Memasuki masa kuliah adalah masa yang menyenangkan bagi semua orang, tak terkecuali Via dan Rangga yang dianggap sudah cukup dewasa dan bertanggung jawab atas masa depan mereka. Jika saat SMA mereka harus agak "backstreet" dengan keluarga Via karena dianggap belum cukup umur, kini saat kuliah mereka sudah mulai dilepas untuk saling antar-jemput dan pulang malam dengan alasan kuliah.
Semester pertama adalah masa awal adaptasi, di mana biasanya mereka terikat jam sekolah, tapi kini harus mengikuti jam kuliah yang bisa dipilih berdasarkan jadwal tersedia. Karena beda fakultas, Via dan Rangga terkadang saling menunggu untuk sekadar bertemu, bercengkrama, atau makan bersama.
Saat Via harus menunggu kuliah berikutnya dan Rangga sedang kosong jadwalnya, terkadang mereka menunggu di kos Rangga, di mana petualangan ini dimulai.
Pagi itu, tanpa disangka, dosen pengajar mata kuliah Via sedang kosong karena berhalangan. Rangga, yang dari pagi sudah suntuk karena harus bangun pagi-pagi menjemput kekasihnya untuk kuliah pagi, mendadak tersenyum sambil menawarkan Via untuk mampir ke kosnya sembari menunggu mata kuliah berikutnya yang kebetulan bersamaan dengannya.
Via, yang lega dengan absennya dosen killer itu, tampaknya tidak ragu mengiyakan ajakan Rangga. Ia malas pulang lagi untuk ganti baju, karena dosen killer yang absen mengharuskan formal dress. Pagi itu, Via mengenakan rok span cokelat selutut dengan kemeja ketat dibalut cardigan, membuatnya tampak lebih anggun dan manis.
Kos Rangga sebenarnya adalah kos khusus cowok. Namun, sang pemilik sering keluar kota dan menitipkan pengelolaan pada penjaganya yang merupakan teman nonton bola Rangga, sehingga tidak sulit memasukkan Via ke kamarnya. Toh, pikirnya, ia mau tidur lagi, dan mungkin Via ingin buka-buka komputer, melihat DVD yang kemarin disewa, atau bermain game.
Sesampai di kos, Rangga memarkirkan motornya tepat di depan kamar. Suasana kos cukup hening karena kebanyakan penghuni sudah berangkat ke kampus atau kerja.
Via, yang baru pertama kali masuk ke kamar kos Rangga, tampak canggung. Biasanya ia hanya bertemu di ruang tamu depan yang diperuntukkan untuk tamu.
Kamar kos Rangga tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Ada satu kasur, lemari, meja belajar, dan kursi yang agak berantakan khas kamar cowok.
Rangga langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, berusaha membayar utang tidurnya.
Naluri kewanitaan Via muncul. Ia membereskan buku-buku dan CD yang berserakan. Tak sampai sepuluh menit, Via sudah merapikan "kekacauan" kamar Rangga.
Lalu, ia duduk di depan komputer untuk bermain mini game mengisi kekosongan waktu.
Rangga tampaknya tidak benar-benar tertidur. Ia tidak mau kekasihnya bosan menunggu beberapa jam sebelum kembali ke kampus.
Saat Via sedang asyik bermain, tiba-tiba Rangga berdiri dan memeluk Via dari belakang.
Via, yang sedang duduk asyik bermain game, sempat kaget. Namun, ia kembali melanjutkan permainannya.
Rangga, yang dalam posisi berdiri memeluk Via yang sedang duduk dari belakang, punya keleluasaan untuk mengusap payudara mungil Via yang berbalut kemeja dan cardigan.
Via agak cuek karena pacaran mereka dari SMA memang sebatas main raba, french kiss, HJ, atau petting dalam kondisi berpakaian.
Melihat kekasihnya yang tampaknya sudah terbiasa dengan aksinya, Rangga semakin agresif mengusap dan meremas lembut payudara mungil Via.
Ketika hasrat tak tertahan, Rangga menarik Via berdiri, memutar badannya sehingga berhadapan, dan melumat bibir indah Via.
Bibir mereka saling bertemu, dan sesekali lidah nakal Rangga memasuki rongga mulut Via, berkeliaran dengan nakalnya. Sementara kedua tangannya meremas pantat bulat Via yang terbalut rok span warna cokelat.
Beberapa saat french kiss itu sudah cukup membakar gairah muda yang menggelora.
Rangga membalik tubuh Via dan kembali memeluknya dari belakang, kali ini dilakukan di depan kaca. Ia sesekali melihat ekspresi wajah Via saat payudaranya diremas lembut oleh kedua tangan besarnya.
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


