CERITA DI BALIK BUNGKUS ROKOK
Malam itu, Santi tidak pergi bekerja. Dia duduk bersama kedua anaknya di rumahnya yang sempit itu, membuka semua bungkusan kain yang tersimpan di atas lemari. Dia mulai bercerita – tentang bagaimana neneknya memberikannya kain itu dengan harapan dia bisa menjadi seorang penjahit yang sukses. Tentang bagaimana dia pernah punya usaha kecil menjahit baju sebelum menikah dengan ayah mereka.
“Saat ayah kalian masih hidup, kita hidup cukup baik,” ujar Santi sambil menyentuh kain batik tua itu. “Aku menjahit baju untuk tetangga dan keluarga sekitar, dan ayahmu bekerja sebagai sopir angkot. Tapi kemudian ayahmu sakit parah, dan semua tabungan kita habis untuk biaya pengobatannya. Setelah ayahmu meninggal, usaha menjahitku juga tidak berjalan lagi karena tidak ada orang yang mau memesan baju dariku.”
Siska meraih tangan ibunya dengan hati-hati. “Kenapa kamu tidak memberitahukan kita tentang ini, Bu? Kita bisa saja membantu kamu. Aku bisa mencari pekerjaan paruh waktu setelah sekolah.”
“Tidak!” suara Santi tiba-tiba meninggi, kemudian dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. “Aku tidak mau kalian harus merasakan kesusahan yang kulalui. Aku ingin kalian bisa fokus pada sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik dari padaku.”
Riri duduk bersebelahan dengan ibu, kepalanya menyandar di bahu Santi. “Tapi kamu sakit karena pekerjaanmu itu, Bu. Dokter bilang paru-parumu sudah mulai terganggu karena sering menghirup asap rokok.”
Santi mengangguk perlahan. Dia mengambil salah satu bungkusan kain lagi – kain songket dengan motif burung merak yang indah. “Ini kain yang aku beli dengan uang gaji pertamaku sebagai SPG rokok,” katanya dengan suara yang penuh dengan rasa pahit. “Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa ini akan menjadi kain terakhir yang aku beli dengan uang dari pekerjaan itu. Aku akan segera mencari pekerjaan lain setelah kalian lulus sekolah.”550Please respect copyright.PENANAPIYsg1K2BB


