“Iyaa nak.. ibu mulai hari ini akan terbuka sama kamu… Tapi janji yaa jangan sampai bapakmu tahu…?”
Ucap ibu sambil membalas menyuapiku.
“Iya Bu tentu… Karena kita sama-sama saling membutuhkan, bahkan lebih dari itu.. kita saling menyayangi… Baiklah Bu Ucup ngasih makan kambing dulu ya… Hari ini mungkin Ucup tidak menggembala dulu, paling mau ngambil rumput saja didekat sini…”
“Ya sudah ibu kedalam mau nyuci sprei dulu…”
“Emang spreinya udah kotor Bu..?”
“Emmm… Rahasia ahh masa ibu ceritain…”
Ucap ibu malu-malu.
“Katanya mau terbuka… Tapi gpp lah Ucup gak maksa kok…”
Aku beranjak mau pergi memberi makan ternak. Sebelum pergi ibu berkata,
“nanti ibu ceritain cup..”
“Iyaa buu.. ibu jangan khawatir, Ucup baik-baik saja kok…”
Kataku kepada ibu bahwa aku tidak terlalu mau tahu tentang masalah sprei itu.
Saya pergi ke kandang yang berada di samping rumah, memberinya makan kambing, ayam, bebek.
Lalu bergegas ke tempat lapang yang penuh rumput tidak jauh dari rumah. Disitulah aku setiap hari mengambil rumput untuk makan ternak.
Sebelum siang semua pekerjaan yang biasa aku kerjakan selesai semua dikerjakan, lalu aku pergi ke kandang ayam. Disitu ada ayam yang sedang bertelur ku ambil dua butir.
Kedua telur ayam kampung itu aku cuci bersih kulitnya, lalu dengan segera aku makan mentah dua butir sekaligus.
Pokoknya hari ini atau di malam harinya saya harus menyetubuhi ibu. Kalau pun gagal, setidaknya spermaku keluar dengan bantuan ibuku.
Niat yang begitu kuat semoga saja berhasil tujuanku itu.
Usahaku, kerja kerasku selama beberapa tahun yang lalu. Saya yakin, pasti akan menuai hasil yang memuaskan.
Niat burukku ini memang sangat tabu. Seorang anak berusaha menitip benih di rahim ibunya sangatlah terlarang.
Tapi bagiku justru itulah kenikmatan tertinggi ketika sel spermaku bertemu membuahi sel telur ibuku.
Dengan penuh keyakinan aku langkahkan kakiku dengan mantap masuk ke dalam rumah.
Ku lihat ibu sedang memasak di dapur dengan busana kemben dan kain sarungnya juga kerudung yang menutupi rambut kepalanya.
“Cup.. udah pulang nak..? Tunggu sebentar ya kita makan sama-sama… Ibu sedang masak tumis jantung pisang…”
Ucap ibuku sambil membungkuk mengaduk tumisan jantung pisang di atas tungku.
“Wahh! Kayaknya enak Bu… Ibu pandai banget memasak… Apapun yang ibu masak pasti enak…”
Pujiku pada ibu.
“Iyaa atuh, kan dulu ibu belajar memasak sama almarhum nenek kamu… Makanya ilmu memasak itu turun ke ibu… hihi”
Ibu tertawa dengan gemasnya.
“Kita makan di dapur aja bu…”
“Iyaa makan disini aja, cuman kita berdua ini…”
“Ucup nyiapin nasinya dulu ya Bu..?”
“Iyaa…”
Ucap ibu tersenyum.
Setelah nasinya siap, tumis jantung pisang itu akhirnya matang juga.
Lalu ibu menuangkannya di atas piring dan kami pun makan dengan lahapnya meskipun lauknya sederhana, jantung pisang.
Aku berusaha seromantis mungkin menyuapi ibu demi mendapatkan tujuan itu. Perlu kerja keras dan keyakinan yang kuat untuk meluluhkan hati ibu.
Karena tidak mungkin aku mengajak ibuku bersetubuh secara terang-terangan tanpa perjuangan, juga secara logika pun hal tersebut memang sangatlah sulit, selain tabu juga sangatlah bertentangan dengan ajaran agama yang kami anut.
Perjuanganku membuahkan hasil, meskipun secara perlahan dalam kurun waktu yang sangat lama. Ibuku berhasil aku taklukkan.
Tinggal beberapa langkah lagi. Jika tak ada aral rintangan yang menghadang saya yakin pasti berhasil.
Kami tersenyum, tertawa, bercanda sambil makan.
Sesekali keromantisan ditunjukan oleh kami berdua. Ibuku kini mulai terbiasa saling menyuapiku.
Padahal yang saya tahu, ibu belum pernah menyuapi ayah sekali pun.
Makan-makan pun selesai. Ku bantu ibu membereskan tempat kami makan, mencuci piring, menyapu bahkan membereskan pekerjaan rumah.
Mumpung masih siang aku buru-buru mandi, soalnya aku gak kuat mandi dengan air dingin di suhu yang dingin.
Meskipun masih tetap kedinginan, aku tetap memaksakan untuk mandi “Byurrrr…!!!” Air di gayung yang ditampung di bak terbuat dari drum bekas aspal saya guyurkan ke kepala.
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


