Malam harinya rumah terasa lebih panas dari biasanya. AC di kamarku rusak, anginnya cuma keluar angin hangat doang malah bikin pengab. Aku sudah coba benerin tapi gagal. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, badanku sedikit lengket karena keringat. Mama masuk ke kamarku dengan daster tipis biru muda yang panjangnya cuma sampai paha. Payudaranya yang besar itu bergoyang pelan di balik kain tipis, putingnya samar-samar kelihatan menonjol.
“Dafa, AC kamu rusak ya? Malam ini tidur sama Mama aja di kamar Mama. Kasur Mama besar, nggak apa-apa,” kata Mama dengan suara lembut sambil tersenyum. Matanya ada kilat yang sama seperti pagi tadi, tapi aku pura-pura nggak notice. Aku mengangguk, ambil bantal dan selimut tipis, lalu ikut Mama ke kamar utama.
Kamar Mama harum sabun mandi yang ringan. Lampu samping sudah dimatikan, hanya cahaya kecil dari lampu tidur kuning temaram. Mama naik ke kasur lebih dulu, rebah di sisi kiri, memunggungiku. Aku tidur di sisi kanan, membelakangi Mama dengan jarak sekitar 30 senti. Selimut tipis menutupi tubuh kami berdua. Aku mencoba memejamkan mata, tapi pikiran tentang malam kemarin — tubuh telanjang Mama di kamar mandi — terus berputar. Kontolku mulai berdenyut pelan di dalam celana pendek boxer.
Waktu berlalu. Entah jam berapa, aku bangun karena panas. Tubuhku bergeser tanpa sadar mendekat ke Mama. Dada aku nempel pelan di punggung Mama yang hangat. Lalu… kontolku yang sudah setengah tegang tanpa sengaja menekan pantat Mama dari belakang. Kain daster Mama tipis sekali, hampir nggak ada penghalang. Kepala kontolku yang keras persis nempel di celah pantatnya yang bulat dan lembut. Aku langsung tegang total. Jantungku berdegup kencang, tapi aku pura-pura tidur, napas tetap teratur.
Mama bergerak pelan. Tubuhnya bergeser mundur sedikit, seolah mencari posisi nyaman. Pantatnya yang montok itu sekarang lebih rapat menekan kontolku. Aku bisa rasakan bentuk bulat sempurna pantat Mama, dagingnya empuk, hangat, dan sangat lembut. Kontolku ngaceng full keras sekarang, 18 cm tebal menekan kuat di antara celah pantatnya. Hanya dua lapis kain tipis yang memisahkan kontolku dari kulit pantat Mama.
Aku menahan napas. Tangan Mama yang ada di depan dadanya bergerak pelan ke belakang, seolah merapikan selimut. Jarinya tanpa sengaja menyentuh paha aku, lalu berhenti di situ. Mama nggak bilang apa-apa, napasnya tetap pelan seperti orang tidur. Tapi aku tahu… Mama nggak tidur. Pinggul Mama bergerak sangat pelan, hampir nggak kelihatan, maju mundur tipis sekali. Gerakan itu membuat pantatnya menggesek kontolku naik-turun dengan lembut.
“Nggh…” desah kecil keluar dari mulutku tanpa bisa kutahan. Kontolku berdenyut-denyut kuat di celah pantat Mama. Setiap gerakan pinggul Mama membuat kepala kontolku bergesekan dengan kain daster yang sudah agak naik ke atas. Aku bisa bayangkan betapa hangatnya kulit pantat Mama yang langsung menyentuh kontolku kalau kainnya hilang.
Mama menggesek lagi, lebih berani. Pinggulnya berputar pelan, melingkar kecil, seolah memijat kontolku pakai pantatnya. Aku merasakan tekanan empuk daging pantatnya yang tebal di batang kontolku, dari pangkal sampai ujung. Tangan Mama yang tadi di paha aku sekarang naik sedikit lebih tinggi, jarinya menyentuh pinggir boxer aku. Sentuhan itu ringan, tapi bikin bulu kudukku berdiri.
Aku berani geser tangan kananku ke depan, pura-pura gerak tidur. Telapak tanganku menyentuh pinggul Mama dari samping. Daging pinggulnya lembut sekali, penuh, hangat. Aku nggak berani remas, cuma letakkan tangan di situ. Mama nggak menolak. Malah pinggulnya bergeser lagi, membuat tanganku lebih rapat ke tubuhnya.
Kontolku sudah berdenyut keras banget. Aku bayangkan kalau aku dorong maju sedikit, kontolku bisa masuk ke celah pantat Mama lebih dalam. Bayangan memek Mama yang tebal dan hangat dari malam kemarin muncul lagi. Aku ingin sekali gesek kontolku langsung ke bibir memek Mama, tapi aku tahan. Ini masih pura-pura tak sengaja.
Mama mendesah pelan sekali, “Mmmh…” suaranya hampir seperti dengkuran tidur. Pinggulnya maju mundur lagi, lebih ritmis. Sekarang gerakannya jelas menggesek kontolku. Kain dasternya sudah naik sampai pinggang, aku bisa rasakan kulit paha belakang Mama yang mulus langsung menyentuh kulit pahaku. Hanya boxer aku yang masih menutupi kontol, tapi tekanannya sangat kuat.
Aku semakin berani kudorong pinggulku maju pelan, menekan pantat Mama lebih dalam. Kontolku sekarang terjepit sempurna di celah pantatnya. Aku rasakan otot pantat Mama mengejang pelan, seolah memeluk kontolku. Gerakan kami berdua semakin selaras, pelan, panas, penuh godaan. Setiap gesekan bikin kepala kontolku berdenyut nikmat.
Tangan Mama bergerak lagi. Jarinya sekarang merayap ke pinggir boxer aku, menyentuh kulit pinggangku. Sentuhan jari itu hangat, lembut, dan penuh arti. Aku geser tanganku lebih ke depan, menyentuh perut Mama yang rata dan lembut. Telapak tanganku naik pelan sampai hampir menyentuh bawah payudaranya. Aku bisa rasakan bobot payudara Mama yang besar bergoyang pelan mengikuti gerakan pinggulnya.
Kami terus begitu selama hampir setengah jam. Gesekan pelan, tekanan kontolku di pantat Mama, tangan saling menyentuh tanpa kata. Napas Mama semakin berat, tapi ia masih pura-pura tidur. Aku juga. Kontolku sudah basah di ujung oleh precum, tapi aku tahan untuk nggak gerak terlalu kasar.
Akhirnya Mama berhenti menggesek. Tubuhnya diam, tapi pantatnya masih rapat menekan kontolku yang masih ngaceng keras. Aku peluk pinggul Mama dari belakang dengan satu tangan, aku peluk dengan sangat pelan. Payudara Mama yang besar terasa naik turun karena napasnya. Malam itu hanya sampai situ, aku maupun mama tidak melanjutkan lebih lagi.
Pagi menjelang. Cahaya samar masuk lewat tirai. Mama bergeser pelan, membalikkan tubuhnya menghadap aku. Matanya setengah terbuka, tersenyum tipis. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. “Pagi, Nak…” bisiknya pelan. Payudaranya yang besar hampir nempel di dadaku. Aku masih pura-pura setengah tidur, tapi kontolku masih tegang menekan paha Mama.
Mama nggak menjauh. Malah kakinya bergeser sedikit, membiarkan kontolku tetap menempel di pahanya yang hangat. 7273Please respect copyright.PENANAmrqVQsI1hR
“AC di kamar kamu kan rusak, nanti Mama suruh orang benerin. Malam ini… tidur sini lagi ya?” katanya dengan suara yang lembut tapi ada getar lain di dalamnya.
Aku mengangguk pelan. 7273Please respect copyright.PENANAsENvcKdCQG
“Iya, Ma…”
Tangan Mama turun pelan, menyentuh pinggangku sebentar sebelum naik lagi. Sentuhan itu penuh kelembutan. Aku tahu malam kemarin bukan cuma mimpi. Mama haus sentuhan. Dan kontolku yang selalu tegang tiap dekat Mama ini… mulai jadi senjata rahasia.
Kami bangun pelan. Mama turun dari kasur dengan daster yang agak acak-acakan, payudaranya bergoyang berat. Aku tetap di kasur sebentar, mengatur napas, kontolku masih keras di boxer. Pikiranku penuh dengan sensasi pantat Mama yang empuk, gesekan hangat, dan janji malam depan.
Ini baru permulaan. Sentuhan tadi malam membuatku semakin gila ingin Mama. Ingin meremas payudara besar itu, ingin kontolku yang tebal ini masuk ke tubuh Mama yang hangat dan lembut. Aku tersenyum dalam hati. Mama juga tersenyum saat menoleh ke aku dari pintu kamar.
Malam ini… pasti akan lebih panas lagi.
ns216.73.216.243da2


