Ibu pun memeluk leherku dan memandangku dengan perasaan kasih sayang dan birahi yang menggebu-gebu.
Wajahnya yang putih terlihat memerah sampai aku merasa gemas melihatnya, lalu aku ciumi wajah ibuku mulai dari kening, kedua pipinya, dagu lalu bibirnya.
Dengan kecepatan sedang aku mulai menggerakkan pantatku dan kontolku sangat senang sekali menerobos keluar masuk didalam lorong memek ibu yang lembut.
“Bu, memek ibu enak sekali… Ahhhh… terasa menggigit ahhh…”
Kataku kepada ibuku yang sedang memeluk leherku.
“Ibu juga sayang, kontol kamu lebih nyaman ibu rasakan… Sampai memek ibu ketika kontol kamu masuk… Tanpa ibu sadari berkedut hebat melekat erat kontolmu… Ahhhh… Ibu sungguh bahagia sayang…”
Ucap ibuku yang terpancar raut kebahagiaan dari wajahnya.
“Bu, ibu lepaskan saja dasternya…”
Kataku kepada ibu.
“Iya sayang…”
Ibu pun melepas dasternya, ketika mengangkat dasternya payudara ibuku yang besar ikut terangkat lalu terjatuh kembali bergoyang-goyang.
Sungguh pemandangan yang luar biasa.
Aku juga membuka kaosku lalu ditaruh di atas tutup ember tempat kaki ibuku yang terangkat.
Lalu ku arahkan ujung moncong meriamku ke lobang memeknya yang licin dan hangat, dengan sekali tekan Blesssskkk!!!
Seluruh batang kontolku masuk kedalam ditelan memek ibuku sampai hanya tersisa pangkalnya saja yang menempel dengan pubisnya.
Setelah masuk aku peluk ibuku, sedangkan ibu memeluk leherku sambil aku ciumi bibir juga lehernya.
Tubuhku sampai gemetaran merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat didalam memek ibuku, rasanya seperti dikunyah oleh daging lembut yang bergerinyal, meremas erat dan seakan menyedot batang kontolku sampai kedasar lobang memeknya.
Otot bagian dalam memek ibu pun seperti sengaja mencengkeram batang kontolku, sampai aku dan ibuku kelojotan merasakan kenikmatan persetubuhan sedarah ini.
Kami tahu bahwa yang sedang kami lakukan ini salah.
Perselingkuhan, pengkhianatan, serta cinta terlarang yang dilakukan kami berdua memang sudah keluar dari jalur kodratnya sebagai manusia yang berakal.
Kuatnya cinta yang bersemayam di hati kami, kenikmatan yang didapatkan dari penyatuan kelamin senasab, sudah membutakan semua larangan yang mengekang kebebasan kami.
Hentakan demi hentakan selangkangan yang beradu, begitu merdu menggema seperti suara adonan roti yang di pukul-pukul dengan telapak tangan Plok! Plok! Plok!
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


