API YANG MEMBAKAR DAN MENCINTAI
Keesokan paginya, Santi membangunkan kedua anaknya dengan wajah yang sudah tidak mengenakan riasan lagi. Riasan yang biasanya membuatnya terlihat berbeda dan jauh dari dirinya sendiri kini sudah hilang, menampakkan wajah aslinya yang lebih lembut dan penuh dengan kelelahan.
“Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku itu,” ujar Santi dengan suara yang tegas. “Aku tidak ingin kalian melihat ibumu dengan cara seperti itu lagi. Kita akan mencari jalan keluar bersama-sama.”
Tanpa berkata apa-apa, Siska dan Riri mulai membantu ibu mereka membersihkan kamar kost itu. Mereka membuang semua poster rokok yang ada di dinding, membersihkan debu yang menumpuk di setiap sudut kamar, dan menyusun kain-kain yang sudah lama disimpan itu dengan rapi.
Santi mengambil mesin jahit tua yang pernah milik neneknya dari dalam lemari. Mesin itu sudah lama tidak digunakan, tapi masih dalam kondisi baik. Dia mulai menjahit kain batik itu dengan hati-hati, membuatkan sebuah baju untuk Siska dan rok untuk Riri.
“Saat aku menjahit ini, aku ingat akan semua harapan yang pernah kulakukan untuk kalian,” ujar Santi sambil fokus pada pekerjaannya. “Aku tidak bisa memberikan gaun pengantin seperti yang aku impikan, tapi aku bisa membuatkan baju yang bisa kalian pakai setiap hari – baju yang dibuat dengan cinta dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.”
Siska membantu ibu nya memasang benang ke mesin jahit, sementara Riri membantu mengukur kain untuk membuat roknya. Suara mesin jahit yang berdentang menjadi irama bagi cerita-cerita masa lalu yang mulai terlepas dan cerita-cerita masa depan yang mulai terbentuk.
Setelah beberapa jam bekerja, mereka berhasil menyelesaikan dua set baju yang cantik. Siska dan Riri mencoba memakainya dan melihat diri mereka di cermin yang sudah berkarat. Wajah mereka yang dulu penuh dengan kemarahan dan kesedihan kini mulai dipenuhi dengan senyum yang hangat.
“Cantik sekali, kan Bu?” kata Riri dengan suara yang penuh kegembiraan.
Santi mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Sangat cantik,” ujarnya pelan. “Seperti kalian berdua.”
Malam itu, Santi membungkus semua baju kerja sebagai SPG rokok dan menyimpannya ke dalam sebuah kotak. Dia akan memberikannya kepada teman kerjanya yang masih bekerja di kawasan itu. Kemudian dia mengambil sebatang rokok dari bungkusan terakhir yang dia miliki, melihatnya dengan seksama sebelum mematikannya dan membuangnya ke dalam ember sampah.
“Aku tidak akan pernah menyentuh rokok lagi,” ujarnya dengan suara yang tegas. “Kita akan memulai hidup baru – hidup yang bebas dari asap yang membingungkan dan menggoda yang membutakan.”
Siska dan Riri mengangguk dengan antusias. Mereka akan membantu ibu mereka membuka usaha kecil menjahit baju di rumah kontrakan yang akan mereka sewa bersama. Meskipun jalan yang akan ditempuh tidak mudah, mereka tahu bahwa dengan cinta dan kerja sama yang mereka miliki, mereka akan bisa melewati semua rintangan yang ada di depan mereka.
Asap rokok yang dulu membuat Santi tersesat dan terpaksa menggoda orang lain untuk mencari nafkah kini sudah hilang digantikan oleh nyala api dari lilin yang mereka bakar untuk menyala di tengah kamar mereka yang sederhana. Api itu menjadi simbol harapan baru – harapan untuk hidup yang lebih baik, hubungan yang lebih erat, dan cinta yang tidak pernah pudar meskipun harus melalui masa-masa yang sulit.
170Please respect copyright.PENANAjlLPDo90Cv


