Setelah mendengar telepon mesra ibu dengan Rio kemarin, aku tidak bisa tidur nyenyak. Pikiranku berputar-putar seperti roda gila, penuh dengan skenario terburuk. Apakah ibu benar-benar selingkuh? Atau cuma bercanda mesra seperti teman lama? Aku tahu Rio dari cerita ibu: mereka satu angkatan kuliah dulu, Rio yang dulunya kutu buku sekarang jadi trainer gym berotot, sering bantu ibu latihan. Tapi "sayang" dan janji ketemu malam itu? Itu bukan bahasa teman biasa. Ayah pulang larut malam itu, tampak lelah seperti biasa, dan ibu bertingkah normal saat sarapan pagi. "Malam ini ibu ada clubbing sama teman-teman arisan, Di. Kamu di rumah aja ya?" katanya sambil tuang kopi untukku. Aku mengangguk, tapi dalam hati, aku sudah putuskan: aku akan ikuti ibu malam ini. Adrenalin mulai mengalir hanya dengan memikirkannya—seperti detektif amatir dalam film thriller.
207Please respect copyright.PENANAv4qP1iEhm7
Aku pura-pura sibuk dengan tugas kuliah seharian, tapi sebenarnya merencanakan segalanya. Aku pinjam motor teman kampusku, Reza, yang kebetulan lagi parkir di kosannya. Reza, senior playboy yang selalu punya cerita liar tentang cewek-cewek, tertawa saat aku bilang mau "jalan-jalan malam". "Hati-hati bro, jangan sampe ketahuan nyusup ke klub dewasa," candanya, tanpa tahu betapa dekatnya itu dengan rencanaku. Persahabatan kami lumayan dekat akhir-akhir ini; dia sering ajak aku ke party kampus, dan aku mulai curiga dia tahu lebih banyak tentang dunia malam Jakarta daripada yang dia ceritakan. Tapi aku tidak bilang apa-apa soal ibu—ini rahasia keluargaku.
207Please respect copyright.PENANAGAsMfH2IRd
Malam tiba, sekitar jam 9. Ibu keluar rumah dengan penampilan yang bikin aku geleng-geleng kepala diam-diam. Dress merah ketat yang memeluk tubuh atletisnya, menonjolkan lekuk pinggang dan pinggul dari hasil zumba rutinnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, makeup smoky eyes yang membuat matanya tampak menggoda, dan high heels yang membuat langkahnya seperti model catwalk. "Jangan tunggu ibu ya, Di. Mungkin pulang agak larut," katanya sambil peluk aku sekilas. Bau parfumnya manis dan memabukkan, campur aroma body lotion yang selalu dia pakai setelah gym. Aku senyum paksa, "Have fun, Bu." Begitu mobil ibu keluar gerbang, aku tunggu 5 menit, lalu ikuti dengan motor Reza dari jarak aman. Jantungku berdegup kencang, tangan dingin di stang motor. Ini gila—mengikuti ibu sendiri seperti stalker. Tapi kecurigaan dari telepon kemarin terlalu kuat untuk diabaikan.
207Please respect copyright.PENANAJHE2UidMC5
Perjalanan ke pusat kota memakan waktu 30 menit. Ibu menuju ke salah satu klub malam elit di SCBD, yang namanya aku tahu dari cerita Reza: "The Vault", tempat untuk orang-orang kaya dan sosialita. Aku parkir motor di gang sebelah, pakai hoodie gelap untuk sembunyi, dan bayar bouncer dengan uang saku lebih untuk masuk—pura-pura jadi tamu biasa. Di dalam, musik EDM menggelegar, lampu neon berkedip-kedip, dan aroma campur alkohol, parfum, dan keringat manusia. Aku cari tempat sembunyi di pojok bar, pesan soda agar tidak mencolok, dan mulai scan ruangan. Adrenalin memuncak; tanganku gemetar pegang gelas. Apa aku akan lihat sesuatu yang menghancurkan?
207Please respect copyright.PENANAdHc61w1KHc
Akhirnya, aku lihat ibu di dance floor. Dia bersama tiga teman arisannya—ibu-ibu cantik seusianya, semua berpakaian seksi, tertawa dan minum cocktail. Tapi yang bikin aku terpana adalah cara ibu menari. Gerakannya erotis, pinggul bergoyang mengikuti beat, tangan di atas kepala, tubuh melenggok seperti ular yang sedang menggoda. Rambutnya beterbangan, senyumnya lebar, mata berbinar di bawah cahaya strobo. Dia seperti bukan ibu rumah tangga biasa—lebih seperti bintang klub yang haus perhatian. Teman-temannya ikut menari, tapi ibu yang paling menonjol, seperti magnet bagi pria-pria di sekitar.
207Please respect copyright.PENANAtpli4VyHHP
Lalu, pria asing itu muncul. Tinggi, berpakaian rapi dengan kemeja hitam terbuka sedikit di dada, mungkin ekspat atau pebisnis kaya. Dia mendekat dari belakang, tangan menyentuh pinggang ibu dengan percaya diri. Ibu tidak menolak—malah balik badan, tersenyum genit, dan mulai menari lebih dekat dengannya. Tubuh mereka hampir menempel, pinggul ibu bergoyang ke arahnya, tangan pria itu melingkar di pinggang ibu sambil berbisik sesuatu di telinganya. Ibu tertawa, kepala miring, dan mereka menari semakin intim: grinding ringan, tangan ibu di bahu pria itu, mata mereka saling tatap seperti ada chemistry instan. Aku merasa nafas tersendat. Ini bukan dancing biasa—ini flirting berat, penuh nafsu yang tersirat. Pria itu bukan Rio, bukan Reza, bukan siapa-siapa yang aku kenal. Hanya pria asing yang entah dari mana.
207Please respect copyright.PENANAiLUUwzr0hV
Gejolak batin aku campur aduk. Marah karena ibu tampak menikmati perhatian pria lain, sedangkan ayah di rumah mungkin lagi lembur sendirian. Kasihan ayah, dengan masalah ejakulasi dini dan ukuran kecilnya yang membuat hubungan mereka mungkin tidak memuaskan—aku ingat lagi obrolan dokter itu. Tapi ada juga adrenalin aneh, seperti excitement terlarang melihat sisi liar ibu yang selama ini tersembunyi. Nafsu? Bukan ke ibu, tentu saja—itu menjijikkan. Tapi melihat wanita secantik ibu bergerak seperti itu, membuatku teringat pacar-pacar di kampus, atau bahkan cewek-cewek di klub ini. Aku merasa seperti voyeur, dan itu bikin aku ketagihan.
207Please respect copyright.PENANAt6WCUhjYiD
Aku tahan diri untuk tidak mendekat, takut ketahuan. Setelah sekitar 30 menit, ibu dan pria itu pindah ke area VIP, minum bersama teman-temannya. Aku tidak bisa ikuti lebih jauh tanpa risiko, jadi aku keluar klub dengan kepala pusing. Di motor pulang, angin malam tidak bisa dinginkan panas di dada aku. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ibu pulang dengan pria itu? Kecurigaan semakin dalam, dan aku tahu, ini baru permulaan. Besok, aku harus cari tahu lebih banyak—mungkin tanya Reza soal klub itu, atau bahkan ikuti ibu lagi. Tapi hati-hati, karena kalau ketahuan, semuanya bisa hancur.
ns216.73.216.75da2


