Kemudian kulanjutkan permainan oralku yang sudah terlatih berkat pengalaman ku dengan Mbak Weni dan Mama.
Kujilati bagian yang berwarna pink itu secara intensif.
Tak terkecuali, kucari kelentitnya yang bersembunyi di bagian atas kemaluan wanita 30 tahunan yang mengaku masih perawan itu.
Mbak Artini pun mulai menggeliat-geliat sambil meremas-remas kain seprai putih bersih itu.
Aku belum tau benar tidaknya Mbak Artini itu masih perawan. Karena aku bukan seorang dokter.
Sehingga belum bisa memastikan kebenaran pengakuannya itu.
Tapi perawan atau tidak, bukan masalah penting bagiku.
Yang penting, aku sudah sangat bernafsu, sehingga aku menjilati memek Mbak Artini dengan sangat bersemangat.
Sampai pada suatu saat terdengar suaranya,
“Mungkin sudah cukup basah Bon… masukin aja kontolmu…”
“Iya,” sahutku setelah menjauhkan mulutku dari memek ibu kosku.
Kemudian kuambil tissue dari meja di samping bed, untuk menyeka mulutku yang berlepotan air liurku sendiri.
Sementara Mbak Artini sudah merenggangkan kedua pahanya lebar-lebar.
Dengan penuh gairah kuletakkan moncong kontolku di mulut memek Mbak Artini yang sudah agak terbuka sedikit itu.
Lalu kuarah-arahkan moncong kontolku agar letaknya ngepas.
Kemudian kudorong sekuat tenaga, tapi… malah meleset ke bawah.
Kuletakkan lagi moncong kontolku pada posisi yang mungkin lebih tepat.
Kemudian kudorong lagi sekuatnya.
Lagi-lagi meleset.
Hmmm… gak nyangka akan sesulit ini.
Lebih sulit daripada waktu pertama kali mau menyetubuhi Mbak Weni.
Tapi berkat perjuangan dan keuletanku, akhirnya aku berhasil membenamkan kontolku, meski baru sampai lehernya saja.
“Sudah mulai masuk ya,” ucap Mbak Artini sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya.
Lalu ia menatapku dengan senyum manis di bibir sensualnya.
“Baru sedikit… sepertinya Mbak memang masih perawan,” sahutku.
“Bukan sepertinya! Aku memang belum pernah disetubuhi lelaki…!” ucap Mbak Artini tajam.
Sambil mencubit pipiku.
“Disumpah juga aku mau. Bahwa aku masih perawan. Dan Bona adalah lelaki pertamaku.”
“Iya maaf… barusan aku salah ngomong…” sahutku sambil bersiap-siap untuk mendorong kontolku lagi, agar masuk lebih dalam.
Lalu kudesakkan kontol ngacengku sekuatnya.
Makin jauh membenam ke dalam liang memek Mbak Artini.
Maka mulailah aku mengayun kontolku perlahan-lahan.
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


