Aku ingat hari itu dengan jelas, seperti mimpi buruk yang baru saja dimulai. Biasanya, aku pulang dari kampus sekitar jam 6 sore, setelah kuliah pagi dan nongkrong sebentar di kantin dengan Reza dan kawan-kawan. Tapi hari itu, Senin siang, dosen mendadak absen karena sakit, jadi kelas dibatalkan. Aku memutuskan pulang lebih awal, mungkin bisa istirahat atau main game di kamar. Rumah terasa sepi saat aku masuk gerbang, mobil ayah sudah pasti di kantor, dan mobil ibu parkir di garasi—berarti dia di rumah. Aku parkir motor di samping, masuk lewat pintu belakang agar tidak ribut, dan langsung menuju dapur untuk ambil minum.
86Please respect copyright.PENANAolqfIK3s78
Suara itu terdengar samar-samar dari ruang keluarga. Awalnya, aku pikir ibu lagi nonton TV atau dengerin lagu, tapi saat aku mendekat, aku sadar itu suara ibu sedang bicara di telepon. Nada suaranya... aneh. Bukan nada biasa seperti saat bicara dengan ayah atau teman arisannya. Ini lebih mesra, lebih genit, seperti gadis remaja yang lagi jatuh cinta. Aku berhenti di balik pintu dapur, jantungku mulai berdegup lebih cepat. Adrenalin mulai mengalir, campur antara penasaran dan takut. Kenapa aku harus sembunyi? Ini rumahku sendiri. Tapi instingku bilang, ada yang salah.
86Please respect copyright.PENANASVOoM3iBab
"Haha, kamu nakal banget sih, Rio... Jangan gitu ah, nanti aku malah pengen ketemu sekarang juga," kata ibu dengan tawa pelan yang manja. Rio? Itu nama teman kuliah ibu dulu, yang sekarang jadi personal trainer di gym langganan ibu. Aku pernah ketemu dia sekali, pria tinggi berotot, usia sekitar 35-an, selalu ramah tapi matanya seperti sedang mengukur orang. Kenapa ibu bicara seperti itu dengannya? Aku mendekat lebih pelan, mengintip dari celah pintu. Ibu duduk di sofa, memakai tank top olahraga ketat dan celana pendek yang memamerkan kakinya yang panjang dan atletis—mungkin baru pulang dari zumba. Rambutnya dikuncir ponytail, wajahnya tanpa makeup tapi tetap glowing.
86Please respect copyright.PENANAUfsKN6amCK
"Iya, sayang... Aku juga kangen. Kemarin di gym kan cuma sebentar, kamu langsung pergi meeting. Malam ini? Hmm, bisa nih. Budi lagi lembur, Aldi juga pulang malam. Kita ketemu di tempat biasa ya?" lanjut ibu, suaranya semakin rendah, seperti bisik mesra. Jantungku berhenti sejenak. Budi—itu ayahku. Dan "sayang"? Ibu panggil Rio "sayang"? Ini pasti salah paham. Mungkin cuma bercanda, atau mungkin Rio lagi curhat soal pacarnya. Tapi nada itu... terlalu intim. Aku merasa mual, campur marah dan bingung. Ayah bekerja keras untuk kami, dan ibu? Apa ini artinya?
86Please respect copyright.PENANAcFo8jfGCY8
Aku mundur pelan, takut ibu dengar langkahku. Pikiranku berputar-putar. Apakah ibu selingkuh? Tidak mungkin. Ibu selalu bilang ayah adalah satu-satunya pria dalam hidupnya. Tapi ingat-ingat, akhir-akhir ini ibu sering sekali keluar malam. Clubbing katanya, tapi pulang dengan bau parfum pria yang bukan punya ayah. Aku pernah cium saat peluk ibu pagi harinya. Dan ayah? Dia sepertinya tidak curiga, atau mungkin terlalu sibuk. Ejakulasi dini ayah yang aku tahu dari obrolan dokter itu membuatku berpikir: apakah ibu tidak puas? Apakah hypersex seperti gosip yang pernah kudengar dari teman arisan ibu? Tidak, itu pasti omong kosong.
86Please respect copyright.PENANAASGcpvs5sy
Aku naik ke kamar diam-diam, tutup pintu pelan, dan rebahan di kasur. Tapi tidur? Mustahil. Gejolak batin mulai menggerogoti. Aku merasa seperti pengkhianat karena curiga pada ibu sendiri, tapi juga marah karena kalau benar, ini bisa hancurkan keluarga kami. Persahabatan ibu dengan Rio—apa cuma teman biasa? Rio sering jemput ibu ke gym, katanya bantu latihan. Tapi sekarang, setelah dengar telepon itu, semuanya terasa mencurigakan. Aku ingat Reza, senior kampusku, pernah bercanda soal ibu-ibu sosialita yang punya "hobi rahasia". Apa Reza tahu sesuatu? Dia kan anak orang kaya, sering ke klub yang sama dengan ibu.
86Please respect copyright.PENANAB4B7qg78kX
Malam itu, saat makan malam, ibu tampak biasa saja. "Di, kamu pulang cepat ya hari ini? Kuliahnya gimana?" tanyanya sambil sajikan makanan. Aku senyum paksa, "Iya Bu, dosen sakit. Biasa aja." Ayah pulang larut, seperti biasa, dan ibu bilang mau ke arisan sebentar. Tapi aku tahu, dari telepon tadi, itu bukan arisan. Adrenalin naik lagi saat lihat ibu berpakaian: dress hitam pendek yang ketat, high heels merah, dan lipstick bold. "Jangan lama-lama ya Bu," kataku, pura-pura khawatir. Ibu cium keningku, "Tenang, Di. Ibu pulang sebelum tengah malam."
86Please respect copyright.PENANAJIKCuIKe2d
Setelah ibu pergi, aku duduk di ruang tamu sendirian, pikiran melayang. Ini baru awal. Aku harus cari tahu lebih lanjut, mungkin ikuti ibu suatu saat. Tapi apa aku siap dengan apa yang akan kutemukan? Nafsu penasaran ini seperti api yang mulai membakar, campur takut dan excitement yang aneh. Keluarga kami yang mampu ini, dengan semua kemewahan, ternyata punya retak yang tak terlihat. Dan aku, sebagai anak tunggal, merasa tanggung jawab untuk lindungi ayah. Tapi bagaimana caranya, kalau rahasia ini benar-benar gelap?
ns216.73.216.75da2


