Pagi berikutnya berlalu seperti biasa. Irfan kuliah pagi, pulang sekitar pukul 14.00, lalu langsung bilang ke Diana, “Ma, sore ini aku ada kelompok tugas di kampus sampai malam. Richard mau ke sini duluan buat main game. Boleh kan? Dia bilang mau nunggu sampai aku pulang.”
Diana yang sedang menyapu lantai ruang tamu hanya mengangguk sambil tersenyum dalam hati. “Boleh. Tapi jangan pulang terlalu malam ya. Mama masakin makanan buat kamu.”
Irfan pergi jam 15.30. Rumah kembali sepi.
Diana naik ke kamarnya di lantai dua. Ia mandi lama sekali, menggosok tubuhnya dengan sabun beraroma melati. Setelah itu ia berdiri di depan cermin, memilih pakaian dengan hati-hati. Kali ini ia memakai gaun rumah tipis berwarna krem muda, tanpa lengan, panjangnya sampai pertengahan paha. Bagian dada gaunnya rendah, hampir memperlihatkan belahan payudara yang penuh. Bra hitam tipis ia pakai, tapi sengaja dipilih yang agak longgar sehingga putingnya mudah terlihat kalau ia bergerak. Celana dalamnya hitam renda, sudah terasa lembab sejak pagi karena memikirkan Richard.
Jam 16.45, bel rumah berbunyi.
Diana turun dengan langkah pelan, pinggulnya bergoyang alami di balik gaun tipis. Ia membuka pintu.
Richard berdiri di depan. Matanya langsung turun ke dada Diana, lalu cepat naik lagi. Pipinya langsung memerah.
“Selamat sore, Tante…”
“Sore, Richard,” jawab Diana lembut, suaranya seperti madu. “Masuk yuk. Irfan belum pulang, katanya ada tugas kelompok sampai malam.”
Richard menelan ludah. “Iya..Tante, tadi sudah dikabarin sama Irfan.”
“Kamu nggak keberatan kan nunggu di sini sama Tante?” Diana menutup pintu di belakang Richard, lalu mengunci dengan pelan. Suara klik kunci itu terdengar.
Mereka berdua berdiri di ruang tamu yang temaram karena tirai ditutup rapat. AC menyala pelan, membuat suhu ruangan sejuk tapi tubuh mereka berdua sudah mulai panas.
“Main game dulu di ruang tamu aja,” kata Diana sambil mengambil tas Richard dan meletakkannya di sofa. “Kamar Irfan panas sore-sore begini.”
Richard mengangguk, tak berani banyak bicara. Ia duduk di sofa panjang. Diana duduk tepat di sebelahnya, jarak mereka hanya satu jengkal. Gaunnya naik sedikit, memperlihatkan paha yang halus dan putih.
“Minum dulu,” kata Diana. Ia bangkit, membungkuk di depan Richard untuk mengambil dua gelas es jeruk dari meja. Gaunnya yang longgar di dada turun ke bawah, memperlihatkan hampir seluruh payudara kanannya yang bulat dan berat, bra hitam hanya menutupi putingnya saja.
Richard tak bisa berpaling. Batangnya langsung bereaksi di dalam celana pendeknya.
Diana menegakkan tubuh lagi, tersenyum melihat reaksi pemuda itu. Ia memberikan gelas ke Richard, lalu duduk lebih dekat. Paha mereka sekarang bersentuhan.
“Kemarin… kamu pulang dengan wajah aneh,” bisik Diana sambil menyesap es jeruknya. “Pasti mikirin Tante terus ya?”
Richard mengangguk pelan. “Iya Tante… aku nggak bisa tidur semalam.”
Diana tertawa kecil, tangannya menyentuh paha Richard dan mengusapnya naik turun dengan lembut. “Tante juga nggak bisa tidur. Tiap kali tutup mata, Tante ingat tangan Tante di sini…” Jarinya naik lebih tinggi, hampir menyentuh selangkangan Richard.
Richard mengembuskan napas berat. “Tante… ini bahaya. Kalau Irfan tahu…”
“Irfan nggak akan tahu,” potong Diana tegas tapi lembut. “Ini rahasia kita berdua. Tante janji.”
Tangan Diana semakin berani. Ia meremas paha Richard, merasakan otot yang tegang. Kemudian ia menggeser tubuhnya lebih dekat lagi hingga payudaranya menekan lengan Richard.
“Kamu mau Tante lanjutin yang kemarin?” tanya Diana sambil menatap mata Richard dalam-dalam. Bibirnya terbuka sedikit, napasnya hangat.
Richard hanya bisa mengangguk.
Diana tersenyum puas. Ia bangkit sebentar, menarik Richard agar berdiri juga. “Kita pindah ke sofa yang lebih panjang ya. Biar lebih nyaman.”
Mereka pindah ke sofa panjang di depan TV. Diana mendorong Richard agar duduk bersandar. Kemudian ia naik ke pangkuan pemuda itu, duduk menghadapnya dengan kedua kaki menjepit pinggul Richard. Gaunnya naik sampai pinggang, memperlihatkan celana dalam hitam renda yang sudah basah di tengah.
Payudara Diana sekarang tepat di depan wajah Richard. Ia memegang kepala pemuda itu dengan kedua tangan, menariknya ke belahan dada.
“Cium Tante di sini dulu,” bisiknya.
Richard gemetar. Ia mencium kulit dada Diana yang halus dan wangi. Bibirnya menyentuh belahan yang dalam, lidahnya menjilat pelan garis antara kedua payudara. Diana mendesah pelan, tangannya mengusap rambut Richard.
“Tarik gaunnya ke bawah, Sayang… Tante mau kamu lihat semuanya.”
Richard menarik tali gaun di bahu Diana perlahan. Gaun itu meluncur turun sampai pinggang, memperlihatkan bra hitam yang hampir tak mampu menahan payudara besar Diana. Putingnya sudah mengeras, menonjol jelas di balik kain tipis.
Diana meraih tangan Richard, meletakkannya di payudara kirinya. “Remas… pelan dulu.”
Richard meremas payudara yang lembut dan berat itu. Jarinya merasakan kehangatan dan keempukan yang luar biasa. Diana mendesah lagi, pinggulnya mulai bergoyang pelan di pangkuan Richard, menggesek kejantanan yang sudah sangat keras di balik celana pendek.
“Enak ya… payudara Tante?” tanya Diana sambil menggigit bibirnya.
“Enak sekali Tante…” jawab Richard parau.
Diana membuka kaitan bra di belakangnya sendiri. Bra hitam itu jatuh ke depan, melepaskan kedua payudara besarnya yang bulat sempurna. Putingnya pink kecokelatan, sudah berdiri tegak karena gairah.
Ia menarik kepala Richard lagi. “Hisap puting Tante… pelan-pelan ya. Tante suka yang lama.”
Richard membuka mulutnya, menangkap puting kiri Diana. Ia mengisap pelan, lidahnya berputar di sekitar puting yang keras itu. Diana mengerang lembut, tangannya menekan kepala Richard lebih dalam. Payudaranya yang besar menekan wajah pemuda itu.
“Yang kanan juga… gantian ya…”
Richard pindah ke puting kanan. Ia mengisap lebih kuat, sesekali menggigit pelan. Diana mulai menggerakkan pinggulnya lebih cepat, menggesek celana dalamnya yang basah ke batang Richard yang masih terbungkus celana.
Tangan Diana turun, meraba kejantanan Richard di atas celana. Ia meremasnya pelan, merasakan denyutannya yang kuat.
“Sudah sangat keras… Tante mau lihat lagi.”
Ia turun dari pangkuan Richard, berlutut di lantai di antara kedua kaki pemuda itu. Tangan Diana menarik celana pendek Richard ke bawah bersama boksernya. Kejantanan Richard melompat keluar, sudah sangat tegang, kepalanya mengkilap penuh precum.
Diana memegang batang itu dengan kedua tangan, mengusap naik turun sangat perlahan. “Gede banget… tebal dan panjang. Tante suka banget.”
Ia mencondongkan wajahnya, meniupkan napas hangat ke kepala batang. Kemudian lidahnya menjilat dari pangkal sampai ujung, lambat sekali, menikmati setiap urat yang menonjol. Richard mengerang keras, tangannya mencengkeram sofa.
Diana terus menjilat, lidahnya melingkar di kepala, sesekali masuk ke lubang kecil di ujung untuk menjilat precum yang keluar. Tangan kirinya memegang bola-bola Richard, meremas pelan dan memutar.
“Enak Sayang?” tanya Diana sambil menatap ke atas, matanya penuh nafsu.
“Enak Tante… ahh… jangan berhenti…”
Diana tersenyum. Ia membuka mulutnya lebar, menelan batang Richard sampai separuh. Mulutnya hangat, basah, dan lembut. Ia menggerakkan kepalanya naik turun dengan irama yang sangat lambat—satu detik turun, dua detik naik. Setiap kali kepala batang menyentuh tenggorokannya, ia menahan sebentar, lalu mengisap kuat sambil lidahnya bergerak di bawah.
Air liurnya menetes deras ke pangkal batang dan bola Richard. 6064Please respect copyright.PENANASJXY5cmNhj
Suara “slurp… slurp…” terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi.
Diana melepaskan sebentar, tangannya memompa batang yang licin itu dengan kecepatan sedang. “Tante bisa lebih dalam lagi… mau coba?”
Richard mengangguk cepat.
Diana menarik napas dalam, lalu menelan batang Richard sampai hampir seluruhnya. Kepala batang masuk ke tenggorokannya. Ia menahan di sana selama beberapa detik, tenggorokannya berkontraksi di sekitar batang. Richard hampir mencapai klimaks, tapi Diana melepaskan tepat waktu.
“Belum boleh keluar ya… Tante belum puas,” bisiknya sambil tersenyum nakal.
Ia kembali mengisap, kali ini lebih basah dan lebih dalam. Tangan kanannya memegang bola Richard, jari telunjuknya sesekali menyentuh lubang belakang pemuda itu dengan tekanan ringan, membuat Richard menggigil hebat.
Selama hampir 25 menit Diana melanjutkan blowjob yang sangat lambat dan detail itu. Ia bergantian antara mengisap dalam, menjilat seluruh batang, mengisap bola-bola, dan memompa dengan tangan yang licin oleh air liurnya. Setiap gerakan dibuat perlahan, penuh perhatian, seolah ia sedang menyembah kejantanan Richard.
Akhirnya Diana berdiri. Gaunnya sudah jatuh ke lantai. Ia hanya memakai celana dalam hitam renda yang sudah basah sekali.
Ia naik lagi ke pangkuan Richard, tapi kali ini ia membalikkan tubuhnya. Punggungnya menempel di dada Richard. Ia menarik celana dalamnya ke samping, memperlihatkan vagina yang sudah sangat basah, bibirnya mengkilap dan membengkak karena gairah.
“Tante mau gesek di sini dulu ya…” bisik Diana.
Ia memegang batang Richard dengan tangan, mengarahkan kepalanya ke celah vaginanya yang panas. Kemudian ia menggesekkan kepala batang itu naik turun di antara bibir vaginanya—sangat pelan, sangat basah. Setiap kali kepala batang menyentuh klitorisnya, Diana mendesah panjang.
Richard merasakan panas dan kelembaban yang luar biasa. Tangan Diana memegang batangnya kuat, mengontrol gerakan gesekan itu.
“Rasanya enak sekali… kepala kamu panas banget di sini,” desah Diana.
Ia terus menggesek selama hampir 15 menit. Kadang ia menekan lebih dalam hingga kepala batang hampir masuk, tapi selalu menarik kembali. Permainan yang membuat mereka berdua semakin gila.
Tangan Richard meremas payudara Diana dari belakang, memilin putingnya pelan. Diana memiringkan kepalanya, mencium bibir Richard dari samping sambil terus menggesek.
Ciuman mereka dalam dan basah. Lidah mereka saling menari, air liur bercampur.
Diana semakin cepat menggesek. Napasnya tersengal. “Tante mau keluar dulu ya… kamu tahan sebentar…”
Tubuh Diana menegang. Ia menekan batang Richard kuat ke klitorisnya dan menggosok cepat. Akhirnya ia mencapai orgasme pertama—tubuhnya gemetar hebat, cairan hangatnya membasahi batang Richard dan paha pemuda itu.
“ Ahhh… Richard… Tante keluar…” erangnya panjang.
Setelah orgasme reda, Diana berbalik menghadap Richard lagi. Wajahnya merah, mata setengah terpejam karena kenikmatan.
Ia mencium bibir Richard dalam-dalam. “Sayang. Tante masih mau main lama-lama sama kamu…”
Tangan Diana kembali memegang batang Richard yang masih sangat keras dan licin oleh cairannya sendiri.6064Please respect copyright.PENANADkSVUiLK3a
Ia turun lagi ke lantai, membuka mulutnya lebar, dan menelan batang Richard sekali lagi dengan rakus tapi tetap perlahan, siap melanjutkan sesi foreplay yang panjang dan panas.
ns216.73.216.243da2


