Sore itu di rumah sederhana dua lantai di pinggiran Surabaya, udara terasa lebih panas dari biasanya. Diana duduk di ruang tamu, kipas angin berputar pelan di atas kepalanya, tapi keringat masih menetes di antara lekuk payudaranya yang penuh. Usianya baru 35 tahun, tapi tubuhnya seperti wanita yang baru memasuki masa paling matang—pinggul lebar, pinggang ramping, dan payudara berukuran 36D yang selalu membuat baju apa pun terlihat ketat. Rambutnya hitam panjang tergerai sampai punggung, kulitnya kuning langsat, dan matanya yang sipit selalu menyimpan tatapan yang sulit dibaca. Sudah tiga tahun sejak suaminya meninggal karena kecelakaan, meninggalkannya sebagai janda muda yang kaya akan keinginan tapi miskin akan sentuhan.
Diana menghela napas panjang sambil memandang foto keluarga di dinding. Irfan, anak tunggalnya yang berusia 19 tahun, sudah besar sekarang. Mahasiswa semester dua di universitas swasta terdekat, tapi masih suka main game bareng teman-temannya. Hari ini Irfan bilang dia akan bawa teman ke rumah untuk main PS5 sampai malam. “Richard,” kata Irfan tadi pagi. “Dia anaknya baik, Ma. Keren lah.”
Diana tersenyum tipis mengingatnya. Ia berdiri, melirik dirinya di cermin dinding. Hari ini ia memakai tank top hitam ketat tanpa bra—putingnya samar terlihat karena kain tipis—dipadukan dengan celana pendek denim yang hanya menutupi separuh paha. Biasanya ia lebih sopan kalau ada tamu, tapi entah kenapa hari ini ia malas. Mungkin karena sudah terlalu lama sendirian. Tubuhnya terasa panas, bukan hanya karena cuaca.
Pintu depan terbuka. Suara tawa remaja laki-laki terdengar.
“Ma! Kami pulang!” seru Irfan.
Diana berjalan ke pintu dengan langkah ringan, pinggulnya bergoyang alami. Irfan masuk lebih dulu, tas ranselnya dilempar ke sofa. Di belakangnya muncul Richard—tinggi, kurus atletis, kulit sawo matang, rambut pendek rapi, dan senyum yang membuat lesung pipi muncul. Usianya sama dengan Irfan, 19 tahun, tapi tubuhnya sudah terlihat dewasa. Bahu lebar dari main basket, lengan berotot samar di balik kaos polo putih.
“Halo Tante Diana,” sapa Richard sopan, matanya sebentar melirik ke bawah sebelum buru-buru naik lagi ke wajah Diana.
Diana tersenyum manis, lebih lebar dari biasanya. “Richard ya? Sudah lama Tante dengar nama kamu dari Irfan. Masuk dong, jangan berdiri di situ. Mau minum apa? Es teh? Atau es jeruk?”
“Iya Tante, es teh aja,” jawab Richard, suaranya agak parau.
Irfan sudah berlari ke lantai atas. “Ma, kami main di kamar aku ya! Jangan ganggu dulu!”
Diana tertawa kecil. “Iya iya, Mama tahu. Tapi jangan lupa makan malam nanti.”
Ia berbalik ke dapur, sengaja membungkuk sedikit lebih lama saat mengambil gelas dari lemari bawah. Richard masih berdiri di ruang tamu, matanya tak bisa lepas dari bentuk bokong Diana yang bulat dan kencang di balik celana pendek itu. Kain denimnya naik sedikit, memperlihatkan garis paha yang halus dan putih.
Beberapa menit kemudian Diana naik ke lantai dua dengan nampan berisi dua gelas es teh dingin dan sepiring keripik. Pintu kamar Irfan setengah terbuka. Suara ledakan game terdengar keras. Diana mengetuk pelan lalu mendorong pintu.
“Minum dulu, Nak,” katanya lembut.
Irfan tak menoleh, matanya terpaku ke layar. “Taruh aja di meja, Ma.”
Tapi Richard menoleh. Matanya langsung bertemu dengan mata Diana. Diana berdiri di ambang pintu, satu tangan memegang nampan, tubuhnya sedikit condong ke depan sehingga garis leher tank topnya turun, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan lembut. Putingnya yang sudah mengeras karena AC kamar sedikit menonjol di balik kain tipis.
Richard menelan ludah. “Terima kasih Tante…”
Diana tersenyum, meletakkan nampan di meja belajar. Ia sengaja berdiri di samping Richard yang duduk di kursi gaming. Pinggulnya hampir menyentuh bahu pemuda itu. Wangi parfumnya—campuran vanila dan musk—menyebar lembut di udara.
“Kamu main game apa, Richard? Tante lihat sepertinya kalian menikmati,” tanya Diana sambil tangannya menyentuh punggung kursi Richard sekilas, jari telunjuknya menyapu punggung kaos pemuda itu.
Richard merasa kulitnya panas. “Biasa Tante… FIFA, sama Call of Duty. Irfan jago banget nge-cheat.”
Irfan tertawa tanpa menoleh. “Eh jangan ngadu dong!”
Diana tertawa renyah. Tawa itu terdengar seperti undangan. Ia membungkuk sedikit lagi untuk mengambil gelas kosong di meja, sengaja membiarkan payudaranya hampir menyentuh lengan Richard. Kulit halus dan hangat itu menyapu lengan pemuda itu hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat Richard menegang di kursinya.
“Maaf ya apa Tante terganggu?” gumam Richard, suaranya lebih rendah.
“Ganggu? Justru Tante senang ada yang nemenin Irfan. Tante kan sering sendirian di rumah ini.” Diana menegakkan tubuh, tapi tangannya masih bertahan di bahu Richard sebentar, meremas pelan seolah-olah sedang membersihkan debu. “Kamu anaknya baik ya, sopan. Jarang lho anak muda sekarang kayak gini.”
Irfan masih fokus ke game. “Ma, nanti malam kami pesen pizza aja ya? Richard nginep sini.”
Diana mengangkat alis. “Oh? Nginep? Boleh saja. Kamar tamu di bawah kosong kok. Tapi jangan main game sampai pagi, nanti besok kuliahnya telat.”
“Iya Ma,” jawab Irfan asal.
Diana berjalan ke pintu, tapi sebelum keluar ia berhenti dan menoleh ke belakang. “Richard, kalau haus atau lapar bilang Tante ya. Tante ada di bawah. Jangan malu-malu.”
Tatapan mereka bertemu lagi. Kali ini Diana tak buru-buru memutuskan kontak mata. Matanya menyipit nakal, bibirnya melengkung sedikit. Richard merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ada sesuatu di tatapan Tante Diana yang tidak seperti tatapan ibu teman biasanya. Ada lapar di sana. Lapar yang lama tidak terpuaskan.
Sepanjang sore itu Diana tak langsung turun. Ia mondar-mandir di koridor lantai dua, pura-pura merapikan rak buku di depan kamar Irfan. Sesekali ia melirik ke dalam. Richard beberapa kali menoleh, dan setiap kali tatapan mereka bertemu, Diana akan tersenyum dan menggigit bibir bawahnya pelan.
Jam menunjukkan pukul 19.30. Irfan tiba-tiba berdiri. “Aku ke warung dulu beli rokok sama charger HP. Habis tadi lupa. Kamu tunggu sini ya, game-nya pause aja.”
Richard mengangguk. “Oke bro.”
Irfan turun tangga dengan cepat. Suara motornya terdengar meninggalkan halaman.
Kini hanya ada Richard dan Diana di rumah.
Diana yang sedang di dapur mendengar suara motor pergi. Ia tersenyum sendiri. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan takut—malah excited. Sudah tiga tahun tak ada pria yang menyentuhnya. Dan Richard… pemuda itu begitu segar, begitu polos, tapi tubuhnya sudah dewasa. Diana merasa basah di antara pahanya hanya dengan memikirkannya.
Ia naik lagi ke lantai dua, langkahnya pelan dan disengaja. Pintu kamar Irfan masih terbuka. Richard duduk sendirian, memegang controller tapi matanya tak fokus ke layar.
“Richard…” panggil Diana lembut dari ambang pintu.
Pemuda itu menoleh cepat. “Tante? ”
Diana melangkah masuk. Ia menutup pintu di belakangnya, tapi tidak mengunci—belum. “Kamu nggak bosan main game terus? Tante bawa camilan lagi ya.”
Ia mendekat ke meja, meletakkan piring kecil berisi cokelat dan kacang. Kali ini ia berdiri tepat di depan Richard, pinggulnya hampir menyentuh lutut pemuda itu yang duduk. Tank topnya naik sedikit karena gerakan, memperlihatkan perut rata dan garis pinggang yang indah.
Richard menelan ludah. “Tante… nggak usah repot-repot.”
Diana tersenyum. Ia membungkuk perlahan, tangannya bertumpu di meja di samping Richard. Wajahnya sekarang hanya beberapa senti dari wajah pemuda itu. Bau vanila parfumnya semakin kuat. “Repot? Tante senang kok. Kamu tamu di rumah ini. Lagian… Tante suka ada yang nemenin.”
Jari tangan kanannya menyentuh paha Richard pelan, hanya ujung jari, mengusap kain celana jeansnya naik turun. Gerakan itu ringan, tapi penuh arti.
Richard menegang. Napasnya mulai berat. “Tante Diana… ini…”
“Shhh…” Diana meletakkan jari telunjuk di bibir Richard. Bibirnya yang merah dan penuh menyentuh kulit pemuda itu sebentar. “Irfan masih lama. Warungnya agak jauh. Kita… ngobrol aja dulu ya?”
Tangan Diana turun lagi, kali ini meremas paha Richard lebih berani. Otot paha pemuda itu keras di bawah telapak tangannya. Diana bisa merasakan panas tubuh Richard naik.
“Kamu daritadi lihat kemana hayo,” bisik Diana, suaranya rendah dan menggoda. “Tante perhatiin daritadi.”
Richard merasa darahnya berdesir ke bawah. Celananya mulai terasa sempit. “Tante… aku nggak lihat apa-apa…”
Diana tertawa kecil, napasnya menyapu telinga Richard. “Tante lihat cara kamu ngeliatin Tante tadi. Dari pertama masuk… matamu nggak bisa lepas dari sini.” Ia menarik tank topnya sedikit ke bawah dengan tangan kiri, memperlihatkan lebih banyak belahan dada. Putingnya yang pink kecokelatan hampir terlihat.
Richard mengembuskan napas gemetar. Tangan Diana sekarang naik ke dada pemuda itu, merasakan detak jantung yang cepat di balik kaos.
“Jantung kamu cepet banget,” bisik Diana. “Takut? Atau… excited?”
Ia mendekatkan wajahnya lagi. Bibirnya hampir menyentuh bibir Richard. Hanya tinggal satu senti. Napas mereka bercampur. Diana bisa mencium bau mint dari pasta gigi Richard tadi pagi.
Tangan kanannya turun lagi, kali ini menyentuh selangkangan Richard yang sudah mengeras. Telapak tangannya menekan pelan di atas jeans, merasakan kejantanan pemuda itu yang berdenyut.
“Oh…” desah Diana puas. “Sudah sebesar ini ya… Tante suka.”
Richard mengerang pelan, kepalanya mundur sedikit. “Tante… Irfan bisa pulang kapan saja…”
“Tenang saja,” jawab Diana sambil menggosokkan tangannya naik turun perlahan di atas celana. Gerakan itu lambat, penuh tekanan, membuat Richard semakin keras. “Kita cuma… main-main dulu. Belum apa-apa kok.”
Ia menarik resleting celana Richard pelan sekali. Suara resleting itu terdengar sangat keras di telinga mereka berdua. Tangan Diana masuk ke dalam, menyentuh bokser hitam Richard. Jari-jarinya yang halus menyusuri batang kejantanan yang sudah basah di ujungnya.
“Basah sekali…” bisik Diana sambil tersenyum nakal. “Kamu sudah kepengen Tante ya dari tadi?”
Richard hanya bisa mengangguk, napasnya tersengal. Diana menarik bokser ke bawah sedikit, melepaskan kejantanan pemuda itu ke udara bebas. Batangnya panjang, tebal, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap karena precum.
Diana menggigit bibirnya sendiri melihatnya. “Cantik sekali… Tante sudah lama nggak lihat yang segini segar.”
Ia membungkuk lebih rendah, wajahnya tepat di atas kejantanan Richard. Napas hangatnya menyapu kepala batang itu, membuatnya berdenyut lebih kuat. Diana menjulurkan lidahnya perlahan, menjilat ujungnya hanya sekali—ringan, seperti mencicipi.
Richard menggigil. “Tante… ahh…”
Diana tersenyum. “Enak? Ini baru permulaan kok, Sayang.”
Ia menjilat lagi, kali ini lebih lama, lidahnya melingkar di sekitar kepala sambil tangan kirinya memegang batangnya pelan dan memompa naik turun dengan irama yang sangat lambat. Setiap gerakan tangan diiringi jilatan lidah yang basah dan hangat. Diana menikmati setiap detik—rasa asin precum, bau tubuh pemuda yang segar, getaran di tangannya.
Ia menatap ke atas, mata mereka bertemu lagi. “Kamu suka Tante ngeliatin kamu begini? Suka Tante yang janda ini melayani kamu?”
Richard hanya bisa mengerang. “Ya… Tante… suka banget…”
Diana membuka mulutnya lebar, menelan separuh batang Richard ke dalam mulutnya yang hangat dan basah. Ia mengisap pelan, lidahnya bergerak di bawah batang, sambil tangannya terus memompa bagian yang tak masuk. Gerakan kepalanya naik turun sangat perlahan, seperti sedang menikmati es krim mahal. Setiap kali kepala batang menyentuh tenggorokannya, ia mendengus pelan, getaran itu membuat Richard semakin gila.
Suara isapan basah terdengar di kamar yang sunyi. Diana sengaja membuat suara itu—membuatnya semakin erotis. Air liurnya menetes ke pangkal batang Richard, membuat semuanya licin dan mengkilap.
Ia melepaskan sebentar, tali air liur menghubungkan bibirnya dengan kejantanan Richard. “Enak ya? Tante bisa lebih dalam lagi kalau kamu mau…”
Tapi sebelum Richard menjawab, suara motor Irfan terdengar dari bawah.
Diana tersenyum licik. Ia cepat menarik celana Richard ke atas lagi, merapikan semuanya dengan tangan yang masih gemetar karena gairah. Ia berdiri, membersihkan sudut bibirnya dengan jari telunjuk, lalu menjilat jarinya sambil menatap Richard.
“Besok lagi ya, Sayang,” bisiknya cepat. “Irfan pulang. Tapi ingat… ini rahasia kita. Tante tunggu kamu besok sore. Sendirian.”
Ia berbalik, keluar kamar dengan langkah tenang seolah tak terjadi apa-apa. Payudaranya masih naik turun karena napas yang belum stabil.
Richard duduk di kursi, kejantanan masih keras di dalam celana, tubuhnya berkeringat dingin. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap pintu yang tertutup.
Besok.
Besok pasti akan lebih panas.
Dan Diana di bawah sudah tersenyum sendiri sambil menyiapkan makan malam. Tubuhnya basah sekali. Ia tahu, ini baru bab pertama. Masih banyak malam-malam yang akan datang.
Irfan masuk rumah sambil berteriak, “Maaf lama! Game-nya lanjut yuk!”
Diana hanya tersenyum dari dapur. “Makan dulu ya nak… Ibu sudah siapkan yang enak-enak.”
Malam itu baru permulaan godaan yang akan semakin dalam, semakin lambat, dan semakin tak terlupakan.
ns216.73.216.243da2


