Setelah pengalaman seks pertamanya, Via merasakan sesuatu yang berbeda dari Rangga.
Kekasihnya kelihatan lebih posesif dan emosional.
Rangga terkadang tidak suka jika Via mengenakan kemeja atau rok span yang terlalu ketat saat kuliah.
Bahkan, ia meminta Via untuk selalu membawa jaket atau sweater saat kuliah untuk menutupi kemeja jika kancingnya terlalu terbuka.
Hari itu genap seminggu sejak pengalaman ML pertama mereka, dan kebetulan Via kuliah sore hingga agak malam.
Seperti biasa, Rangga menunggu Via selesai kuliah sambil nongkrong bersama teman-temannya.
Ada satu hal yang masih terbayang di benaknya, yaitu saat mereka ML pertama dan tidak ada darah yang keluar.
Ternyata, hal itulah yang membuat dirinya menjadi over posesif dan emosional.
Ditambah seminggu sudah berlalu, dan Via selalu menolak jika diajak ke kosnya.
Malam itu, Rangga benar-benar sedang bergairah, apalagi kejadian seminggu lalu begitu membekas dalam pikirannya.
Tak terasa, saat sedang asyik memandang kejauhan sambil mengepulkan asap rokok, penisnya berdiri tegak, memenuhi sesak celana jeansnya.
“Sial! Kok jadi konak begini…. samperin Via ah, mungkin dia sdh selesai,”
katanya dalam benaknya.
Segera saja, ia pamit dari tongkrongannya dan menyampiri gedung tempat Via kuliah.
Suasana kampus malam itu sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang asyik berdiskusi atau bahkan pacaran.
Gedung tempat Via kuliah berada di paling pojok area kampus dan agak sedikit melewati lorong yang gelap.
Sesampai di gedung itu, ia mendapati kekasihnya sedang menunggu di kursi dekat toilet—tampaknya kelasnya sudah selesai beberapa menit yang lalu.
“Hi… darimana? Aku baru aja selesai… mau ke toilet cuma takut karena udah gak ada orang… tunggu bentar ya..”
sapa Via kepada Rangga sambil beranjak berdiri memasuki toilet.
Sejenak, Rangga tertegun menatap betapa anggun dan manisnya Via malam itu.
Tiba-tiba, ia nekat masuk mengikuti Via ke dalam toilet wanita dan memeluk Via dari belakang.
“Via… aku kangen bermesraan sama kamu…”
katanya sambil memeluk erat kekasihnya dan menciumi tengkuknya.
“Ahhhhh… Rangga… nanti ada orang… jangan disini,”
sergah Via sambil menahan geli kecupan lembut pada tengkuknya.
Rangga tidak mempedulikan ucapan Via dan malah meremas kencang kedua payudara mungil Via dari belakang serta menarik Via masuk ke salah satu bilik dalam toilet itu.
Dalam posisi berdiri berhadapan, Rangga mengulum bibir manis Via sambil meremas payudara Via dengan agak sedikit kasar.
Tangannya menuntun paksa tangan Via untuk meremas penisnya yang sudah mengeras dari tadi.
Satu per satu kancing kemeja Via dibukanya dengan nafsu memburu.
Semakin ia melihat sebagian kulit halus bagian dada Via, semakin beringas Rangga berusaha membuka kemeja itu.
Setelah semua kancing kemeja Via terbuka, Rangga mengangkat cup bra Via sehingga mencuatlah puting susu cokelat kemerahan Via.
Dengan cepat, Rangga melahapnya dengan kecupan, ciuman, dan kuluman-kuluman yang membuat tanda merah pada payudara kanan Via.
Dengan terburu-buru, Rangga membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya dari sela-sela samping celana dalamnya—agak tersiksa, namun kondisi darurat pikirnya.
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


