Aku masih ingat benar, ketika kontol ngacengku menerobos liang memek Mbak Weni, rasanya tidak terlalu sulit. Berarti Mbak Weni tidak perawan lagi? Entahlah. Yang jelas aku mulai merasakan enaknya liang memek Mbak Weni ketika kontolku mulai bermaju mundur di dalamnya. Ada rasa geli - geli enak ketika kontolku bergesekan dengan dinding liang memek Mbak Weni yang terasa bergerinjal - gerinjal empuk, hangat dan licin.
Mbak Weni pun tampak enjoy dengan entotanku. Ia mendekap pinggangku erat - erat sambil berbisik,
“Kontolmu gede banget Bon. Enak sekali… ayo entot terus… jangan mandeg - mandeg.”
Mbak Weni bertubuh tinggi montok. Dengan bokong dan sepasang toket yang gede. Dan aku sangat menikmati kelebihan - kelebihan kakak sulungku itu. Mbak Weni sendiri yang mengajariku bagaimana caranya mengemut pentil toket gedenya, menjilati lehernya dan mencium bibirnya. Dalam tempo singkat saja aku mulai mahir mengentot liang memek Mbak Weni yang luar biasa enaknya ini. Mbak Weni pun mulai berdesah - desah dan merintih - rintih perlahan.
“Bona… aku jadi semakin sayang padamu Bon… entot terus Bon… entoooot teruuussss… oooooh… kontolmu memang luar biasa enaknya Bon…”
“Tempik Mbak juga enak sekali… luar biasa enaknya Mbak… uuuugggghhh… uuuuughhhh…”
sahutku dengan nafas berdengus - dengus, sambil menikmati geli - geli enaknya gesekan antara kontolku dengan dinding liang memek kakak sulungku.
Itu adalah pertama kalinya aku merasakan nikmatnya mengentot cewek. Kebetulan saja ceweknya adalah kakak sulungku sendiri yang tubuhnya bahenol itu. Tapi pengalaman pertama ini membuatku sama sekali tidak bisa mengontrol diri. Sehingga hanya belasan menit aku mengayun kontolku, lalu aku seperti merasakan sesuatu yang membuatku panik.
“Mbak… ka… kayaknya aku ma… mau jrot nih,”
ucapku tergagap.
“Ha?! Ooooh… kamu baru pertama kalinya merasakan ngentot memek cewek ya. Ayo lepasin di dalam tempikku aja Bon…”
sahut Mbak Weni dengan sorot kecewa. Maka kurasakan semua itu. Sesuatu yang paling nikmat di dunia ini. Bahwa moncong kontolku mengecrot - ngecrotkan air mani di dalam liang tempik kakak sulungku. Crot… croooot… crooooooot… crooooot… croooooooootttt… croooott… crooooooottttttt…!
Aku mendengus - dengus di atas perut Mbak Weni, lalu terkapar dan terkulai lemah.
Mbak Weni menciumi bibirku. Lalu bertanya,
“Enak gak memekku Bon?”
“Enak banget. Tapi cuma bisa sebentar ya Mbak.”
“Biasa kalau pertama kali sih gak bisa bertahan lama - lama. Jangan dicabut dulu kontolnya ya. Mungkin sebentar lagi juga ngaceng kembali.”
“Iya Mbak. Aku kok jadi semakin sayang sama Mbak.”
“Sama. Aku juga makin sayang sama kamu Bon. Tapi ingat… kamu harus bisa merahasiakan semuanya ini ya. Jangan sampai Rina dan Lidya tau. Apalagi Papa dan Mama, sama sekali jangan sampai mencium gelagat semuanya ini.”
“Iya Mbak. Dijamin soal itu sih. Aku pasti akan tutup mulut. Tapi… barusan aku ngecrot di dalam tempik Mbak, apa gak bakal bikin Mbak hamil?”
“Nggak mungkin. Aku kan sudah disuntik kabe. Berapa puluh kali juga kamu ngecrot di dalam tempikku, takkan membuatku hamil.”
“Ogitu ya. Keliatannya Mbak sudah pengalaman ya.”
“Iya. Tapi awas… jangan bilang - bilang sama orang lain. Ini rahasia terbesarku.”
“Iya Mbak, aku bakal tutup mulut. Soal itu kan masalah yang paling pribadi buat Mbak.”
“Hey Bon… kontolmu udah mulai ngaceng lagi nih,”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


