92Please respect copyright.PENANAhYYyKS0T0f
Pagi berikutnya, co-working space di Senopati terasa berbeda.
Livia datang lebih awal. Ia sedang berdiri di dekat jendela besar sambil memegang gelas latte ketika Arkan muncul dengan dua gelas kopi di tangan.
“Pagi,” sapa Arkan sambil meletakkan latte di depan Livia. “Ini buat kamu.”
Livia tersenyum kecil, mengambil gelas itu. “Wah, hari ini kamu yang traktir? Ada angin apa nih?”
Arkan duduk di seberangnya, tersenyum tipis. “Angin dendam. Kemarin kopinya terlalu manis.”
Livia tertawa pelan. “Kamu bilang suka yang pahit. Tapi pagi ini aku kasih yang agak manis biar kamu nggak ngantuk kerja.”
Mereka berdua duduk di meja yang sama seperti biasa. Tapi kali ini suasananya lebih ringan, meski ada ketegangan yang semakin terasa.
“Semalam tidur nyenyak?” tanya Arkan sambil membuka laptop.
Livia menggeleng sambil tersenyum. “Nggak terlalu. Ada yang bikin aku mikir terus sampe pagi.”
Arkan menatapnya, matanya sedikit menyipit. “Siapa?”
“Kamu tahu siapa,” jawab Livia sambil mengangkat bahu. “Cowok sombong yang suka nyium orang di mobil pas hujan deras.”
Arkan tertawa kecil, suaranya rendah. “Kalau gitu, cowok sombong itu mau bilang… dia juga nggak bisa tidur semalam.”
Livia menatapnya lama, lalu menggigit bibir bawahnya sebentar.
“Arkan… ini cepet banget, ya?”
Arkan meletakkan pulpennya, menatap Livia serius. “Memang cepat. Tapi aku nggak suka main-main kalau sudah suka sama orang. Apalagi sama kamu.”
Livia diam sebentar, lalu tersenyum tipis. “Kamu ini… gombalnya halus banget. Bahaya.”
Arkan tersenyum. “Kamu yang bahaya. Dari pertama ketemu sudah bikin aku nggak fokus kerja.”
Siang harinya, saat Livia sedang fokus mengerjakan desain, Arkan berdiri di belakang kursinya. Ia membungkuk sedikit, berpura-pura melihat layar, tapi bibirnya hampir menyentuh telinga Livia.
“Desainnya bagus,” bisiknya. “Tapi aku lebih suka ngeliatin kamu daripada desainnya.”
Livia memutar kursi menghadapnya. Wajah mereka sangat dekat.
“Kamu ini kerjaan atau modus?” tanyanya dengan nada setengah sarkastik, setengah malu.
Arkan tersenyum kecil. “Dua-duanya.”
Livia menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. “Kalau terus begini, aku bisa resign sebelum proyek dimulai lho.”
Arkan menatap bibir Livia sebentar sebelum menjawab, “Kalau kamu resign, aku bakal datang ke apartemen kamu setiap hari sampai kamu balik.”
Livia menatapnya lama, lalu menghela napas dramatis.
“Berbahaya banget sih kamu.”
Arkan hanya tersenyum, matanya tidak lepas dari wajah Livia.
“Baru sadar?”
ns216.73.216.69da2


