RUANGAN YANG KUMUH
Santi menarik kedua anaknya masuk ke dalam kamar kost yang sempit dan kumuh di belakang kawasan hiburan malam. Dinding kamar yang kusam ditutupi poster-poster rokok dengan model yang mengenakan pakaian terbuka. Di sudut kamar ada lemari kayu tua yang pintunya sedikit terbuka, memperlihatkan beberapa bungkusan kain yang disimpan di dalamnya.
“Kalian tidak mengerti apa-apa!” kata Santi dengan nada yang marah. Dia mengambil sebatang rokok dari bungkusan dan menghisapnya dengan tergesa-gesa, seolah mencari kekuatan dari asap yang keluar dari mulutnya.
“Mengapa kamu harus bekerja dengan cara seperti itu, Bu?” tanya Siska dengan mata yang penuh dengan air mata. “Kamu bisa saja mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Tidak perlu menggoda orang untuk membeli rokok!”
Santi menepuk meja dengan keras, membuat kedua anaknya terkejut mundur. “Lebih baik?!” jeritnya dengan suara yang meninggi. “Kalian pikir aku mau seperti ini? Setiap malam aku harus tersenyum pada pria-pria yang hanya melihatku sebagai objek, hanya untuk mendapatkan uang yang cukup untuk membayar sewa kamar ini dan membeli makanan! Kalian sudah tidak sekolah lagi karena aku tidak mampu membayar uang kuliah kalian, dan sekarang kalian datang hanya untuk menyalahkanku?!”
Riri menangis lebih keras. Dia melihat ke arah lemari kayu itu dan melihat salah satu bungkusan kain yang terlihat sangat cantik meskipun tertutup debu. “Apa itu, Bu?” tanyanya dengan suara yang pelan.
Santi mengikuti pandangan anaknya. Dia menghela nafas panjang dan mengeluarkan bungkusan kain itu dari dalam lemari. Ketika dia membukanya, kain batik dengan motif bunga melati yang indah muncul di hadapan mereka. “Ini adalah kain yang akan kubuat jadi gaun pengantin untukmu, Siska,” ujarnya dengan suara yang tiba-tiba menjadi lembut. “Dan untukmu, Riri, aku punya kain songket yang akan kubuat jadi baju cantik untuk hari raya.”
Siska melihat kain itu dengan mata yang penuh dengan campuran rasa sayang dan kesedihan. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakan ini padaku, Bu? Kalau aku tahu kamu menyimpan sesuatu yang begitu berharga untukku, aku tidak akan pernah menyalahkanmu!”248Please respect copyright.PENANANmH53srZZE


