CERITA DI BALIK RIAYATAN YANG BERLEBIHAN
Malam itu, Santi tidak pergi bekerja. Dia duduk bersama kedua anaknya di kamar kost yang sempit itu, membuka semua bungkusan kain yang tersimpan di dalam lemari. Dia mulai bercerita – tentang bagaimana neneknya memberikannya kain batik itu dengan harapan dia bisa menjadi seorang wanita yang bahagia dan memiliki keluarga yang sederhana tapi penuh cinta. Tentang bagaimana dia harus meninggalkan impiannya untuk menjadi penjahit setelah ayah mereka meninggal dan dia harus mencari nafkah sendirian.
“Saat pertama kali aku bekerja sebagai SPG rokok, aku hanya berdiri di depan toko dan menawarkan rokok dengan sopan,” ujar Santi dengan mata yang berkaca-kaca. “Tapi uang yang aku dapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Kemudian seorang teman kerja memberitahuku bahwa di kawasan hiburan malam, para SPG yang lebih ‘menarik’ bisa mendapatkan bayaran yang lebih banyak. Awalnya aku menolak, tapi ketika aku tidak punya uang untuk membayar sewa kamar dan makanan, aku terpaksa menerima.”
“Kamu tidak perlu melakukan itu untuk kita, Bu,” kata Riri sambil memeluk ibunya. “Kita bisa saja bekerja bersama-sama. Aku bisa mencari pekerjaan kasir di warung dekat rumah.”
Santi menggeleng perlahan. Dia menyentuh wajah kedua anaknya dengan lembut. “Aku tidak mau kalian merasakan kesusahan yang kulalui. Aku ingin kalian bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Itu sebabnya aku terus bekerja dengan cara itu – agar suatu hari nanti kalian bisa keluar dari kehidupan yang penuh dengan kesusahan ini.”
Siska meraih tangan ibunya dengan erat. “Kita tidak ingin kehidupan yang lebih baik dengan cara yang seperti itu, Bu. Kita hanya ingin kamu selamat dan bahagia. Kita bisa hidup sederhana asal kita bersama-sama.”
ns216.73.216.250da2


