Tiga hari kemudian, suasana di co-working space Senopati sudah tidak lagi canggung. Meja panjang di sudut dekat jendela itu secara tidak resmi menjadi “meja mereka”.
Livia datang lebih pagi hari ini. Ia sedang sibuk menyusun presentasi digital ketika Arkan muncul dengan dua gelas kopi di tangan — satu hitam pekat, satu lagi latte dengan sedikit foam di atasnya.
Livia mendongak dan langsung menyeringai.
“Wah, hari ini Bapak yang traktir? Ada angin apa?”
Arkan meletakkan latte di depannya tanpa ekspresi berlebih. “Angin dendam. Kemarin kopi yang kamu belikan rasanya seperti air comberan.”
Livia tertawa sambil menerima gelas itu. “Pahit itu sehat, katanya. Lagian kamu bilang suka yang pahit seperti hati kamu sendiri.”
Arkan duduk di seberangnya dan langsung membuka laptop. “Hati saya memang pahit. Tapi lidah saya tidak.”
Livia menyesap lattanya sebentar, lalu mengangguk puas. “Oke, poin plus hari ini. Tapi jangan biasakan. Saya bukan pacar Bapak yang wajib traktir setiap hari.”
Arkan meliriknya sekilas, tatapannya datar tapi ada kilatan nakal di dalamnya.
“Belum,” jawabnya pelan.
Livia hampir tersedak kopinya. Ia menatap Arkan dengan mata menyipit.
“‘Belum’? Wah, Bapak ini percaya diri sekali. Dari mana Anda dapat keyakinan bahwa saya akan jadi pacar Anda?”
Arkan bersandar di kursi, menatap Livia dengan tenang. “Dari cara kamu menatap saya setiap kali saya lepas jas. Dan dari cara kamu tersenyum meski mulutmu bilang hal yang menyebalkan.”
Livia terdiam sejenak, lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
“Anda ini berbahaya banget sih. Gombalnya halus, tapi ngena. Harusnya saya kasih rating 8.5 dari 10.”
“Kenapa bukan 10?” tanya Arkan.
“Karena masih sombong,” jawab Livia cepat. “Dan terlalu yakin diri. Kurangi sedikit, baru perfect.”
Mereka berdua tertawa pelan. Suasana di antara mereka semakin cair, tapi tetap penuh listrik.
Beberapa menit kemudian, Livia tiba-tiba mengerutkan kening melihat email yang baru masuk di laptopnya.
“Eh… ini serius?” gumamnya.
Arkan melirik. “Ada masalah?”
Livia memutar laptopnya agar Arkan bisa melihat. “Klien baru. Mereka minta saya handle desain interior untuk tiga unit apartemen di proyek baru mereka. Namanya… Wijaya Residences Phase 2.”
Arkan membaca nama proyek itu, lalu mengangkat satu alis.
“Itu proyek saya,” katanya datar.
Livia membeku. “Hah?”
“Wijaya Group. Saya CEO-nya.”
Livia menatap Arkan dengan ekspresi campur antara terkejut dan geli.
“Serius? Jadi selama ini saya ribut soal meja dengan calon klien besar saya sendiri?”
Arkan mengangguk pelan, ekspresinya tetap tenang. “Sepertinya begitu.”
Livia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil tertawa tak percaya.
“Ya ampun… dunia memang sempit sekali. Berarti kemarin saya nyinyir-nyinyir ke bos besar properti. Mantap.”
Arkan menatapnya dengan senyum kecil yang jarang muncul.
“Dan bos besar itu justru tertarik dengan orang yang berani nyinyir ke dia.”
Livia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum.
“Oke… ini awkward,” katanya. “Sekarang gimana? Kita tetap ribut soal meja, atau saya harus mulai memanggil Anda ‘Pak CEO’ dan pura-pura sopan?”
Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya rendah dan sedikit serius.
“Saya lebih suka kamu tetap seperti ini,” katanya. “Sarkastik, menyebalkan, dan jujur. Jangan berubah hanya karena tahu saya klienmu.”
Livia menatap Arkan lama. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat dadanya berdegup sedikit lebih cepat.
Ia akhirnya menghela napas dramatis.
“Baiklah, Pak CEO Arkan Wijaya,” katanya dengan nada sarkastik yang berlebihan. “Kalau begitu, mulai sekarang saya akan sangat profesional. Tidak ada lagi sarkasme, tidak ada lagi ejekan, dan saya akan selalu setuju dengan pendapat Bapak.”
Arkan tersenyum tipis, matanya tidak lepas dari wajah Livia.
“Kalau kamu berani lakukan itu, saya akan langsung pecat kamu dari proyek ini.”
Livia tertawa keras.
“Ancaman yang bagus,” katanya sambil mengangkat gelas kopinya seperti bersulang. “Deal. Saya tetap jadi Livia yang menyebalkan.”
Arkan mengangkat gelasnya juga, menatap Livia dengan tatapan yang semakin sulit dibaca.
“Bagus. Karena saya mulai menyukai Livia yang menyebalkan itu.”
Udara di antara mereka kembali tegang. Kali ini bukan karena rebutan meja, tapi karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Ketertarikan.
Livia menelan ludah pelan dan berusaha mengalihkan pandangan kembali ke laptopnya.
‘Ini tidak bagus,’ batinnya.
Tapi entah kenapa, ia justru tidak ingin berhenti.
ns216.73.216.69da2


