API YANG MEMBAKAR DAN MEMBAWA HARAPAN
Keesokan paginya, Siska dan Riri bangun lebih awal. Mereka melihat ibu mereka sedang duduk di depan meja kecil, mesin jahit tua yang pernah milik neneknya sudah terbuka dan siap digunakan. Di depan ibu mereka ada beberapa kain yang sudah disiapkan.
“Bu mau menjahit apa?” tanya Riri dengan suara yang lembut.
Santi tersenyum pelan. “Aku mau membuatkan baju untuk kalian berdua dari kain-kain ini,” jawabnya. “Meskipun kalian sudah tidak kecil lagi, aku masih ingin memenuhi janjiku dulu kala.”
Tanpa berkata apa-apa, Siska dan Riri mulai membantu ibunya. Mereka membersihkan kain-kain itu dari debu, menyusunnya sesuai dengan warna dan motifnya. Santi mulai menjelajari setiap kain, memberitahu mereka tentang asal-usulnya dan cerita di balik setiap potongan kain itu.
“Saat aku bekerja sebagai SPG rokok, setiap kali aku melihat anak-anak kecil yang lewat, aku selalu berpikir tentang kalian,” ujar Santi sambil menjahit dengan hati-hati. “Aku selalu mengingatkan mereka untuk tidak pernah menyentuh rokok, meskipun itu adalah barang yang kulakukan promosikan. Aku tidak mau mereka merasakan kesusahan yang kulalui.”
“Kita akan membantu kamu mencari pekerjaan baru, Bu,” kata Siska dengan suara yang penuh semangat. “Kalian bisa membuka usaha menjahit lagi. Kami akan membantu mempromosikannya melalui media sosial.”
Riri mengangguk dengan antusias. “Ya, Bu. Banyak orang sekarang yang mencari baju dengan desain unik dan dibuat dengan tangan. Kamu bisa mengajariku cara menjahit juga.”
Santi merasa mata panas karena air mata yang ingin keluar. Dia menghentikan pekerjaannya sejenak dan melihat kedua anaknya dengan penuh rasa syukur. “Terima kasih,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Aku sudah merasa sangat bersalah karena tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk kalian.”
“Kamu sudah memberikan yang terbaik untuk kita, Bu,” jawab Riri sambil memeluk ibunya. “Itu sudah cukup.”
Setelah beberapa jam bekerja, mereka berhasil menyelesaikan dua buah baju batik yang cantik. Siska mencoba memakainya dan melihat dirinya di cermin yang sudah berkarat. Wajahnya tiba-tiba penuh dengan senyum.
“Cantik sekali, kan Bu?” katanya dengan suara yang penuh kegembiraan.
Santi mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Sangat cantik,” ujarnya pelan. “Seperti kamu berdua.”
Malam itu, Santi membungkus semua rokok yang masih ada dan menyimpannya ke dalam sebuah kotak. Dia akan memberikannya kepada teman kerjanya besok pagi. Kemudian dia mengambil mesin jahitnya dan melanjutkan pekerjaannya – membuatkan beberapa potongan kain kecil yang akan dijadikan aksesoris untuk baju-baju yang akan dia jual.
Rokok yang dulu menjadi sumber nafkah tapi juga sumber penderitaan kini akan digantikan oleh kain-kain yang menyimpan cerita cinta dan harapan. Api yang dulu hanya membakar batang kayu untuk menghasilkan asap kini akan digunakan untuk menjahit benang-benang yang akan menghubungkan hati satu sama lain.
Bagi Santi, kedua anaknya adalah nyala api yang tidak pernah padam dalam hidupnya – meskipun jalan yang ditempuh penuh dengan lika-liku, mereka selalu menjadi sumber harapan yang membuatnya tetap kuat dan terus berjuang.
520Please respect copyright.PENANA3R9qKgtSuf


