Setelah orgasme pertama Diana di pangkuan Richard, ruang tamu terasa lebih panas meski AC menyala pelan. Napas mereka berdua masih tersengal-sengal. Tubuh Diana yang telanjang kecuali celana dalam hitam renda yang sudah basah kuyup masih menempel erat di dada Richard. Cairan orgasmenya yang hangat dan licin membasahi batang kejantanan pemuda itu, membuatnya mengkilap di bawah cahaya lampu temaram.
Diana mencium bibir Richard lagi, kali ini lebih lembut, lidahnya menyusup pelan ke dalam mulut pemuda itu sambil tangannya terus memegang batang yang masih sangat keras. Ia mengusap naik-turun dengan gerakan sangat lambat, merasakan setiap denyut urat-urat yang menonjol.
“Kamu luar biasa tahan lama,” bisik Diana di antara ciuman. Suaranya serak karena gairah. “Kebanyakan cowok seusia kamu langsung meledak kalau Tante main seperti tadi. Tapi kamu… masih keras banget. Tante suka.”
Richard hanya bisa mengerang pelan. Tangan kirinya meremas payudara kanan Diana yang berat, jempolnya memilin puting yang masih basah oleh air liurnya sendiri. “Tante… aku mau… tapi takut terlalu cepat.”
Diana tersenyum nakal. Ia turun dari pangkuan Richard, berdiri di depannya dengan tubuh yang menggoda. Gaun kremnya sudah tergeletak di lantai. Payudaranya yang besar bergoyang pelan setiap ia bergerak. Celana dalam hitam rendanya ia tarik perlahan ke bawah, melepaskannya sama sekali. Vaginanya yang dicukur rapi terlihat jelas—bibir luar yang membengkak, bibir dalam yang merah muda dan mengkilap oleh cairan orgasme tadi. Klitorisnya kecil tapi sudah menonjol karena terangsang berat.
Ia membalikkan tubuh, membungkuk di depan Richard sambil memegang sofa. Bokongnya yang bulat dan kencang terangkat tinggi, memperlihatkan segalanya dari belakang—vagina yang basah menganga sedikit, dan lubang anus yang kecil dan pink.
“Lihat Tante dari belakang,” kata Diana sambil melirik ke belakang. “Mau sentuh?”
Richard bangkit dari sofa, celana pendeknya sudah jatuh ke mata kaki. Ia mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh bokong Diana. Kulitnya halus seperti sutra, hangat, dan sedikit berkeringat. Jari-jarinya meraba garis bokong, lalu turun ke celahnya. Ujung jari telunjuknya menyentuh bibir vagina Diana yang licin.
Diana mendesah panjang. “Masukkan satu jari dulu… pelan-pelan ya.”
Richard menurut. Jarinya masuk perlahan ke dalam vagina yang sangat hangat dan sempit. Dinding dalamnya berdenyut, mencengkeram jari pemuda itu. Ia mendorong lebih dalam sampai pangkal jari, lalu mengeluarkannya perlahan, merasakan tekstur licin dan panas yang luar biasa.
“Tambah satu lagi,” pinta Diana, suaranya mulai gemetar.
Richard memasukkan dua jari. Ia mulai menggerakkan naik-turun dengan irama lambat. Setiap kali jarinya keluar, cairan Diana menetes ke lantai. Suara “schlop… schlop…” basah terdengar jelas. Dengan tangan kirinya, ia meremas bokong Diana, sesekali menepuk pelan hingga bokong itu bergoyang.
Diana mengerang semakin keras. Pinggulnya mulai bergerak mundur, menikmati jari Richard yang semakin cepat.
“Lebih dalam… sentuh titik G Tante… di atas, agak melengkung,” bisiknya.
Richard mencoba. Ia melengkungkan jarinya ke atas, mencari titik yang sedikit kasar. Begitu menemukannya, Diana langsung menjerit pelan, tubuhnya menegang.
“Iya… di situ! Gosok pelan… jangan cepat dulu.”
Richard menggosok titik itu dengan gerakan melingkar yang sangat perlahan. Diana mulai bernapas pendek-pendek. Kakinya gemetar. Ia meraih tangan Richard dari belakang dan menekannya lebih kuat ke dalam vaginanya.
“Tambah satu jari lagi… Tante mau tiga.”
Tiga jari Richard sekarang masuk dan keluar dengan irama yang disengaja lambat. Setiap dorongan membuat vagina Diana mengeluarkan bunyi basah yang erotis. Ia merasakan dinding dalam yang semakin licin dan panas. Klitorisnya yang menonjol ia gosok dengan ibu jari tangan yang sama, membuat Diana hampir pingsan karena kenikmatan.
Setelah hampir 20 menit finger-fucking yang perlahan dan mendalam, Diana mencapai orgasme kedua. Tubuhnya bergetar hebat, vagina mencengkeram jari Richard kuat-kuat, cairan squirt kecil menyembur keluar membasahi tangan dan paha pemuda itu.
“Ahhhhh… Richard… Tante keluar lagi… enak sekali…” erang Diana panjang, suaranya pecah.
Ia berbalik, wajahnya merah padam, mata setengah terpejam. Ia mendorong Richard kembali duduk di sofa, lalu naik ke pangkuannya lagi menghadapnya. Vaginanya yang masih berdenyut diletakkan tepat di atas batang Richard. Ia memegang batang itu dengan tangan, menggesekkannya lagi di celah vaginanya yang basah sekali.
Kali ini gesekannya lebih intens. Kepala batang Richard sering kali hampir masuk ke lubang vagina, tapi Diana selalu menarik pinggulnya mundur tepat pada waktunya, hanya membiarkan ujungnya menyentuh pintu masuk.
“Belum boleh masuk sepenuhnya ya,” bisik Diana sambil mencium leher Richard. “Tante mau bikin kamu ketagihan dulu. Besok… kalau rumah kosong seharian, baru Tante kasih semuanya.”
Ia terus menggesek, pinggulnya berputar pelan, naik turun, membuat kepala batang Richard bergesekan dengan klitoris dan bibir vaginanya secara bergantian. Tangan Richard meremas kedua payudara Diana, mulutnya bergantian mengisap puting kiri dan kanan dengan rakus.
Mereka berciuman dalam, lidah saling menari liar. Air liur menetes di dagu mereka berdua.
Diana mempercepat gerakan pinggulnya sedikit. Batang Richard yang licin oleh cairan vaginanya bergesek semakin panas. Ia merasakan denyut batang itu semakin kuat.
“Kamu mau keluar ya?” tanya Diana sambil tersenyum.
Richard mengangguk cepat, wajahnya tegang menahan kenikmatan.
Diana turun dari pangkuan, berlutut lagi di antara kaki Richard. Ia memegang batang dengan kedua tangan, memompa cepat sambil mulutnya menelan kepala batang dalam-dalam. Lidahnya berputar liar di ujung.
“Keluar di mulut Tante ya… Tante mau rasain semuanya,” katanya cepat sebelum kembali mengisap.
Richard tak tahan lagi. Tubuhnya menegang. Dengan erangan panjang ia meledak di dalam mulut Diana. Semprotan demi semprotan cairan panas dan kental memenuhi mulut janda itu. Diana menelan sebagian besarnya dengan rakus, tapi sebagian kecil menetes di dagunya dan payudaranya yang besar.
Ia terus mengisap pelan sampai denyut terakhir habis, membersihkan setiap tetes dengan lidahnya yang lembut.
Setelah selesai, Diana naik lagi ke pangkuan Richard, memeluknya erat. Payudaranya menempel di dada pemuda itu. Mereka berciuman lagi, kali ini lembut dan penuh kasih sayang yang aneh.
“Enak?” tanya Diana sambil mengusap rambut Richard.
“Enak banget Tante… aku nggak pernah ngerasain yang kayak gini.”
Diana tersenyum. “Ini masih jauh dari akhir, Sayang. Besok Irfan pergi pagi-pagi banget ke acara saudara di Malang. Pulangnya besok malam. Rumah cuma kita berdua dari pagi sampai malam.”
Ia menggigit telinga Richard pelan.
“Besok Tante mau kamu masukin Tante pelan-pelan… dari depan, dari belakang, di sofa, di kamar, di dapur… Tante mau ajarin kamu semua cara bikin perempuan puas. Kamu siap?”
Richard mengangguk, matanya penuh api. “Siap Tante.”
Diana mencium bibirnya sekali lagi.
“Bagus. Sekarang rapikan baju kamu. Irfan sebentar lagi pulang. Besok pagi… datanglah jam 8. Tante mau nyambut kamu dengan pakaian yang lebih seksi.”
Ia bangkit, mengambil gaunnya dan memakainya lagi. Sebelum pergi ke kamar mandi membersihkan diri, ia menoleh ke belakang dan berkata dengan senyum menggoda:
“Jangan onani malam ini ya. Simpan tenaga sebanyak-banyaknya untuk Tante besok. Tante janji… besok akan jadi hari paling panas dalam hidup kamu.”
Richard duduk di sofa, tubuhnya lemas karena kenikmatan yang luar biasa, tapi pikirannya sudah melayang ke besok.
Malam itu ia pulang dengan Irfan setelah makan malam bersama. Sepanjang jalan, ia hanya bisa diam sambil tersenyum sendiri.
Sementara Diana di kamar mandi, sambil mandi air hangat, tangannya menyentuh vaginanya yang masih sensitif. Ia tersenyum puas.
“Besok… baru benar-benar dimulai.”
List Cerita Dari Shalltear5242Please respect copyright.PENANAn4AVRDeDGv
docs.google.com/spreadsheets/d/1Y9KMFZBWbZEZ3EsMZ0cq_RS03eTHZrjjz5hWzH16C2c/edit?usp=sharing
pdf lynk.id/bande41
ns216.73.216.243da2


