KAIN YANG TERLUPAKAN
Siska masuk ke dalam rumah yang sempit dan kumuh itu. Matanya menyapu setiap sudut ruangan – kasur lipat yang hanya satu, meja kayu yang sudah lapuk, dan lemari kayu tua yang berdiri di sudut kamar. Dia melihat beberapa bungkusan kain yang disimpan di atas lemari itu, tertutup debu tebal.
“Apa itu, Bu?” tanya Siska dengan mata yang membelalak. Dia mendekati lemari dan mengeluarkan salah satu bungkusan kain itu. Ketika dia membukanya, kain batik dengan motif bunga melati yang cantik muncul di hadapannya.
Santi berdiri di belakang anaknya, tangannya gemetar sedikit. “Itu adalah warisan dari nenekmu,” ujarnya pelan. “Kain pertama yang aku dapatkan saat menikah dengan ayah kalian.”
Riri juga mendekat, melihat kain itu dengan rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan. “Kenapa kamu tidak pernah membuatkan baju dari kain ini untuk kita, Bu? Saat kecil kita selalu menginginkan baju batik yang cantik seperti teman-teman kita.”
Santi merasa dada terasa sesak. Dia duduk di tepi kasur, menyilangkan tangan di depan dadanya. “Aku mau menyimpannya buat saat kamu berdua menikah nanti,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku mau membuatkan gaun pengantin dari kain ini. Tapi kemudian ayahmu sakit, dan semua uang yang aku simpan harus aku gunakan untuk biaya pengobatannya.”
“Kamu bisa saja menjual kain itu atau membuatkan baju untuk kita yang bisa kita pakai setiap hari!” kata Siska dengan nada yang meninggi. “Daripada kamu harus bekerja sebagai SPG rokok yang membuatmu selalu tercium bau rokok dan membuatmu sakit-sakitan!”
Santi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata mulai merembes melalui celah jarinya. “Kamu pikir aku suka dengan pekerjaanku ini? Setiap hari aku harus berdiri di depan toko selama berjam-jam, menawarkan rokok kepada orang-orang yang mungkin tidak tahu betapa berbahayanya itu. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Kalian butuh uang untuk sekolah, untuk makan, untuk hidup!”694Please respect copyright.PENANAg2ynFkzXP6


