Arkan tidak menyangka bahwa ia akan kembali ke co-working space itu keesokan harinya dengan harapan bertemu gadis sarkastik kemarin.
Tapi nyatanya, pukul sembilan pagi, ia sudah duduk di meja yang sama, dengan kopi hitam di tangan, dan matanya sesekali melirik ke pintu masuk.
Livia datang tepat pukul 09.15. Rambutnya diikat asal, memakai kemeja oversized putih dan celana jeans hitam. Begitu melihat Arkan sudah duduk di “meja mereka”, ia langsung tersenyum sinis.
“Wah, rupanya Bapak sudah klaim meja ini secara permanen,” katanya sambil meletakkan tas besarnya di kursi sebelah. “Harusnya saya minta sewa tempat dong.”
Arkan menatapnya datar, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Saya datang lebih awal. Itu artinya hak prioritas.”
Livia mendengus sambil duduk di depannya. “Di dunia nyata namanya rebutan, bukan prioritas. Tapi gapapa, saya orang yang dermawan. Hari ini saya izinkan Bapak duduk di sebelah kanan.”
Ia langsung mengeluarkan laptop dan beberapa map desain, seolah tidak peduli bahwa pria di depannya sedang memperhatikannya dengan intens.
Arkan bersandar di kursinya, memutar pulpen di tangan. “Semalam saya lihat desain Anda di Instagram. Akun ‘liviarumdesign’, kan?”
Livia mendongak cepat, alisnya terangkat tinggi. “Stalking ya? Wah, levelnya naik cepat dari ‘rebutan meja’ ke ‘stalking akun’.”
“Bukan stalking,” bantah Arkan kalem. “Hanya riset. Saya penasaran apakah desain Anda sebagus mulut Anda yang tajam.”
Livia tertawa kecil, suaranya ringan dan menyenangkan. “Dan? Kesimpulan Bapak?”
“Tidak buruk,” jawab Arkan. “Tapi terlalu aman. Anda takut ambil risiko warna gelap dan material berat.”
Livia menyandarkan dagunya di tangan, menatap Arkan dengan mata menyipit penuh tantangan.
“Karena klien saya kebanyakan orang kaya baru yang takut rumahnya terlihat seperti makam mewah. Mereka mau ‘elegan’ tapi takut gelap. Jadi saya kasih yang aman tapi tetap terlihat mahal.” Ia menyeringai. “Berbeda dengan Bapak yang suka memaksa orang pakai desain sesuai selera Anda.”
Arkan mengangkat satu alis. “Memaksa?”
“Iya. Aura Anda itu teriak-teriak ‘saya yang paling benar di ruangan ini’.”
Arkan diam sebentar, lalu mengeluarkan senyum tipis yang jarang sekali muncul.
“Anda cukup berani bicara seperti itu ke orang yang belum Anda kenal.”
Livia mengangkat bahu santai. “Saya sudah bertemu banyak tipe seperti Bapak. CEO muda, kaya, tampan, dan terbiasa semua orang menurut. Biasanya mereka paling sensitif kalau dikritik.”
Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Livia lebih dekat. Suaranya menjadi lebih rendah.
“Kalau begitu, Anda beruntung. Karena saya justru sedang tertarik dengan orang yang berani mengkritik saya.”
Udara di antara mereka tiba-tiba terasa lebih berat. Livia yang biasanya lincah dengan kata-kata, kali ini sempat kehilangan kata sebentar. Tapi ia cepat pulih dan tersenyum menantang.
“Hati-hati, Pak. Kalau terus begini, nanti saya pikir Bapak sedang flirting.”
Arkan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Livia dengan tatapan yang dalam, seolah sedang mencoba membaca setiap detail di wajahnya.
“Dan kalau saya memang sedang flirting?” tanyanya pelan.
Livia tertawa, tapi kali ini ada sedikit gugup yang tersembunyi.
“Maka saya akan bilang — terlalu cepat, Pak CEO. Saya masih butuh meja ini setidaknya tiga hari lagi. Jangan buat suasana awkward.”
Arkan bersandar kembali, tapi senyum kecil masih bertahan di bibirnya.
“Baiklah. Tiga hari. Tapi dengan syarat.”
“Apa?”
“Setiap pagi Anda harus traktir saya kopi.”
Livia membelalakkan mata, lalu tertawa keras hingga beberapa orang di sekitar menoleh.
“Wow. Dari rebutan meja langsung jadi modus minta traktir kopi. Ambisius sekali.”
Ia menggeleng-gelengkan kepala, tapi matanya berbinar.
“Deal,” katanya akhirnya. “Tapi kopinya yang hitam seperti hati Bapak ya. Pahit.”
Arkan tersenyum tipis.
“Pahit itu enak, Livia.”
Livia terdiam sejenak saat mendengar namanya disebut. Ia tidak ingat pernah memperkenalkan diri.
Arkan seolah tahu apa yang dipikirkannya, lalu menunjuk badge kecil di tas Livia yang tertulis “Livia Arum”.
“Nama yang cantik,” gumamnya pelan.
Livia menatapnya lama, lalu menggeleng sambil tersenyum.
“Anda ini… berbahaya.”
Arkan hanya mengangkat gelas kopinya sedikit, seolah memberi salam.
“Baru sadar?”
ns216.73.216.69da2


