Via yang sering ke perpustakaan sangat paham penempatan buku by subject dan membantu Darren mencarinya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka mendapatkan buku yang dicarinya, terletak di rak paling belakang dan tampaknya sudah lama tidak dipinjam siapapun.
Mereka berdua duduk di lantai mencoba mencari materi yang akan menjadi referensi tugas akhir, diselingi dengan curhatan Via mengenai kekasihnya Rangga yang semakin membuatnya tidak nyaman.
Konsentrasi Darren agak terpecah karena di satu sisi ia perlu fokus dengan tugasnya dan di sisi lainnya ia sudah tertarik dengan Via dari awal kuliah.
Terhanyut dengan curhatan dan situasi sepi dalam perpustakaan itu, Via tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Darren.
Hal itu membuat Darren sedikit terkejut namun ia mencoba tetap cool.
Wangi rambut Via membuat hasrat kelelakiannya timbul, tapi ia sadar Via bukan miliknya dan ia tidak boleh lepas kendali.
Hanyut dalam pembicaraan pribadi, keduanya merasa semakin dekat dan… one first kiss mendarat tepat di kening Via.
Tak ada aturan, tak ada kesengajaan—hanya dorongan tulus dalam hati yang membuat itu terjadi.
Via tersenyum dengan manisnya seperti saat pertama kali ia jatuh cinta di masa sekolah.
Kecupan di kening yang mengandung sejuta sayang, yang beberapa bulan belakangan tidak didapatkannya dari Rangga.
Mereka melangkah berdua meninggalkan perpustakaan, dan benih cinta mulai muncul kembali.
Beberapa hari kemudian,
“Aku sdh putus!”,
kata Via mengagetkan Darren yang sedang asyik mendengarkan musik dari walkmannya yang secara spontan berkata,
“Apa?…”.
“Aku sdh putus dari Rangga… aku sdh bebas saat ini,”
jawab Via sambil tersenyum manis.
Darren bahagia sekali mendengarnya dan sejak saat itu mereka semakin dekat.
Hubungan Via dan Darren tak berjalan mulus karena Rangga sebenarnya masih mencintai Via, dan beberapa kali mereka mendapat intimidasi dari kawanan Rangga.
Namun Darren tak peduli karena cinta perlu pengorbanan, pikirnya secara klise.
Sudah satu bulan Via menjalin hubungan dengan Darren…dan gaya berpacaran mereka terlihat normal tanpa ada kenakalan yang berarti…sekedar bergandengan tangan dan cipika cipiki.
Hingga pada suatu sore yang mendung, Darren mengajak Via ke warnet depan kampus untuk mencari bahan tugas akhirnya. Warnet itu menggunakan bilik yang tidak sepenuhnya tertutup, sehingga ketika berdiri masih bisa melihat apa yang terjadi di bilik sebelah. Mereka mendapatkan bilik kedua dari belakang, dan kebetulan tidak ada pelanggan di kanan kiri bilik mereka.
Awalnya semua berjalan normal. Darren sibuk mencari bahan tugasnya, sementara Via yang hari itu mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang kain asyik menikmati siomay kesukaannya. Tipikal warnet jaman dulu dengan prosesor seadanya membuat loading dari satu situs ke situs lainnya begitu lambat, sehingga membuat Darren agak bosan.
Selesai memakan siomay kesukaannya, Via beranjak mengambil teh botol untuk mereka berdua. Ternyata di luar hujan turun deras sekali, dan hanya mereka satu-satunya pelanggan di warnet itu.
Kembali dari kasir dengan teh botol, Via kembali duduk di samping kiri Darren—warnet itu lesehan tanpa bangku—sambil merapatkan tubuhnya. Mungkin karena dinginnya AC atau memang Via butuh kehangatan.
Dengan mesra, tangan kiri Darren melingkari pinggang Via dan memeluknya erat, sehingga tubuh mereka semakin merapat. Darren cukup tersentak ketika menyadari penisnya mengacung tegak dalam celana jeansnya.
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


