“Ohh.. si Marni adik kamu lagi main, udah beberapa hari ini nanyain kamu terus tuhh..!! Sampa dia kalau makan suka melamun… Ibu tanya ‘kenapa?’ dia bilang ‘gak nafsu makan kalau gak ada kakak…’ dasar marni-marni.. udah gede manja banget sama kamu…”
Kata bibi sambil bersandar di dinding bilik bambu.
“Saya juga sudah menganggap bibi ibu Ucup, Marni pun sudah seperti adik kandung Ucup bi… Kecuali.. heheee…!”
Bibiku tahu apa yang tersirat di kalimat terakhirku, dia hanya tersenyum dan mencubit perutku.
“Udah makan belum kamu? Bibi didapur ada sayur daun ubi sama ikan asin… Ambil aja di dapur, rumah bibi rumah kamu juga…”
Kata bibi melihat kearahku.
“Iyaa bi Ucup lupa belum makan soalnya pas ada ayah dirumah, Ucup pergi kangen bibi sampai perut belum diisi nasi…”
Kataku sambil mengusap perut.
“Tuhh kan, makan dulu sana..! nanti kamu sakit lho…”
“Bibi sendiri udah makan..?”
“Kalau bibi udah tadi…”
“Ngomong-ngomong mang Amar kemana bi..?”
Tanyaku pada bi Sarah, karena kulihat seisi rumah tak ada mang Amar.
“Mamang kamu lagi disawah… Setelah itu pasti kehutan nyari kayu bakar…”
Kata bibiku yang duduk di sampingku dengan memakai daster.
Tiba-tiba datang Marni dari arah pintu depan, melihatku ada dirumahnya dia girang banget sampai duduk dilahunanku yang sedang bersila.**
“Kak Ucup kemana aja sihh..?? Marni berhari-hari gak dikunjungi… Apa jangan-jangan kak Ucup udah punya pacar ya? Jadi melupakan marni…?!”
Kata adikku ini yang sebenarnya kami sudah seumuran, hanya beda bulan saja.
Hanya didepan bibiku saja Marni mau duduk dilahunanku, jika ada ayahnya mang amar dia takut dimarahi karena sudah gede tapi masih seperti bocah kelakuannya.
Didepan bibiku aku dan Marni sudah terbiasa melakukan hal seperti ini, tak ada pikiran buruk tentangku walaupun kami pernah tidur bersama dikamarnya.
Untuk itulah kami bertiga bagaikan kopi dan gula, pelengkap suasana. Jika tak ada salah seorang di antara kami, seakan ada yang kurang di keluarga bibiku ini.
“Kakak lagi jagain ibu di rumah, Dek, soalnya ayah Ucup lagi keluar kota. Kasihan kan kalau ibu ditinggal di rumah sendirian? Maafin Kak Ucup, ya? Kangen gak sama kakak?” kataku sambil mengusap-usap perutnya.
“Kangen banget atuh, Kak… Emang Kak Ucup gak kangen sama Marni?” kata Marni menoleh ke arahku.
Hampir saja bibir kami bertemu, membuat milikku bereaksi di bawah pantatnya. Namun, aku menahannya sekuat tenaga agar tetap tenang dan tidak tegang.
“Kangen banget adek bawel… Huhhhhh…!!!”
Aku menggelitik pinggangnya sampai Marni bergerak naik turun sambil mengaduh.
“Ihhh..! Kakak gellliiii…”
Tapi anehnya, Marni tak melawan. Ia malah tetap diam saja sementara posisinya terus menekan milikku. Bibiku hanya tersenyum melihat keakraban kami berdua.
“Marni, kakakmu itu belum makan lho..!” ucap Bi Sarah.
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


