Hingga rasa yang ada di hatiku terucapkan melalui untaian-untaian kalimat yang keluar dari mulutku.
“Bu, sungguh aku jatuh cinta sama ibu… Jadilah istriku Bu, meskipun tak bisa diikat dengan tali perkawinan…”
Ibuku terdiam dengan nafas yang memburu. Degup jantungnya kurasakan dengan dadaku, karena aku dan ibuku saat ini berpelukan erat sekali.
“Tapi ada syaratnya nak dari ibu…”
“Apa Bu? Katakanlah…”
“Pertama selain celana dalam ibu jangan kamu lepaskan ya nak? Kedua kamu harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu sama ibu. Yang ketiga rahasiakan serapat-rapatnya kejadian ini dari orang lain, termasuk ayahmu…”
“Baik Bu, Ucup terima semua syarat yang diberikan ibu… Bu, Ucup mencintai ibu tak hanya soal seksual saja… Ucup sebagai anak ibu benar-benar menyayangi ibu, percayalah Bu, Ucup takkan sia-siakan kepercayaan ibu…”
“Nak, ibu juga sangat mencintaimu… Tega kamu sudah buat ibu jatuh cinta sama kamu… bahagiakan ibu nak, senangkan ibu dengan caramu…”
“Terimalah air ludahku Bu… telanlah…”
Aku kumpulkan ludahku sebanyak-banyaknya lalu aku ludahi mulut ibuku.
Selanjutnya ibu pun mengumpulkan ludahnya banyak-banyak, lalu diberikannya kepadaku.
Aku pun menelannya dengan senang hati.
Anehnya, setelah pertukaran ludah itu, ketika aku menelannya seakan seperti jamu perangsang yang membuat birahi saya semakin meningkat drastis.
Sehingga kami jadi lupa diri bahwa kami adalah anak dan ibu kandung.
Hasrat seksual kami berdua semakin liar dan tak terkendali. Ada apa ini? Mungkinkah perbuatan kami menjadi sebuah pesta tontonan para setan?
Soalnya aku dan ibuku sudah tidak memperdulikan larangan hubungan tabu yang sedang kami lakukan.
Ibuku yang tak tinggal sembahyang dan religius, bisa takluk oleh cumbu rayuanku.
Usahaku selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil, aku dan ibu kini bersatu. Aliran birahi terus menyebar ke seluruh tubuhku, urat dan ototku menegang semuanya, termasuk kontolku. Ibuku mengap-mengap mulutnya aku sumbat dengan mulutku. Tapi ibu tidak mau melepaskan ciumannya denganku, aku pun jadi semakin berani memegang payudaranya, meremasnya. Bahkan secara refleks kami saling mendekatkan selangkangan, sehingga kontolku menekan bagian atas memeknya (pubis). Beberapa menit kemudian aku lepaskan ciumanku, tapi tanganku masih meremasi pantat ibuku.
“Enak gak bu ciuman Ucup.. baru kali ini Ucup berciuman dengan wanita.. aku sangat beruntung karena ibu wanita pertama yang Ucup cium…”
“Ibu juga nak, baru kali ini ibu seliar ini… Vagina ibu sampai basah lho…” Ucap ibu sambil meraba kewanitaannya.
“Lagi yuk Bu?”
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


