Siang itu aku pulang kuliah lebih awal karena dosen membatalkan kelas. Rumah sepi, Mama pasti lagi di kamarnya istirahat atau ngurus sesuatu. Aku langsung ke kamar Mama buat ambil charger laptop yang kemarin ketinggalan. Pintu kamar Mama nggak dikunci, cuma digeser sedikit. Aku masuk pelan, mataku langsung tertuju ke meja rias di sudut kamar.
Laptop Mama terbuka, layarnya masih nyala. Aku mendekat, berniat cuma nutup layar biar hemat baterai. Tapi apa yang kulihat bikin kontolku langsung berdenyut keras di dalam celana jeans. Folder terbuka di layar: “File Rahasia”. Di dalamnya ratusan file video porno,beberapa cerita seks dan hampir semuanya bertema incest Ibu-Anak. Judul-judulnya kasar dan langsung ke pokok: “Mom Seduces Big Cock Son”, “Janda Haus Kontol Anak Sendiri”, “Mama Ngentot Anak di Rumah Saat Sepi”, dan masih banyak lagi.
Aku klik salah satu video. Di layar, seorang ibu cantik montok lagi di atas anaknya, payudaranya bergoyang-goyang besar sambil naik-turun di kontol anak yang tebal. Suara desahan wanita itu memenuhi speaker kecil laptop: “Aahh… kontol anak Mama… ngisi memek Mama banget… entot Mama lebih keras nak…”
Jantungku berdegup kencang. Aku buka folder lain. Ada subfolder “Mainan Mama”. Di situ foto-foto dildo-dildo Mama. Ada yang besar hitam panjang 20 cm, ada yang bergetar dengan bentuk kontol realistis, ada yang double ended. Beberapa foto diambil di kamar ini juga, Mama selfie memegang dildo sambil memasukkan ke mulutnya atau ke memeknya. Tubuh Mama yang sama persis dengan yang aku lihat di kamar mandi malam itu — payudara besar, pinggul lebar, pantat montok.
Kontolku sudah ngaceng penuh di celana. Aku duduk di kursi Mama, tangan kananku tanpa sadar meremas kontol dari luar kain. “Mama… ternyata Mama suka yang beginian… suka bayangin kontol anak sendiri…” gumamku pelan.
Tiba-tiba aku dengar suara pelan dari arah kasur. Aku menoleh. Mama sedang tidur miring, tapi dasternya naik sampai pinggang. Tangannya ada di antara pahanya. Jari-jarinya bergerak pelan menggosok memeknya sendiri. Napas Mama berat, mata masih terpejam, tapi bibirnya sedikit terbuka mengeluarkan desahan kecil “Mmmh… Dafa…”.
Aku bangkit pelan, mendekati kasur. Mama nggak sadar aku ada di situ. Jarinya sekarang dua buah, masuk-keluar pelan dari memeknya yang kelihatan sudah licin. Payudaranya yang besar naik-turun mengikuti napasnya, putingnya keras menonjol di balik kain daster. Aku berdiri tepat di samping kasur, kontolku menonjol jelas di celana.
“Mama…” panggilku pelan.
Mama langsung membuka mata. Wajahnya pucat seketika. Tangannya berhenti, tapi masih di memeknya. “Dafa…! Kamu… kapan pulang?” suaranya gemetar.
Aku ambil laptop dari meja, bawa ke depan Mama. Layar masih menunjukkan video mother-son yang sedang pause di adegan penetrasi dalam. “Ini apa, Ma? Mama nonton yang beginian? Koleksi dildo Mama juga banyak banget.”
Mama duduk tegak, wajahnya merah padam. Matanya berkaca-kaca. Ia tarik selimut buat nutup pahanya, tapi tangannya masih gemetar. “Dafa… Mama… Mama minta maaf… jangan bilang siapa-siapa…”
Aku duduk di pinggir kasur, dekat sekali dengan Mama. “Mama sange ya? Kontol Papa nggak ada lagi, jadi Mama pakai dildo dan video begini setiap hari?”
Mama menunduk, air mata jatuh ke pangkuannya. “Tiga tahun… tiga tahun Mama janda. Mama coba tahan, tapi… Mama butuh sentuhan. Mama butuh kontol laki-laki yang beneran… bukan mainan karet. Setiap malam Mama bayangin… bayangin anak Mama yang sudah gede ini… kontol Dafa yang pasti sudah besar dan tebal… Mama tahu itu salah, tapi Mama nggak bisa berhenti…”
Suara Mama pecah. Ia menangis pelan, bahunya naik-turun. Aku merasa kasihan, tapi kontolku malah semakin keras mendengar pengakuan itu. Aku letakkan tangan di bahu Mama, merasakan kulitnya yang hangat di balik daster tipis.
“Mama… aku lihat Mama di kamar mandi malam itu. Aku lihat Mama main sendiri sambil desah-desah. Malam kemarin juga… pantat Mama gesek kontol aku lama banget. Mama sengaja kan?”
Mama mengangguk pelan, masih menangis. “Iya… Mama sengaja. Mama tahu kamu ngintip. Mama tahu kamu gesek di pantat Mama. Mama… Mama sange banget, Nak. Mama sudah lama nggak merasakan kontol sungguhan yang panas dan berdenyut di dalam memek Mama. Dildo cuma bikin Mama tambah kangen yang asli.”
Aku geser lebih dekat. Tangan kananku naik ke pipi Mama, hapus air matanya. “Mama mau kontol aku? Kontol anak sendiri?”
Mama menggigit bibir bawahnya. Matanya yang basah menatap aku dalam-dalam, lalu turun ke tonjolan kontolku yang jelas di celana. “Mau… Mama mau banget. Tapi ini salah, Dafa. Mama takut… takut kita nggak bisa berhenti nanti.”
Aku ambil tangan Mama, tarik pelan ke pangkuanku. Telapak tangan Mama yang hangat menyentuh kontolku dari luar celana. Mama menahan napas, tapi jarinya langsung meremas pelan, merasakan ketebalan dan panjangnya.
“Ini… kontol Dafa… besar sekali…” bisik Mama, suaranya bergetar campur nafsu. Jarinya naik-turun pelan mengusap batang kontolku dari luar kain. Aku mendesah pelan, pinggulku maju sedikit, menekan tangan Mama lebih kuat.
“Mama… buka celanaku. Rasain langsung.”
Mama ragu sebentar, tapi nafsunya menang. Dengan tangan gemetar ia buka resleting celanaku, tarik boxer ke bawah. Kontolku langsung melompat keluar, tegak keras di depan wajah Mama. Kepala kontolku yang merah mengkilap, urat-urat tebal kelihatan jelas.
Mama menatapnya lama, napasnya semakin berat. “Gede sekali… kontol anak Mama… tebal banget…” Ia pegang batangnya dengan tangan kanan, merasakan panas dan denyutannya. Jarinya naik-turun pelan, memijat dari pangkal sampai ujung. Aku mendesah nikmat, tanganku meremas payudara Mama dari luar daster.
Mama mendekatkan wajahnya. Bibirnya yang lembut menyentuh ujung kontolku pelan, memberi ciuman kecil. Lalu lidahnya keluar, menjilat pelan di sekeliling kepala kontol. Sensasinya panas dan basah. Aku pegang rambut Mama, dorong pelan ke depan.
“Mama… masukin ke mulut Mama…”
Mama membuka mulutnya lebar, masukkan kepala kontolku ke dalam. Hangatnya mulut Mama langsung mengelilingi kontolku. Ia mengisap pelan, lidahnya berputar di bawah kepala kontol. “Mmmph…” suara Mama teredam karena mulut penuh. Ia turun lebih dalam, hampir setengah batang masuk, pipinya agak cekung karena mengisap kuat.
Aku pegang kepala Mama, dorong pelan maju-mundur. Mama mulai gerak naik-turun, mulutnya basah dan hangat mengulum kontol anaknya sendiri. 6840Please respect copyright.PENANASKtuGNNrwJ
Suara “slurp… slurp…” pelan terdengar tiap ia naik-turun. Payudaranya bergoyang di balik daster, aku masukkan tangan ke dalam kain, remas langsung daging payudara Mama yang besar dan lembut. Putingnya keras di telapak tanganku.
“Mama enak banget… mulut Mama panas… aku mau isi mulut Mama nanti…” desahku.
Mama semakin bersemangat. Ia hisap lebih kuat, tangan kirinya memegang bola-bolaku, meremas pelan. Kepalanya maju mundur lebih cepat, kontolku masuk keluar dari mulutnya dengan suara basah. Air liur Mama menetes di dagunya, tapi ia nggak peduli. Matanya menatap aku penuh nafsu.
Aku tarik Mama naik, cium bibirnya dalam-dalam. Lidah kami saling berputar, air liur bercampur. Tangan aku remas payudara Mama keras, memilin putingnya. Mama mendesah di dalam ciuman: 6840Please respect copyright.PENANAphvtlejdyA
“Aahh… Dafa… sentuh Mama lebih banyak…”
Aku dorong Mama rebah ke kasur. Aku naik ke atasnya, cium lehernya, turun ke payudaranya. Aku hisap puting kiri Mama kuat-kuat, gigit pelan, tarik sampai memanjang. Mama melengkungkan punggungnya, tangannya memegang kepalaku. 6840Please respect copyright.PENANAKHQGrUx5Sd
“Ya… hisap tetek Mama… Mama suka…”
Kami terus berciuman dan saling raba hampir satu jam. Aku gosok kontolku di paha Mama, di perutnya, di dekat memeknya tanpa masuk. Mama menggesek pinggulnya ke kontolku, memohon dengan desahan. 6840Please respect copyright.PENANA82ImDYt1Nt
“Dafa… Mama mau kontol kamu… tapi pelan-pelan ya… Mama udah becek, Mama mau…”
Aku peluk Mama erat. Tubuh kami saling menempel, kontolku terjepit di antara perut kami. 6840Please respect copyright.PENANAgukxXtH4AH
“Kita pelan-pelan, Ma. Tapi mulai sekarang… kontol aku milik Mama. Memek Mama milik aku.”
Mama mengangguk, air mata bahagia dan nafsu bercampur.6840Please respect copyright.PENANA5EYCV6wG86
“Iya Nak… Mama milik Dafa sekarang. Mama mau sentuhan anak sendiri…”
Rahasia sudah terbongkar. Dan dari sini, tidak ada jalan mundur lagi. Malam itu kami tidur saling peluk, tangan Mama masih memegang kontolku pelan, kontolku masih menekan paha Mama. Besok… pasti akan lebih jauh lagi.
ns216.73.216.243da2


