Malam itu rumah terasa pengap banget meskipun AC sudah kusetel suhu 18 derajat. Aku, Dafa, 21 tahun, baru pulang dari nongkrong sama temen-temen. Badanku capek, tapi kontolku malah ngaceng di dalam celana pendek gara-gara teringat cerita temenku yang ngentot Tante-Tante. Aku bangun dari kasur, kaki telanjang menyentuh lantai keramik yang dingin, lalu berjalan pelan menuju kamar mandi di koridor rumah yang sepi ini. Jam dinding menunjukkan pukul 11:17 malam. Lampu kamar sudah aku matiin, hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk.
Pintu kamar mandi nggak terkunci rapat. Hanya terbuka sedikit, sekitar lima sentian mungkin. Cahaya lampu neondengan warna kuning pucat menyebar keluar bareng suara air shower yang deras mengguyur tubuh seseorang. Aku hampir mendorong pintu buat cuci muka, tapi tubuhku langsung berhenti saat mata aku melihat di celah itu.
Di dalam sana… Mamaku. Indah. 42 tahun, berdiri telanjang bulat di bawah pancuran air hangat. Rambut hitam panjangnya yang biasa diikat rapi sekarang tergerai basah, menempel di punggung mulusnya yang berkilau. Air mengalir deras dari kepala shower, membasahi setiap inci tubuhnya. Payudaranya… astaga, gede banget. Montok, berat, tapi masih kencang meski usianya sudah segitu. Puting cokelat gelapnya mengeras karena air, berdiri tegak seperti lagi nunggu dihisap. Perutnya rata dengan lapisan lemak lembut yang bikin aku pengen remas. Pinggulnya lebar, pantatnya bulat besar seperti dua bola persik matang yang siap digigit.
Dan di antara paha mulusnya yang terbuka sedikit… memek Mamah.
Aku menelan ludah keras sampai tenggorokan sakit. Memeknya dicukur rapi, cuma ada garis tipis bulu hitam di atas klitoris yang sudah agak bengkak. Bibir memeknya tebal, gelap pink, basah bukan cuma karena air shower. Ada cairan bening kental yang lebih lengket menetes pelan dari celahnya, menjuntai panjang sebelum putus jatuh ke lantai. Bau sabun mawar yang manis langsung bercampur aroma memek alami Mamah — asam-manis, agak amis, seperti bau vagina perempuan dewasa yang lagi horny. Bau itu merembes keluar dari celah pintu dan langsung nyerbu hidungku. Kontolku langsung ngaceng full keras dalam sekejap, menekan kain celana pendekku sampai sakit.
“Ngghh…” desah Mamah pelan, hampir tenggelam suara air. Tangan kanannya meremas payudara kirinya sendiri dengan kasar. Jari-jarinya mencengkeram daging tetek yang lembut itu, memilin putingnya pelan-pelan, menariknya sampai memanjang. Tangan kirinya turun ke bawah, membelai bibir memeknya yang sudah licin. Ia membuka kaki lebih lebar, membiarkan air shower langsung menyemprot klitorisnya yang membengkak.
Aku mundur setengah langkah tapi mataku nggak bisa lepas dari pemandangan itu. Tangan kananku tanpa sadar masuk ke dalam celana, menggenggam kontolku yang sudah berdenyut-denyut. Tanganku naik-turun pelan saat aku mulai mengocok. Kepala kontolku sudah basah oleh precum yang lengket, bau anyir kontol langsung keluar. “Mama… tetek Mama gede banget… memek Mama pasti sempit dan panas,” gumamku dalam hati, suaraku pelan cuma seperti getaran napas.
Mama memutar tubuhnya perlahan, membelakangi pintu. Pantatnya yang montok itu bergoyang pelan saat ia membungkuk ambil sabun. Celah pantatnya terbuka lebar, lubang anusnya kecil pink mengkilap, dan memeknya menganga sedikit memperlihatkan dinding dalam yang merah basah. Cairan lendir putih kentalnya terlihat jelas menetes dari lubang memek ke paha dalamnya, bercampur air, membentuk benang panjang yang putus-putus. 8042Please respect copyright.PENANAZEjJmSQqoD
Suara “plip… plip…” cairan jatuh ke lantai keramik terdengar jelas di telingaku.
Aku mengocok lebih cepat. Tangan kiriku memegang kusen pintu agar tidak goyang. Kontolku sudah menegang, berat penuh sperma. Aku bayangin kontolku yang 18 cm ini mendorong masuk ke memek Mama, membelah bibir memek yang tebal itu, masuk pelan sampai pangkal, merasakan dinding memeknya yang panas dan berdenyut ngisep kontolku.
Di dalam, Mama menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dua jarinya sudah masuk ke memeknya, keluar-masuk dengan suara “cuk… cuk… cuk…” yang basah. “Aahh… lama banget nggak ada yang ngisi memek aku…” desahnya lebih keras. Suaranya serak, penuh nafsu. Aku bisa dengar napasnya yang tersengal-sengal. Jarinya semakin cepat, klitorisnya digosok putar-putar pake ibu jari. Memeknya semakin banjir. Cairan putih kental keluar banyak, menempel di jari-jarinya, bau memeknya semakin kuat, tajam, manis, bikin kepalaku pusing horny.
Aku mengocok kontolku sekuat tenaga. Tangan naik-turun cepat, menggosok kepala kontol yang sensitif. Precumku menetes deras ke lantai koridor — “tes… tes…” — bau anyirnya campur keringat malam. “Mama… aku mau jilatin memek Mama… mau masukin kontolku dalam-dalam… mau crot di dalam rahim Mama…” pikiranku liar banget.
Mama tiba-tiba menekuk lutut, pinggulnya maju mundur kayak lagi ngentot bayangan. “Aahh… ya… lebih dalam… Dafa… kontol Dafa…” Ia nyebut namaku! Tubuhnya gemetar hebat. Tiba-tiba squirting kecil keluar dari memeknya. Cairan bening muncrat tipis tapi deras, “pssssttt…”, bercampur air shower, jatuh ke lantai dengan suara cipratan. Bau squirt Mamah tajam, amis-manis, langsung memenuhi udara koridor. Lutut Mamah goyah, tangannya nempel di dinding buat tahan tubuh.
Itu cukup buat aku. “Nngghhh…!!” Aku mengerang pelan di tenggorokan. Kontolku meledak di genggaman. Sperma kental putih panas menyembur keluar dengan kuat. Satu… dua… tiga… empat kali. “Crrett… Crrett… Crrett…” Beberapa tetes mengenai dinding koridor, lantai, bahkan menyiprat ke celah pintu kamar mandi. Bau sperma yang pekat, anyir, dan asin langsung menyebar kuat. Kontolku berdenyut-denyut hebat, sisa sperma menetes pelan di jari dan paha.
Mama tiba-tiba membuka mata dan menoleh ke pintu. Senyum tipis muncul di bibirnya yang basah. Tangannya masih di memeknya, memainkan cairan kentalnya sendiri, memasukkan jari lagi sambil memandang ke arahku yang sudah mundur ke gelap. Aku buru-buru lari pelan ke kamar, jantung serasa mau copot, kontol masih setengah tegang menetes sperma.
Aku nutup pintu kamar, langsung rebah di kasur. Napasku ngos-ngosan. Pikiranku berputar gila. “Mama… ternyata Mama haus kontol juga. Memek Mama basah banget tadi… cairannya banyak… baunya enak… suaranya desah-desah nyebut namaku… Aku mau jilatin memek itu… mau ngentot Mama sampe Mama jerit minta ampun… mau isi memek Mama pake spermaku setiap hari…”
Malam itu aku ngocok lagi dua kali. Pertama bayangin kontolku masuk pelan ke memek Mama sambil cium bibirnya. Kedua bayangin Mama ngisep kontolku sampe tenggorokan. Sperma aku crot di perut, di tangan, di kasur. Bau sperma memenuhi seluruh kamar. Aku nggak bisa tidur sampe subuh.
Pagi harinya, Mama keluar kamar pakai daster tipis putih yang agak basah di bagian dada. Putingnya menonjol jelas, gelap, basah keringat atau entah apa. Ia tersenyum manis padaku yang duduk di meja makan, payudaranya bergoyang pelan tiap langkah. Bau sabun mawar dan aroma memek samar masih nempel di hidungku.
“Pagi, Dafa. Mama masakin sarapan ya. Kamu kok kelihatan capek? Tadi malam kamu begadang lagi?” tanyanya lembut, tapi matanya ada kilat nakal.
Aku menelan ludah, kontolku kembali berdenyut di bawah meja. “Iya, Ma… agak susah tidur.”
Mama mendekat, tangannya menyentuh bahuku pelan. Sentuhan hangat itu kayak listrik menjalar langsung ke kontolku. “Kalau ada yang mengganggu pikiran Dafa… bilang aja sama Mama. Mama siap bantu… apa saja, Nak.”
Suara Mama pelan, bibirnya basah, dan aku tahu… malam itu baru permulaan.
ns216.73.216.253da2


