Sebelum berangkat ke hotel, aku pamitan dulu kepada Mbak Artini.
Kujelaskan bahwa aku akan nginap di hotel, tempat kedua kakakku menginap.
Dan besok pagi akan langsung menuju gedung tempat diselenggarakannya wisuda angkatanku.
Mbak Artini tampak bersemangat, meski dia tak bisa hadir dalam wisudaku. Karena menurut peraturan, hanya dua orang keluarga yang dibolehkan menghadiri wisudaku.
Jadi Mbak Artini harus mengalah, untuk tidak menghadiri wisudaku.
Yang membuatnya bersemangat, adalah bahwa sekitar tiga hari lagi dia akan mengantarkanku ke tempat kakaknya yang suka dipanggil Mbak Lies itu.
Setelah cipika cipiki dengan Mbak Artini, aku pun meninggalkan rumahnya dan berangkat menuju hotel dengan menggunakan taksi.
Tidak menggunakan motor gede kesayanganku.
Tak lama kemudian aku pun sudah berada di lantai lima dalam hotel bintang lima itu.
Langsung kau mengetuk pintu yang nomornya sesuai dengan keterangan Mbak Rina.
Pintu itu pun dibuka.
Mbak Lidya yang membukanya, dengan senyum ceria di bibirnya.
Lalu kami berpelukan dan cipika-cipiki.
Tapi berbeda dengan biasanya. Kali ini Mbak Lidya tak sekadar mencium sepasang pipiku, tapi juga… bibirku.
Mbak Rina juga sama. Dia menyambutku dengan pelukan hangat, lalu mencium sepasang pipiku dan juga bibirku…!
Tentu saja perasaanku jadi lain.
Tapi aku berusaha melupakannya.
Dan menganggap bahwa hal itu hanya karena ingin menyatakan kegembiraan mereka atas akan diwisudanya aku besok.
Lalu kami ngobrol ke barat ke timur sebagaimana biasanya kalau kumpul dengan saudara-saudara seperti ini.
Termasuk masalah Papa yang tak pulang-pulang ke rumah, juga kami bicarakan.
Aku prihatin juga mendengar cerita tentang Papa itu. Terutama merasa prihatin kepada Mama.
Kedua kakakku itu memang sama bentuknya. Tinggi langsing tapi tidak kurus.
Perawakan mereka memang mirip.
Tapi ada perbedaan yang menyolok di antara mereka berdua.
Kulit Mbak Rina agak gelap, sementara Mbak Lidya putih bersih.
Mbak Rina berambut panjang dan hitam warnanya. Sedangkan rambut Mbak Lidya hanya sebatas bahu, diwarnai kecoklatan pula.
Memang Mbak Rina biasa tampil seadanya. Sementara Mbak Lidya agak pesolek.
Tapi setelah makan malam bersama di luar hotel, Mbak Rina dan Mbak Lidya jadi kompak untuk mengutarakan sesuatu padaku, ketika kami sudah berada di dalam hotel lagi.
Kami duduk di atas sofa. Aku duduk di tengah, Mbak Rina di sebelah kiriku, Mbak Lidya di sebelah kananku.
Pada saat itulah Mbak Rina tampak serius dan berkata,
“Bon… terus terang aja ada sesuatu yang ingin kami minta bantuanmu saat ini.”
“Bantuan masalah apa Mbak?” tanyaku.
“Aku dan Mbak Rina ini masih sama-sama perawan Bon,”
“Mbak Lidya yang menyahut.”
“Lalu?” aku memandang Mbak Lidya, lalu memandang Mbak Rina.
Dengan benak penuh tanda tanya.
“Kita kan sesama saudara,” kata Mbak Rina, “Jadi kita ngomong to the point aja ya Bon.”
“Iya… iya…” sahutku.
Mbak Lidya memegang pergelangan tangan kananku sambil berkata,
“Kami ingin merasakan seperti apa nikmatnya bersetubuh itu Bon.”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


