“Mam… uuuugggghhhh… Maaaam… ternyata memek Mama enak sekali Maaaaam…”
ucapku tanpa memperlambat gerakan entotanku. Mama memeluk leherku, lalu merapatkan pipinya ke pipiku sambil berkata terengah,
“Kon… kontolmu juga… enak sekali Sayaaaang… gak nyangka… kita bakal beginian ya…”
“Iii… iyaaaa… yang penting Mama jangan sakit hati lagi sama Papa…”
Pergesekan kontolku dengan dinding liang memek Mama memang luar biasa nikmatnya. Membuat nafasku jadi berdengus - dengus, diiringi oleh rintihan dan rengekan manja mama yang terdengar sangat erotis di telingaku,
“Booonaaaa… aaaaaaahhhh… Booon… aaaaaah… aaaaaaa… aaaaah… entot terus Booon… Ini luar biasa enaknya Bonaaaa… aaaaa… aaaaah… entoooottt teruussss… entooottttttttt… jangan brenti - brenti… entoooooooottttttt… entoooooottttttt… entooooot Sayaaang… entoooooooootttttttt… aaaaaa… aaaaaah… sambil remes tetek mama Booon… iyaaaa… remes terussss…”
Aku semakin bergairah untuk melanjutkan persetubuhan dengan Mama ini. Bahkan ketika mulut Mama ternganga - nganga, kupagut bibir yang sedang ternganga itu. Dan ternyata mama menyambut dengan lumatan binal. Dekapan Mama di pinggangku pun berubah jadi remasan -remasan di bokongku. Maka aku pun semakin bersemangat untuk menjilati leher mama yang sudah mulai keringatan. Membuat Mama terpejam - pejam dan menahan - nahan nafas. Tapi aku masih sempat berbisik di dekat telinga mama,
“Nanti kalau aku mau ngecrot, lepasin di mana Mam?”
“Di… di dalam… me… memek mama aja… Sayang. Emangnya ka… kamu udah mau ngecrot?”
“Be… belum Mam. Cuma nanya aja.”
Persetubuhan ini semakin bergairah ketika Mama mulai menggoyang pinggulnya… meliuk - liuk dan menghempas - hempas ke kasur. Sehingga kontolku serasa dibesot - besot oleh dinding liang memek Mama yang terasa hangat dan licin ini. Namun tiba - tiba Mama tampak seperti panik,
“Bona… Bona! Mama mau lepas… mau lepas… barengin Bon… biar nikmat… mau lepas Bon… mau lepassss… ayo barengin… barengin…”
Aku jadi ikutan panik. Maka kupercepat entotanku dan berusaha ngecrot bareng seperti yang mama inginkan. Dan akhirnya kutancapkan kontolku di dalam liang memek Mama, tanpa menggerakkannya lagi. Pada saat itu pula Mama tampak mengejang sambil meremas - remas rambutku, sambil menahan nafasnya dengan mata terpejam erat - erat. Pada saat itu pula aku sedang melotot sambil merasakan berlompatannya air mani dari moncong kontolku. Crooooootttttt… crooooottttt… crottt… crooottt… crooooooooottttttttt… crot… crooootttt!
Aku terkapar di atas perut Mama. Lalu terkulai lunglai dengan tubuh bermandikan keringat. Seperti Mama juga, yang wajah dan lehernya dibanjiri keringat. Ketika membuka matanya, Mama tersenyum sambil mencubit pipiku,
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


