangi lampu kuning temaram. Aroma kopi dan masakan ringan memenuhi udara. Rina muncul dari dapur mengenakan gaun rumah tipis berwarna merah maroon yang panjangnya hanya sebatas paha. Kainnya menempel di tubuh karena kelembaban udara, menampilkan dengan jelas bentuk payudara D-cup yang montok tanpa bra. puting-putingnya menonjol tegas di balik kain. Rambutnya tergerai basah, seolah baru mandi.
1046Please respect copyright.PENANAg6PBjGPRBD
“Kamu basah,” kata Rina sambil tersenyum, matanya menelusuri tubuh Ardian yang agak basah oleh hujan. “Sini, aku ambilkan handuk.”
1046Please respect copyright.PENANA6kmoFBxUaE
Ia mendekat dan menyeka bahu Ardian dengan handuk kecil. Gerakan itu membuat payudaranya menyentuh lengan Ardian. Bau sabun mandi strawberry bercampur aroma tubuh wanita dewasa yang sudah mulai terangsang tercium jelas. Ardian menahan napas.
1046Please respect copyright.PENANAltCGvH6EeV
“Terima kasih, Rin.”
1046Please respect copyright.PENANA9qEpoOUDmH
Mereka duduk di sofa ruang tamu yang lebar dan empuk. Rina menyajikan kopi hitam panas dan beberapa kue kecil. Kakinya bersilang, dress-nya naik sedikit menampilkan paha dalam yang mulus. Obrolan ringan tentang hujan, pekerjaan, dan tetangga perlahan berubah menjadi intim.
1046Please respect copyright.PENANAkkdByTeO6w
“Aku senang kamu datang,” kata Rina pelan sambil menatap Ardian dalam-dalam. “Sudah lama tidak ada pria yang duduk di sofa ini… yang bisa membuat saya merasa… hidup lagi.”
1046Please respect copyright.PENANADn9bXNG0Aq
Ardian meletakkan cangkir kopinya. “Kamu cantik sekali malam ini, Rin. Dress ini… berbahaya.”
1046Please respect copyright.PENANABmqOYGzVo1
Rina tertawa kecil, suaranya serak. “Memang sengaja. Aku ingin kamu lihat.”
1046Please respect copyright.PENANAWsRDFX8wC8
Udara di ruangan seolah semakin tebal. Rina mendekat, tangannya menyentuh paha Ardian. Ardian tidak menahan diri lagi. Ia meraih pinggang Rina dan menariknya ke pangkuannya. Tubuh mereka menempel erat. Payudara Rina tertekan di dada Ardian.
1046Please respect copyright.PENANA5es94dX8ev
Ciuman pertama terjadi begitu saja—panas, lapar, dan penuh nafsu. Bibir Rina lembut dan manis, lidahnya langsung menyusup masuk, menari liar dengan lidah Ardian. Suara kecupan basah “chup… chup…” memenuhi ruangan. Tangan Ardian menjelajahi punggung Rina, turun ke pinggul lebar, lalu meremas pantat bulatnya kuat-kuat.
1046Please respect copyright.PENANAMXzoayEW1t
“Ahh…” desah Rina di antara ciuman. “Kamu kasar… aku suka.”
1046Please respect copyright.PENANAFSzwo5eDmT
Ardian membalik posisi, menindih Rina di sofa. Ia menciumi leher jenjang Rina, menghisap kulitnya hingga meninggalkan bekas merah. Tangan kanannya naik ke payudara, meremas montoknya melalui kain tipis. puting Rina sudah sangat keras. Ia memilinnya pelan, menarik sedikit.
1046Please respect copyright.PENANAN7i1n6oleL
“putingmu keras sekali,” bisik Ardian kotor. “Sudah lama ingin disentuh ya?”
1046Please respect copyright.PENANAWfrhTj30yT
Rina mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Iya… sentuh aku, Ardian. Aku sudah basah dari tadi.”
1046Please respect copyright.PENANA91JXsNWo6u
Ardian menurunkan tali dress Rina. Payudara montok itu melompat keluar, pucat pink di tengah kulit sawo matang. Ia langsung menunduk, mengisap puting kanan dengan rakus. Lidahnya memutar, menghisap kuat, sesekali menggigit pelan. Rina melengkungkan punggung, tangannya menekan kepala Ardian lebih dalam.
1046Please respect copyright.PENANAVFXtcauY2l
“Ya… hisap lebih kuat… ahh!” erang Rina. memeknya sudah banjir. Ia menggesek-gesekkan paha ke paha Ardian, mencari gesekan.
1046Please respect copyright.PENANAiEw39lAdtR
Tangan Ardian turun lebih rendah. Ia angkat dress Rina hingga pinggang. Tidak ada celana dalam. memek pink Rina sudah mengkilap oleh cairan orgasmenya sendiri, bibirnya membengkak, kristoriskecilnya mengeras menonjol. Aroma nafsu wanita yang manis dan sedikit asin memenuhi hidung Ardian.
1046Please respect copyright.PENANAHi0OZUBPy5
“memekmu benar-benar selalu basah,” gumam Ardian penuh kekaguman. Ia mengusap bibir memek dengan jari tengahnya, merasakan licinnya yang hangat. Rina menggigil hebat.
1046Please respect copyright.PENANA2Vj1kORNks
“Masukin jari… tolong…” pinta Rina dengan suara memohon.
1046Please respect copyright.PENANAMOrJ6i9und
Ardian memasukkan satu jari perlahan. Dinding memek Rina langsung mencengkeramnya, hangat, basah, dan berdenyut. Ia tambah jari kedua, mengaduk pelan sambil ibu jarinya menekan kristoris
1046Please respect copyright.PENANAkaOLT4PmiC
“Slurp… slurp…” suara jari keluar masuk terdengar jelas. Rina menggoyang pinggulnya mengikuti irama, kakinya terbuka lebar di sofa. Wajahnya memerah, bibirnya terbuka, desahan keluar tanpa henti.
1046Please respect copyright.PENANAcHmY6PnV74
Ardian turun lebih rendah. Ia ingin merasakan Rina sepenuhnya. Lidahnya menjilat kristorisdengan lembut dulu, lalu semakin kuat. Ia mengisap kristorisitu sambil jari-jarinya terus bergerak di dalam memek. Rasa manis asin cairan orgasme Rina memenuhi mulutnya.
1046Please respect copyright.PENANAiYyQL5evMm
Rina menjerit kecil. “Ardian! Lidahmu… enak sekali… jangan berhenti… ahh!!”
1046Please respect copyright.PENANAUPHJtd2IxV
Tubuh Rina mulai kejang. Kakinya gemetar hebat, jari kaki ditekuk. memeknya berdenyut kuat di sekitar jari Ardian. Dengan mengeluarkannya yang panjang, ia mencapai orgasme pertama. Cairan bening hangat menyembur keluar, muncrat ke mulut dan dada Ardian. Sofa di bawahnya basah.
1046Please respect copyright.PENANAKHHPgDwYuB
Tapi Ardian tidak memberi waktu istirahat. Ia terus menjilat dan mengaduk hingga orgasme kedua datang hanya dua menit kemudian. Rina menangis kenikmatan, air mata mengalir.
1046Please respect copyright.PENANA39LlkNv2bE
“Aku… mau tititmu sekarang…” pinta Rina dengan suara lemah tapi penuh nafsu.
1046Please respect copyright.PENANATFpyntc3Vo
Ardian berdiri, melepas celananya. tititnya yang 18 cm tebal melompat keluar, ujungnya sudah basah oleh sperma bening. Rina memandanginya dengan mata lapar.
1046Please respect copyright.PENANAMsPMZLeVMx
“Besaaar…” bisiknya. Ia meraih titit itu, menggenggamnya, mengocok pelan. Tangan Rina lembut tapi halus.
1046Please respect copyright.PENANAYmPJ5z63WB
Ardian duduk di sofa, menarik Rina ke atas pangkuannya. Rina memegang titit Ardian, menggesekkan ujungnya ke bibir memeknya yang licin. Sensasi panas dan dingin bercampur saat ujung titit menyentuh kristoris.
1046Please respect copyright.PENANAD5qP1rJqmt
“Masukin pelan dulu… aku mau rasain setiap senti,” desah Rina.
1046Please respect copyright.PENANATyI9NZaFTE
Ia turun perlahan. Kepala titit masuk, mencium dinding memeknya yang sudah sangat basah. Rina merasakan penuh yang luar biasa. “Ahh… tebal… meregang sekali… sakit enak…”
1046Please respect copyright.PENANABYuVBUNhaT
Ia turun lebih dalam, senti demi senti. Saat sudah separuh, ia berhenti sebentar, bernapas tersengal, menyesuaikan diri dengan ketebalan itu. Lalu ia turun sepenuhnya hingga titit Ardian tertelan habis di dalam memeknya.
1046Please respect copyright.PENANAa8e5s5D6ju
“Penuh… perutku terasa penuh…” erang Rina. Ia mulai naik turun, pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara “plok… plok… plok…” basah memenuhi ruang tamu. Payudaranya bergoyang-goyang di depan wajah Ardian.
1046Please respect copyright.PENANASchGqVYqzC
Ardian meremas pinggul Rina, membantu gerakannya. Sesekali ia menampar bulat Rina dengan suara keras “plak!” yang membuat Rina semakin pembohong.
1046Please respect copyright.PENANAcMKNRPeGx8
“Kamu suka ya dipukul?” tanya Ardian dominan.
1046Please respect copyright.PENANAMFmROUsvk8
“Suka… tampar lagi… aku memek tetangga yang nakal…” jawab Rina kotor.
1046Please respect copyright.PENANADvwNnn2Ogc
Gerakan semakin cepat. Keringat mereka bercampur. Bau seks memenuhi ruangan. Ardian bangkit, mengangkat Rina tanpa melepaskan sambungan, lalu menidurkannya di sofa dan memanaskan dari atas. Setiap hantaran dalam, ujung tititnya menyentuh titik paling dalam Rina.
1046Please respect copyright.PENANAyZcuJvVsqR
Rina orgasme ketiga dengan squirting lagi. memeknya mencengkeram titit Ardian kuat-kuat, berdenyut hebat. Air matanya mengalir deras.
1046Please respect copyright.PENANAHY3h3wSwdz
“Keluar di dalam ya… isi aku…” pinta Rina.
1046Please respect copyright.PENANAEslIQ86pLB
Ardian mempercepat. Dengan erangan panjang, ia menyemburkan sperma panasnya dalam-dalam ke memek Rina. Rina merasakan denyutan sperma itu, perut terasa kembung penuh. Tubuhnya kejang lagi, orgasme kecil menyusul.
1046Please respect copyright.PENANAT15ZXyPLoK
Mereka berpelukan di sofa yang basah, napas tersengal. Ardian mencium kening Rina dengan lembut.
1046Please respect copyright.PENANAVP9SbBv1EO
“Ini baru permulaan, Rin,” bisiknya.
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah
1046Please respect copyright.PENANAU1YbAUTFj2


