Aku Aldi, usia 21 tahun, mahasiswa semester 5 di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Hidupku terasa seperti mimpi bagi kebanyakan orang. Kami tinggal di rumah mewah di kawasan elit Pondok Indah, lengkap dengan kolam renang pribadi dan garasi yang muat empat mobil mewah. Ayahku, Pak Budi, adalah manager senior di perusahaan multinasional, sering bepergian ke luar negeri untuk meeting bisnis. Dia pria yang baik hati, selalu memastikan aku dan ibu tidak kekurangan apa-apa. Tapi, dia jarang di rumah, sering pulang larut malam atau bahkan menginap di hotel dekat kantor karena lembur.
83Please respect copyright.PENANASHYn2ACchF
Ibuku, Risna, berusia 38 tahun tapi tampak seperti wanita 20-an akhir. Dia mantan model majalah di masa mudanya, sebelum menikah dengan ayah. Tubuhnya atletis, ramping tapi berisi di bagian yang tepat—hasil dari rutinitas gym dan zumba yang dia lakukan hampir setiap hari. Rambutnya panjang hitam bergelombang, kulitnya putih mulus, dan senyumnya selalu memikat siapa saja yang melihat. Ibu rumah tangga full-time, tapi dia tidak seperti ibu-ibu biasa yang hanya sibuk di dapur. Ibu sangat aktif: pagi hari ke gym, siang ikut zumba di studio eksklusif, sore arisan dengan teman-teman sosialitanya, dan malam sering clubbing di klub malam mewah bersama gengnya. "Hidup harus dinikmati, Di," katanya selalu sambil tertawa ringan saat aku tanya kenapa dia jarang di rumah.
83Please respect copyright.PENANAhk7COGjuXc
Keluarga kami tampak sempurna dari luar. Ayah sukses, ibu cantik dan energik, aku anak tunggal yang pintar dan punya banyak teman di kampus. Kami sering liburan bersama ke Bali atau Singapura, foto-foto keluarga bahagia di Instagram ibu yang follower-nya ribuan. Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Ibu sering pulang larut malam dari clubbing-nya, wajahnya merah dan mata berbinar seperti baru saja menang lotre. Ayah? Dia sepertinya tidak peduli, atau mungkin terlalu lelah untuk bertanya. Aku sendiri sibuk dengan kuliah, tugas, dan nongkrong bareng teman-teman seperti Reza, senior kampus yang playboy tapi asyik diajak curhat.
83Please respect copyright.PENANAU7X5JJrSc9
Suatu malam, saat aku belajar di kamar, aku dengar ayah dan ibu berbicara di ruang tamu. Suara ayah lelah, "Ris, kamu sering keluar malam ya akhir-akhir ini. Capek nggak?" Ibu tertawa pelan, "Ah, Budi, kamu tahu kan aku butuh hiburan. Kamu sendiri jarang di rumah." Ayah diam saja, mungkin mengangguk. Aku tidak terlalu ambil pusing saat itu. Tapi, itu jadi awal dari kecurigaanku yang lambat laun tumbuh. Siapa tahu, di balik kehidupan glamor ini, ada rahasia yang bisa mengguncang semuanya.
83Please respect copyright.PENANA5E7m9Pz6AS
Aku ingat saat kecil, ibu selalu bilang aku adalah "harta karunnya yang paling berharga." Tapi sekarang, sebagai orang dewasa, aku mulai melihat sisi lain dari ibu. Dia punya banyak teman pria—dari teman kuliah dulu seperti Rio yang sekarang jadi trainer gym, sampai senior-senior di arisannya. Mereka sering jemput ibu untuk acara-acara, dan ibu selalu pulang dengan cerita seru. Aku tidak curiga apa-apa dulu, tapi hati kecilku mulai bertanya-tanya: apakah ayah benar-benar memuaskan ibu? Ayah memang pria yang setia, tapi dia bukan tipe romantis atau energik. Ejakulasi dini dan ukuran yang kecil—aku tahu dari obrolan ayah dengan dokter keluarga yang tak sengaja kudengar tahun lalu. Itu membuatku kasihan pada ayah, tapi juga penasaran dengan ibu yang selalu tampak haus akan petualangan.
83Please respect copyright.PENANAgAGHgpflDj
Hidup kami nyaman secara finansial. Ayah dapat gaji besar, bonus tahunan, dan saham perusahaan. Ibu punya kartu kredit unlimited, belanja branded sepuasnya. Aku dapat mobil sport sebagai hadiah ulang tahun ke-20. Tapi, di balik itu, ada gejolak batin yang mulai muncul. Aku mulai merasa seperti orang luar di keluargaku sendiri, terutama saat melihat ibu berpakaian seksi untuk clubbing: dress ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya, high heels, dan makeup bold. "Jangan pulang terlalu malam, Bu," kataku suatu kali. Ibu cuma cium pipiku dan bilang, "Jangan khawatir, Di. Ibu bisa jaga diri."
83Please respect copyright.PENANAlTmxiS9YOP
Malam itu, aku tidur dengan pikiran melayang. Besok pagi, ibu sudah siap ke gym lagi, sambil nyanyi-nyanyi kecil. Aku tersenyum, tapi dalam hati, ada benih kecurigaan yang mulai bertunas. Siapa sangka, itu akan membawa aku ke dunia yang penuh nafsu, adrenalin, dan rahasia gelap yang tak pernah kubayangkan.
ns216.73.216.75da2


