Arkan Wijaya meletakkan gelas kopi hitamnya dengan keras di atas meja kayu. Dentingannya cukup nyaring hingga beberapa kepala di co-working space menoleh ke arahnya.
“Siapa yang berani memindahkan barang-barang saya?” suaranya rendah, tapi tajam seperti pisau.
Livia Arum yang sedang berjongkok di lantai, mendongak dengan santai. Sehelai rambutnya jatuh menutupi dahi, tapi ia tidak buru-buru merapikannya. Ia menatap Arkan dengan alis terangkat, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak terintimidasi sedikit pun.
“Oh, itu saya,” jawabnya dengan nada ringan, seolah sedang membahas cuaca. “Meja ini cahayanya paling bagus pagi ini. Anda duduk di sebelahnya saja, nanti juga saya selesai.”
Arkan menyipitkan mata. Ia terbiasa dengan orang-orang yang langsung grogi atau minta maaf begitu mendengar nada suaranya. Tapi gadis ini malah balik memberi perintah dengan senyum kecil yang menyebalkan.
“Meja ini saya tempati sejak kemarin pagi,” balas Arkan dingin. “Kalau Anda butuh cahaya, ada jendela di sebelah sana. Silakan pindah.”
Livia berdiri perlahan, membersihkan tangannya yang berdebu dari kardus moodboard. Ia memandang Arkan dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai.
“Wah, ternyata ada orang yang mengklaim meja umum seperti tanah warisan,” katanya dengan nada sarkastik manis. “Maaf ya, Pak. Saya hanya butuh tiga puluh menit lagi. Setelah itu meja ini sepenuhnya milik Anda yang mulia.”
Arkan bersandar di kursi, menatapnya intens. “Tiga puluh menit? Anda yakin? Atau nanti jadi dua jam lagi sambil bilang ‘sebentar lagi’?”
Livia tersenyum lebar, tapi matanya menyipit nakal. “Kalau khawatir saya bohong, Bapak bisa duduk di sebelah dan mengawasi saya. Siapa tahu saya curang dan pakai meja ini sampai sore.”
Untuk sesaat suasana di antara mereka tegang. Arkan tidak biasa dihadapi dengan sarkasme setajam ini, apalagi dari seorang perempuan yang baru pertama kali ia temui.
Akhirnya ia menghela napas pendek dan duduk di kursi seberang meja itu tanpa kata lagi. Livia mengangguk kecil, seolah memberi nilai plus karena Arkan tidak jadi ngotot.
Sepuluh menit berlalu dalam diam yang canggung. Arkan mencoba fokus pada laptopnya, tapi matanya terus-terusan melirik ke arah Livia yang sedang menyusun potongan-potongan desain dengan teliti.
Akhirnya ia tidak tahan.
“Interior designer?” tanyanya tanpa basa-basi.
Livia mendongak, sedikit terkejut. “Iya. Kenapa? Mau pesan desain ruangan kantor yang sombong?”
Arkan mendengus pelan. “Kalau desainnya seperti yang Anda tempel di lantai itu, saya lewat saja.”
“Oh?” Livia meletakkan guntingnya dengan dramatis. “Memangnya ada yang salah dengan desain saya, Pak Properti?”
“Warna terlalu lembut,” jawab Arkan langsung. “Apartemen dengan konsep itu nanti terlihat murahan kalau pencahayaannya tidak pas. Pembeli kelas menengah atas suka yang clean, tapi tetap terasa mahal.”
Livia menatapnya lama, lalu tersenyum tipis dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Menarik,” katanya. “Biasanya orang cuma bilang ‘jelek’ atau ‘kurang aesthetic’. Anda langsung kasih analisis bisnis. Developer ya?”
Arkan tidak menjawab langsung, hanya mengangkat satu alis.
Livia menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil. “Dugaan saya benar. Hanya orang properti yang bisa mengkritik desain sekaligus menghitung potensi kerugian.”
Ia kembali ke pekerjaannya, tapi sudut bibirnya masih terangkat.
Arkan diam-diam memperhatikannya. Gerakan tangannya yang lincah, cara ia menggigit bibir bawah saat sedang konsentrasi, dan aroma parfum vanilla yang samar-samar tercium setiap kali ia bergerak.
‘Menyebalkan,’ batin Arkan.
Tapi entah kenapa, ia justru tidak ingin pindah meja.
Livia tiba-tiba mendongak lagi dan menyeringai kecil.
“Kalau Bapak terus-terusan ngeliatin saya, saya jadi tidak konsentrasi. Mau bantu susun moodboard sekalian? Atau memang suka diam-diam mengawasi orang?”
Arkan bersandar lebih dalam ke kursinya, menatap Livia dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Saya sedang mempertimbangkan apakah boleh mengusir Anda dari meja ini atau tidak,” jawabnya datar, tapi ada nada bercanda yang tersembunyi.
Livia tertawa pelan. Suaranya ringan dan menular.
“Silakan coba,” tantangnya. “Tapi saya peringatkan, saya cukup keras kepala.”
Arkan menatapnya lama, lalu untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya terangkat tipis — hampir seperti senyum.
“Baru ketemu lima belas menit,” gumamnya pelan, “dan saya sudah tahu Anda trouble.”
Livia hanya tersenyum lebar, matanya berbinar nakal.
“Selamat datang di klub, Pak. Anda baru saja bertemu lawan yang sepadan.”
ns216.73.216.69da2


