91Please respect copyright.PENANAOnkMm0LCnc
Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta tanpa henti. Arkan dan Livia baru saja keluar dari restoran di kawasan Sudirman setelah meeting dengan klien hingga larut.
Livia menarik jaketnya lebih rapat saat mereka berlari kecil menuju mobil Arkan di parkiran. Hujan deras membuatnya basah dalam hitungan detik.
“Naik mobil saya saja,” kata Arkan sambil membukakan pintu penumpang. “Hujan deras begini, ojek online pasti lama.”
Livia ragu sebentar, tapi akhirnya masuk. Di dalam mobil, AC dingin dan aroma Arkan yang maskulin langsung memenuhi ruangan kecil itu.
“Terima kasih,” katanya sambil menyeka rambut basahnya dengan tangan.
Arkan melajukan mobil pelan. “Apartemen kamu di mana?”
“Di Kuningan,” jawab Livia. “Tapi kalau kamu capek, saya bisa turun di sini juga. Naik taksi online—”
“Tidak usah,” potong Arkan tegas tapi lembut. “Saya antar sampai depan pintu.”
Sepanjang perjalanan, mereka berdua diam. Hanya suara hujan dan musik pelan dari audio mobil yang mengisi keheningan. Sesekali Arkan melirik Livia yang sedang menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba Livia berbicara, suaranya pelan.
“Arkan… kamu biasanya antar cewek pulang malam-malam begini?”
Arkan tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Tidak pernah.”
Livia menoleh, alisnya terangkat. “Bohong.”
“Bukan bohong,” jawab Arkan kalem. “Saya jarang pulang malam dengan perempuan. Apalagi mengantar sampai depan apartemen.”
Livia diam sebentar, lalu tersenyum sarkastik.
“Jadi saya istimewa dong?”
Arkan meliriknya sekilas. Tatapannya gelap dan dalam.
“Lebih dari istimewa.”
Udara di dalam mobil tiba-tiba terasa panas meski AC menyala kencang. Livia merasa pipinya memanas. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan kembali ke jendela.
Sesampainya di depan apartemen Livia, hujan masih deras. Arkan mematikan mesin mobil. Keduanya diam beberapa detik.
“Terima kasih sudah mengantar,” kata Livia pelan.
Arkan menatapnya lama. “Livia.”
“Iya?”
Arkan membuka seatbelt-nya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Livia. Satu tangannya dengan lembut menyentuh pipi Livia yang masih sedikit basah.
“Malam ini… boleh saya cium kamu?”
Livia menatap mata Arkan yang gelap penuh hasrat. Jantungnya berdegup kencang. Alih-alih menjawab, ia sendiri yang mendekat dan mencium Arkan lebih dulu.
Ciuman itu langsung membara. Arkan memegang tengkuk Livia, memperdalam ciuman dengan lapar yang tertahan. Livia meremas kemeja Arkan, napasnya tersengal di antara ciuman mereka yang semakin panas.
Tangan Arkan turun ke pinggang Livia, menariknya lebih dekat. Ciuman mereka semakin liar, penuh gairah yang sudah lama terpendam.
Beberapa menit kemudian, mereka berpisah dengan napas memburu. Dahi Arkan bersandar di dahi Livia.
“Masuklah…” suaranya parau. “Sebelum saya tidak bisa berhenti.”
Livia tersenyum tipis, bibirnya bengkak karena ciuman. Matanya masih berkabut hasrat.
“Besok pagi… di meja biasa?” tanyanya dengan suara serak.
Arkan mengangguk, tangannya masih memegang pinggang Livia.
“Besok pagi.”
Livia turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, ia menoleh lagi dengan senyum nakal.
“Arkan.”
“Ya?”
“Besok jangan lupa traktir kopi. Yang pahit.”
Ia menutup pintu dan berlari kecil masuk ke lobby apartemen sambil tertawa pelan.
Arkan duduk diam di mobil, napasnya masih berat. Ia menyandarkan kepalanya ke headrest dan tersenyum sendiri.
“Trouble sekali,” gumamnya pelan.
Tapi ia sudah tahu — ia tidak ingin melepaskan trouble bernama Livia Arum itu.
ns216.73.216.69da2


