Saya berinisiatif untuk mengajak ibu ke dalam,
“Bu, kita kedalam yuk? Ibu boleh ceritakan semuanya uneg-uneg ibu ke Ucup… Ucup akan mendengarkan keluhan ibu karena Ucup sayang ibu… Yuk Bu..?”
Saya tarik tangan ibu untuk ke dalam. Ibu pun menurut mau aku ajak seperti tak ada penolakan.
Pintu rumah saya kunci karena hujan sangat lebat dan berangin. Jika ayah pulang pasti nanti mengetuk pintu.
Ketika sudah sampai di dalam, saya mengajak ibu ke kamarku.
Ibu pun tidak berkata kenapa harus ke kamarku? Bukan di tengah rumah atau di dapur.
Bukan pertama kalinya ibu berduaan di kamarku. Dulu ketika saya sakit pun ibu sering ke kamarku mengompres keningku dengan lap basah, bahkan pernah saya juga masuk ke kamar ibu merawat ibu ketika sakit.
Mungkin karena sebab kebiasaan itulah ibu tak bertanya, kenapa harus ke kamarku hanya untuk sekedar curhat?
Kami pun duduk di pinggir kasur saling berhadapan. Ku genggam tangan ibu agar ibu kuat dan ibu yakin bahwa aku peduli untuk mendengar keluh kesahnya.
“Bu, katakan saja… Ucup bersama ibu sekarang… Jangan ibu pendam terus karena Ucup juga tidak mau hanya ibu saja yang menanggungnya. Mari Bu, Tumpahkan semuanya beban ibu itu kepada Ucup..”
Saya cium tangan ibu dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.
Hujan di luar semakin bergemuruh, suara halilintar menyambar-nyambar.
Terlihat sedikit kabut yang masuk melalui celah papan dan lubang anyaman bambu ke dalam kamar. Berarti di luar kabut sangat pekat sampai masuk ke dalam rumah.
“Cup.. ibu sebenarnya malu mengatakannya, tapi ibu percaya sama kamu… Dalam membangun rumah tangga ibu paham banyak lika-likunya… Ibu bingung kenapa bapak kamu kurang respek terhadap kerja keras ibu, mulai dari dandanan, rasa masakan, perhatian dan kasih sayang. Setidaknya pujilah istrinya meskipun melakukan pekerjaan rumah yang terlihat sepele pun, karena ibu bukannya tak ikhlas berbakti kepada suami, tapi seorang istri juga butuh perhatian dari suaminya. Bertahun-tahun ibu merasa tak dihargai, tapi ibu juga untungnya ada kamu disisi ibu yang selalu menghargai ibu, memuji ibu sampai ibu merasa senang dan tersenyum sendiri karena saking bahagianya…”
Ibuku tak sanggup menahan beban di hatinya lagi sampai meneteskan air mata di pipinya.
Aku peluk ibuku, lalu ibu pun menangis di pelukanku sambil terisak-isak.
Ku usap-usap belakang kepala ibuku menenangkannya. Sialnya torpedoku terbangun sehingga menyalurkan pikiran-pikiran kotor ke otakku.
Sambil ku peluk, kucium leher ibu lalu keluarlah hembusan nafas birahi yang menerpa lehernya.
Ibu diam saja tatkala tanganku juga membelai punggungnya.
Setelah beberapa kali ku belai, ibu tidak tahu dari tadi nafsuku sedang bergejolak dan ingin sekali melepaskan cairan birahi itu semuanya.
Perlahan aku pandangi wajah ibu. Ku seka air matanya yang sudah berhenti mengalir.
Kedua mata saling bertemu, perasaanku juga dengannya yang berada di hati, seakan saling terkoneksi seperti bluetooth bertukar data-data perasaan yang ada di hati kami.
Saya ajak ibuku menuju tengah kasur lalu ibu pun berbaring di situ dengan hanya memakai kemben dan kain sarungnya.
Aku pun tiduran dengan posisi menyamping sambil memeluk ibu, dengan kaki kananku menindih kakinya seperti memeluk guling.
Baru kali ini aku dan ibu saling berpelukan di kasur. Dengan begini seakan benteng yang menghalangi kami berdua mulai ada sedikit retakan dan berlubang.
Ku belai rambut ibu dengan lembut dan perlahan. Kedua mata saling bertemu, lalu ibu tersenyum kepadaku dengan senyuman yang membuat perasaanku campur aduk.
Wajahnya yang begitu cantik, tubuh yang diselimuti aura birahi mengundang naluri lelakiku.
Perlahan-lahan tanganku turun mengusap pantat ibuku yang membusung dan lebar. Tak ada sedikit pun reaksi penolakan dari ibu.
Seharusnya ibuku mendelik atau memarahiku karena aku sudah menggerayangi tubuhnya, tapi dia pun malah mengusap pipiku sambil memandangi setiap sudut wajahku.
“Bu, ibu cantik sekali…”
Kataku sambil meremas belahan pantatnya.
“Ternyata kamu sudah dewasa ya cup..? Setiap ada masalah di hati ibu, kamu selalu menjadi solusi tempat ibu mengadu…”
“Bu, memang Ucup belum berpengalaman membangun rumah tangga… Tapi, Ucup bisa merasakan apa yang mengganggu pikiran ibu.. Ucup hanya tidak mau ibu menanggung beban di hati ibu sendirian.. biarkan Ucup juga merasakan yang ibu rasakan ya Bu..?”
Kataku semakin meremas pantat ibu.
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


