85Please respect copyright.PENANAA4WzdnENIr
Setelah makan malam di rooftop Thamrin, Arkan dan Livia memutuskan pulang ke apartemen Arkan di Sudirman. Sepanjang perjalanan, tangan mereka saling genggam di atas persneling. Tidak banyak kata yang diucapkan, tapi udara di dalam mobil terasa tebal penuh antisipasi.
Begitu pintu apartemen tertutup, Arkan langsung menarik Livia ke dalam pelukannya. Ciuman mereka lembut di awal, tapi cepat berubah panas. Arkan memegang wajah Livia dengan kedua tangan, menciumnya dalam-dalam seolah ingin menghafal setiap detail bibirnya.
“Livia…” bisik Arkan di sela ciuman, suaranya sudah serak. “Kamu yakin?”
Livia mengangguk, tangannya menyusup ke rambut belakang Arkan. “Aku yakin,” jawabnya pelan di bibir Arkan. “Aku juga menginginkan ini.”
Arkan mengangkat Livia dengan mudah. Kaki Livia melingkar di pinggangnya saat Arkan membawanya ke kamar tidur. Ia menurunkan Livia perlahan di tepi ranjang, lalu berlutut di depannya.
Dengan gerakan lambat yang menyiksa, Arkan membuka kancing kemeja Livia satu per satu. Setiap kali kain terbuka, ia mencium kulit yang terpapar — leher, tulang selangka, bahu. Livia mendesah pelan, tangannya meremas rambut Arkan.
“Kamu cantik sekali,” gumam Arkan sambil mencium perut Livia. “Dari pertama ketemu, aku sudah nggak bisa berhenti mikirin kamu.”
Livia menarik Arkan naik dan menciumnya lagi. Tangan mereka saling membantu melepaskan pakaian yang tersisa. Kulit bertemu kulit, hangat dan penuh getaran.
Arkan menindih Livia dengan lembut, tapi dominan. Ia mencium leher Livia, turun ke dada, lalu lebih bawah lagi. Setiap sentuhan bibir dan lidahnya membuat Livia menggeliat dan mendesah nama Arkan.
“Arkan… please…” bisik Livia dengan suara gemetar.
Arkan naik lagi, menatap mata Livia yang berkabut. “Aku di sini,” katanya lembut. “Aku nggak ke mana-mana.”
Saat mereka akhirnya menyatu, gerakan Arkan pelan dan penuh perhatian di awal, lalu semakin dalam dan kuat sesuai irama yang Livia inginkan. Desahan mereka saling bercampur, tangan saling genggam, napas saling berkejaran.
“Livia…” desah Arkan di telinga Livia saat gelombang kenikmatan mendekat. “Lihat aku…”
Livia membuka mata, menatap Arkan saat mereka mencapai puncak bersama. Tubuh mereka menegang, lalu rileks dalam pelukan yang erat.
Setelahnya, mereka berbaring saling berpelukan. Arkan mengelus punggung Livia dengan gerakan pelan, sementara Livia menyandarkan kepalanya di dada Arkan yang naik turun.
“Kamu oke?” tanya Arkan sambil mencium kening Livia.
Livia mengangguk, tersenyum kecil. “Lebih dari oke. Kamu… lembut banget.”
Arkan tertawa pelan. “Aku berusaha menahan diri supaya nggak terlalu kasar di pertama.”
Livia mendongak, menatap Arkan dengan mata nakal. “Besok pagi kita masih ke co-working?”
Arkan tersenyum, tangannya mengelus rambut Livia. “Tentu. Tapi kali ini aku yang rebut meja kamu.”
Livia tertawa kecil dan memeluk Arkan lebih erat.
“Deal. Tapi kopinya tetap aku yang traktir.”
Mereka berdua tertidur dengan senyum di wajah, tubuh masih saling terpaut.
ns216.73.216.69da2


