“Iya Nak… Mama milik Dafa sekarang,” bisik Mama lagi, suaranya gemetar. “Mama mau sentuhan anak sendiri…”
Mendengar itu Aku nggak bisa menahan diri lagi. Aku angkat wajah Mama dengan kedua tanganku, lalu langsung menempelkan bibirku ke bibirnya. Ciuman pertama yang sesungguhnya itu terjadi di saat yang sama, tanpa jeda dari pengakuan tadi.
Bibir Mama lembut sekali, hangat, dan sedikit basah karena air mata. Aku tekan lebih dalam, merasakan bibir bawah Mama yang penuh itu menyerah di bawah tekanan bibirku. Mama mendesah kecil di dalam mulutku, “Mmmh…” lalu lidahnya keluar pelan, menyentuh bibirku dengan ragu tapi penuh rasa ingin.
Aku buka mulutku, lidah kami langsung bertemu. Lidah Mama panas dan lembut, berputar pelan di sekitar lidahku, mengisap ujung lidahku dengan gerakan yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Ciuman kami semakin dalam, lumatan panjang yang basah. Suara kecupan lembut “chuu… mmpph… mmmh…” terdengar tiap kali lidah kami bergesekan dan saling dorong. Aku hisap lidah Mama masuk ke mulutku, lalu Mama balas mengisap lidahku dengan kuat, seolah ingin menelan seluruh nafsuku.
Tangan kananku turun ke dada Mama, meremas payudaranya yang besar dan montok dari luar daster yang sudah setengah terbuka. Daging payudaranya begitu lembut, penuh, dan berat di telapak tanganku. Aku remas pelan dulu, lalu semakin kuat, jari-jariku tenggelam ke dalam kelembutan itu. Puting Mama sudah keras menonjol, aku cubit pelan dengan ibu jari dan telunjuk, memilinnya perlahan.
Mama melengkungkan punggungnya, dadanya semakin menekan tanganku. “Aahh… remas tetek Mama… lebih kuat Nak…” desahnya di sela ciuman kami yang liar. Lidahnya semakin agresif, masuk dalam-dalam ke mulutku, berputar-putar dengan rakus.
Aku tarik resleting daster Mama sampai bawah, membuka kain itu lebar-lebar. Kedua payudaranya langsung terbebas, bergoyang berat di depanku. Aku pindahkan mulut dari bibir Mama ke payudaranya. Aku hisap puting kiri Mama kuat-kuat, lidahku berputar cepat di sekitar puting yang mengeras itu. Mama pegang kepalaku dengan kedua tangan, menekan wajahku lebih dalam ke dadanya.
“Ya… hisap tetek Mama… gigit pelan… enak sekali Dafa…” suaranya serak penuh kenikmatan.
Aku gigit putingnya pelan, tarik hingga memanjang, lalu lepas dan pindah ke puting kanan. Aku hisap bergantian sambil tangan kiriku meremas payudara yang satu lagi dengan kasar tapi penuh kasih. Mama menggeliat di bawahku, pinggulnya naik-turun pelan, menggesek paha dalamnya ke batang kontolku yang masih keras menekan tubuhnya.
Kami berguling pelan tanpa melepaskan ciuman. Sekarang aku di atas Mama sepenuhnya. Kontolku terjepit di antara perutku dan perut Mama, gesekan hangat kulit ke kulit membuatku mendesah di dalam mulutnya. Aku gesek kontolku pelan maju mundur di kulit perut Mama yang lembut, merasakan denyutan kontolku yang semakin kuat.
Mama buka kakinya lebih lebar, membiarkan pinggulku masuk di antara pahanya. Kontolku sekarang menekan paha dalam Mama yang hangat dan mulus. Aku gesek batang kontolku naik-turun di situ, merasakan kelembutan kulit pahanya yang tebal.
“Cium Mama lagi… lebih dalam…” pinta Mama dengan napas tersengal.
Aku tarik tengkuk Mama, lumat bibirnya lagi dengan liar. Lidah kami saling kejar, saling isap, air liur kami bercampur tapi kami tak peduli. Ciuman ini terasa seperti lapar bertahun-tahun yang akhirnya terpuaskan. Tangan Mama turun, memegang kontolku lagi, mengocoknya pelan naik-turun dengan gerakan yang sudah semakin berani.
“Kontol Dafa… tebal sekali… panas… Mama suka pegang ini…” bisiknya di sela ciuman.
Aku remas pantat Mama dari belakang dengan kedua tangan. Daging pantatnya yang montok dan besar terasa empuk di genggamanku. Aku angkat sedikit pinggul Mama, menekan kontolku lebih rapat ke celah antara pahanya. Gerakan gesekan kami semakin selaras, pelan tapi penuh tekanan.
Kami terus berciuman tanpa henti. Kadang lembut dan penuh kasih sayang, kadang liar dengan gigitan kecil di bibir, di leher, di bahu. Aku cium leher Mama dalam-dalam, menghisap kulitnya sampai meninggalkan bekas merah tipis. Mama mendesah panjang, 6113Please respect copyright.PENANAIjFbYb5qiq
“Aahh… Dafa… Mama milik kamu… sentuh Mama di mana saja…”
Aku balik posisi lagi dengan cepat, menindih Mama dengan tubuhku yang lebih besar. Ciuman kami semakin intens dan brutal. Aku gigit bibir bawah Mama kuat-kuat, tarik, lalu hisap lagi dengan rakus. Lidah kami saling tikam tanpa ampun, berputar liar, saling hisap kuat-kuat sampai mulut kami berdua penuh air liur. Aku remas kedua payudara Mama bergantian dengan sangat kasar, memilin putingnya, menariknya, menekannya, memijatnya dari segala arah. Mama melengkungkan tubuhnya setiap kali, mulutnya semakin ganas melumat mulutku, pinggulnya naik-turun liar menggesek kontolku.
Kami terus berciuman seperti itu hampir satu setengah jam penuh tanpa henti. Kadang ciuman kami pelan dan dalam dengan lidah saling memijat lembut tapi tetap intens, lidah kami berputar perlahan sambil saling menjilat. Kadang tiba-tiba menjadi liar dan brutal lagi — gigitan, hisapan kuat, dorongan lidah dalam-dalam, mengerang di dalam mulut satu sama lain. Tubuh kami sudah basah keringat tipis, dada kami naik-turun cepat, napas kami saling bercampur.
Mama akhirnya rebah lemas di kasur, napasnya ngos-ngosan berat, bibirnya bengkak merah dan basah karena lumatan kami yang panjang dan ganas. Matanya setengah terpejam penuh kepuasan dan hasrat yang membara. Aku peluk dia erat dari samping, kontolku masih keras menekan paha dalamnya yang hangat. Mama memegang kontolku dengan tangan kanannya, mengusap pelan naik-turun seolah menenangkan dan menandai miliknya.
“Dafa… ciuman tadi… Mama belum pernah dicium seperti itu seumur hidup Mama,” bisiknya dengan suara serak dan lemah karena kelelahan kenikmatan. “Lidah kamu… ganas sekali… remasan tangan kamu tetek Mama… Mama hampir gila. Mama mau lebih dari ini. Mama mau rasain kontol anak Mama di mulut Mama… mau Mama hisap dalam-dalam… mau di memek Mama juga…”
Aku cium bibir Mama lagi dengan dalam dan intens, meski kami sudah lelah — lumatan yang lebih lembut tapi tetap penuh nafsu dan lidah saling memutar perlahan. 6113Please respect copyright.PENANAiaFSL4TRaT
“Iya Ma… mulai sekarang setiap malam, setiap saat yang kita mau, adalah milik kita berdua. Kontol aku milik Mama sepenuhnya. Memek Mama milik aku sepenuhnya. Kita akan lakukan semuanya pelan-pelan… tapi pasti akan semakin dalam.”
Mama tersenyum lemah, matanya penuh cinta terlarang dan nafsu yang sudah terbakar habis-habisan. Ia rebah nyaman di pelukanku, payudaranya yang besar dan lembut menempel hangat di dadaku, tangannya masih memegang kontolku dengan posesif, sesekali meremas pelan.
Rahasia kami sudah semakin dalam dan tak terbendung. Ciuman pertama yang terlarang ini sudah membakar segalanya menjadi api yang semakin besar dan tak mungkin padam lagi. Malam ini baru permulaan dari segala yang akan datang.
ns216.73.216.243da2


