Kampung Cipalasik adalah kampung yang damai dan sejuk.
Di sini, kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Ada yang berkebun, berternak unggas, kambing, juga menanam padi di sawah.
Kebayangkan rumah penduduk di sini? Rumah panggung dengan dinding bambu atau papan kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi rumah yang memang bagi kami sangat layak untuk ditempati.
Kampung kami terletak di pegunungan yang berkabut dengan curah hujan yang tinggi.
Posisi tempat kampung kami juga berada sangat jauh dari kota. Butuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke sana.
Selain jalannya yang rusak parah, penuh lumpur dan berbatu, di tengah jalan juga belum tentu selamat dari perampok. Selalu saja ada kejadian orang dianiaya bahkan hingga tewas.
Begitu pun dengan keadaan rumah yang sedang kami tempati. Terbuat dari anyaman bambu, bagian atasnya terbuat dari anyaman daun kelapa yang disusun rapi berbaris-baris yang kini sudah berwarna coklat.
Kadang jika hujan sangat lebat, ada saja air yang menetes ke dalam ruangan rumah kami.
Ini sudah menjadi kebiasaan. Di saat hujan, pasti terjadi seperti ini.
Sedangkan lantainya juga terbuat dari anyaman bambu yang kerangkanya dari campuran bambu tua juga kayu-kayu yang diambil dari hutan.
Karena rumah kami adalah rumah panggung, di bagian bawahnya dimanfaatkan untuk kandang beberapa unggas. Di pinggir rumah juga ada beberapa kambing yang setiap hari saya cari rumput untuk makanan ternak kami.
Hidup seperti ini yang penuh dengan kekurangan, tidak membuat kami merasa mengeluh dengan pemberian rezeki yang ditebarkan Tuhan kepada makhluknya.
Kami merasa bersyukur dengan keadaan kami karena di luar sana pastilah banyak keluarga yang lebih susah kehidupannya daripada kehidupan kami.
Saya Ucup, berusia 18 tahun dengan tinggi 170 cm, berbadan agak kekar hasil dari kerja keras setiap hari di kebun, sawah, dan menggembala kambing.
Kulitku juga berwarna coklat kehitaman akibat di saat terik matahari pergi ke hutan mencari rumput untuk makanan ternak.
Ketika menggembala kambing, saya tak sendiri, karena ada teman-teman sebayaku yang juga punya hewan ternak yang selalu digembalakan.
“Cup.. Ucup…?!”
Ibuku memanggilku dari dalam rumah.
“Iyaa Bu?? Ada apa bu…??”
Kata aku kepada ibu.
Sedikit tentang ibuku, namanya Ibu Darsih, berusia 38 tahun, tinggi sama denganku 170 cm. Berat badannya saya tidak tahu persis, yang jelas tubuhnya gendut dengan paha dan pantat yang besar, pinggul lebar, payudaranya yang besar kadang sampai menyembul.
Terlihat uratnya yang hijau di balik kulitnya yang putih, entah mungkin BH-nya tak sanggup menampung payudaranya atau memang BH-nya kekecilan.
“Ini nasi sama lauknya nak, kenapa tidak makan dulu saja sebelum menggembala kambingnya? Nanti kamu sakit nak…?”
Kata ibuku.
“Nanti saja Bu di hutan makannya sama teman-teman, soalnya Ucup suka kalau makan bareng sambil menggembala Bu..”
Kata aku kepada ibuku yang sedang membawakan rantang berisikan nasi dan lauknya lalu dimasukkan ke dalam tas selempangku yang terbuat dari anyaman rotan.
“Makasih bu, ibu selalu nyiapin buat Ucup makanan kalau mau menggembala…”
Kataku kepada ibu.
“Kamu udah berapa kali ngomong itu kepada ibu nak?, sampai tidak ke hitung.. memang nalurinya seorang ibu menyayangi anaknya.. setiap ibu pasti begitu. Hati-hati yaa nak di hutannya…”
Ucap ibuku sambil tersenyum.
Aku pun melambaikan tanganku sambil terus melangkah menggiring beberapa kambing menuju hutan.
Di tengah jalan, saya bertemu dengan teman-teman yang sedang menggiring kambing-kambingnya.
Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, kadang tak melakukan perjanjian pun kami selalu bertemu di tengah jalan.
Setelah sampai di tempat yang penuh rumput yang menghijau, kami membiarkan kambing-kambing itu makan sendiri.
Saya bersama teman-teman membuka bungkusan bekal dari rumah masing-masing. Kami makan dengan lahap serta saling berbagi lauk pauknya.
Sesekali mata kami melihat kambing-kambing itu agar tidak mencari makan terlalu jauh, karena pernah saking asyiknya ngobrol, kambing kami hilang dari pantauan meskipun akhirnya ditemukan kembali.
Sore harinya, saya pulang kembali sambil membawa rumput di karung untuk diberikan ke hewan ternak pada pagi harinya.
Setelah memasukkan kambing-kambing ke kandangnya, saya taruh karung yang berisikan rumput itu di samping kandang, lalu istirahat sejenak di depan rumah di terasnya yang berbentuk panggung yang terbuat dari anyaman bambu.
Duduk sambil melihat pemandangan alam yang menghijau, disertai angin yang begitu sejuk membelai kulitku sampai keringatku mengering.
Ketika sedang duduk-duduk itu, datanglah ibuku sambil membawa ketel (tempat air minum) yang terbuat dari aluminium beserta gelas kacanya yang bermotif bunga.
Ibuku ikut duduk di sampingku lalu berkata,
“Cup, minum dulu nak…”
Bersambung…..
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.69da2


