Sebelum pindah ke atas perut Mbak Lidya, masih sempat kulihat genangan darah di bawah kemaluan Mbak Rina.
Darah perawan kakakku yang item manis itu.
“Sama Mbak Rina udahan?” tanya Mbak Lidya ketika aku sudah tengkurap di atas perutnya.
“Iya… dia sudah orgasme,” kataku sambil melirik ke arah Mbak Rina yang tampak seperti terlena tidur.
“Mbak udah horny sejak tadi ya?”
“Iya… udah gak sabaran, pengen ngerasain enaknya dientot sama kontolmu,” sahut Mbak Lidya sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kemudian mencium dan melumat bibirku dengan penuh kehangatan.
“Dahulu kita cuma bisa cipika - cipiki ya,” ucap Mbak Lidya setengah berbisik.
“Sekarang bisa ciuman bibir dengan bibir.”
“Iya. Bahkan sebentar lagi bibirku dengan bibir memek Mbak juga bakal berciuman.”
“Iya Bon. Aku pengen sekali merasakan enaknya memek dijilatin.”
“Memangnya Mbak belum pernah merasakannya sama sekali?”
“Ya belum lah. Kalau sudah dijilatin memek segala, pasti ujung - ujungnya ke entotan. Makanya aku masih perawan sampai detik ini juga. Tapi kalau sama adek sendiri, aku rela menyerahkan keperawananku.”
“Gak punya niat mempertahankannya sampai kawin kelak?”
“Alaaah… Mbak Weni juga gak mempertahankan keperawanannya di masa masih gadis. Sekarang malah hidup senang, karena suaminya tajir walau pun usianya udah tua.”
Aku cuma tersenyum, sambil memainkan pentil toket Mbak Lidya. Lalu berkata,
“Siap - siap Mbak… aku mau jilatin memek Mbak. Biar kontolku lebih mudah dimasukkannya ke dalam liang memek Mbak.”
“Iya. Jilatin deh sepuasmu. Pokoknya saat ini semua terserah kamu, karena kamu yang sudah pengalaman dalam soal sex,” sahut Mbak Lidya.
Aku pun melorot turun. Sehingga wajahku langsung berhadapan dengan memek Mbak Lidya.
Kutepuk-tepuk memek yang agak tembem dan tanpa jembut sehelai pun itu.
Lalu kuciumi memek itu, sekaligus ingin membuktikan apakah ada aroma yang kurang sedap atau tidak.
Kalau ada aroma yang kurang sedap, akan kusuruh cebok dulu sebersih mungkin, agar nyaman menjilatinya.
Tapi ternyata aroma memek Mbak Lidya sangat natural. Tidak ada aroma yang kurang sedap dari memek plontosnya itu.
Maka kudorong sepasang paha putih mulusnya, agar jaraknya serenggang mungkin.
Kemudian dengan kedua tanganku pula kungkangkakan mulut memeknya selebar mungkin, sehingga bagian yang berwarna pink itu terbuka lebar.
Lalu dengan penuh gairah ujung lidahku mulai “menari” di permukaan yang lembut, hangat, agak basah dan berwarna pink itu…!
Mbak Lidya agak tersentak.
Tapi lalu diam saja ketika aku mulai menjilati bagian yang berwarna pink itu dengan lahap sekali.
Mulutku seolah terbenam di permukaan memek Mbak Lidya, sementara desahan - desahan erotisnya pun mulai terdengar,
“Aaaa… aaaaah… Booon… aaaaa… aaaaaahhhhh… aaaaa…”
Seperti yang kulakukan kepada Mbak Rina tadi, kali ini pun sama.
Sambil menjilati bagian dalam mulut memek Mbak Lidya ini, kualirkan air liurku sebanyak mungkin ke dalamnya.
Kemudian kufokuskan untuk menjilati itilnya yang tampak mengkilap sebesar kacang kedelai itu.
Semakin menggeliat - geliat pula Mbak Lidya dibuatnya.
Bahkan kedua tangannya meremas - remas rambutku sambil merintih - rintih histeris,
“Ini lebih enak lagi Booon… ooooo… oooooohhhhh… enak sekali Booon… enak sekaliii… oooooohhhhh… jilatin terus itilnya Boooon… itilnyaaaa… itiiiiilllll …”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


