Mobil Alphard hitam meluncur pelan memasuki area parkir basement Hotel Aston. Lampu neon kuning pucat menerangi wajah Irna yang duduk di kursi belakang, masih mengenakan kebaya hijau brokat yang sama sejak pagi. Kain itu sudah sedikit kusut di bagian pinggang karena duduk lama, tapi justru membuat lekuk tubuhnya terlihat lebih alami, lebih menggoda. Payudara bulatnya naik turun pelan mengikuti napas yang mulai tidak teratur. Di antara pahanya, memek tembemnya terasa semakin basah, celana dalam sutra hitam yang ia pakai sudah lembab sejak rapat selesai. Asep mengemudikan mobil dengan tangan kiri di setir dan tangan kanan sesekali mengusap paha sendiri, sementara Anto di kursi depan menoleh ke belakang setiap beberapa detik, matanya langsung tertuju ke dada Irna yang bergoyang lembut setiap mobil berhenti di lampu merah.
33Please respect copyright.PENANA6LHCY3eu4C
Sampai di lobi bawah tanah, Asep mematikan mesin. Anto keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Irna. Wanita itu turun dengan gerakan anggun, high heels hitamnya menyentuh lantai beton dengan bunyi klik yang bergema di ruang parkir yang sepi. Udara dingin basement menyentuh kulit lehernya yang terbuka, membuat puting kecil di balik bra mengeras lagi, menonjol samar-samar di kebaya.
33Please respect copyright.PENANAqrPqCdYlPt
Terima kasih Pak Asep, Pak Anto. Kalian istirahat dulu ya. Besok pagi jam lima kita check out dan langsung pulang, ucap Irna dengan suara yang berusaha tenang, tapi ada getar kecil di ujung kalimatnya.
33Please respect copyright.PENANAB4q0KD19GA
Baik, Bu. Kalau butuh apa-apa telepon saja ya, Bu. Kami di kamar 412 dan 413, lantai empat, jawab Asep sambil tersenyum, matanya turun ke payudara bulat itu untuk sesaat sebelum naik lagi.
33Please respect copyright.PENANAaqCTEx7VFH
Irna mengangguk, berjalan menuju lift sendirian. Punggungnya yang ramping, pinggul yang bergoyang lembut, dan jilbab hijau yang masih rapi membuat kedua supir itu berdiri diam beberapa detik, menatap sampai pintu lift tertutup.
33Please respect copyright.PENANA1dzHAT2lGZ
Di lantai enam, Irna membuka pintu kamar suite-nya dengan kartu akses. Ruangan luas itu langsung menyambut dengan aroma lavender dari diffuser di meja samping tempat tidur king size. Lampu tidur kuning lembut menyala otomatis. Ia menutup pintu, mengunci dari dalam, lalu bersandar di pintu sejenak. Napasnya terengah-engah pelan. Bayangan tatapan para pejabat tadi siang kembali muncul di kepalanya, mata-mata lapar yang seolah menelanjanginya, membayangkan meremas payudara bulatnya, mencubit puting merah kecilnya, menjilati clitoris sampai ia menggelinjang. Memek tembemnya berdenyut kuat, cairan hangat mulai mengalir lebih banyak, membasahi celana dalam hingga terasa lengket di lipatan pahanya.
33Please respect copyright.PENANA37KuLnScZm
Ia berjalan ke cermin besar di dinding kamar, berdiri tepat di depannya. Cahaya lampu menerangi tubuhnya dari depan. Kebaya hijau itu menempel ketat, memperlihatkan garis bra dan lekuk payudara yang penuh. Ia mengangkat tangan kanan, menyentuh payudara kirinya pelan, meremas lembut melalui kain brokat. Sensasi itu langsung membuat putingnya semakin keras, menonjol jelas seperti dua titik kecil yang menggoda. Tangan kirinya turun ke bawah, menggesek memek tembemnya dari luar rok kebaya. Gerakan itu lambat tapi penuh tekanan, jari tengahnya menekan tepat di bagian clitoris yang sudah bengkak.
33Please respect copyright.PENANAA4lb5QWNLb
Ahhh... kenapa aku begini... mereka semua memandangku tadi... seperti ingin mengentot aku di atas meja rapat... ahhh...
33Please respect copyright.PENANAMbCkYza9RL
Ia menggigit bibir bawah, mata setengah terpejam memandang bayangannya sendiri. Tangan kanannya semakin berani, meremas payudara lebih kuat, jempol dan telunjuk mencubit puting merah kecil melalui kain dan bra. Sensasi nyeri nikmat itu membuat punggungnya melengkung, pinggulnya maju maju sendiri seolah mencari sesuatu untuk digesek. Tangan kirinya kini menyusup ke dalam rok kebaya, menyentuh celana dalam yang sudah basah kuyup. Jari tengahnya menggesek clitoris dari luar kain tipis itu, gerakan melingkar lambat tapi semakin cepat.
33Please respect copyright.PENANAVrJfKAOMf5
Ssshhh... ahhh... memekku basah sekali... aku ingin... aku ingin dipuaskan... ahhh... toketku panas... putingku keras sekali...
33Please respect copyright.PENANAFS05u23rxs
Ia tidak tahan lagi. Nafsu yang terpendam seharian, ditambah tatapan Asep dan Anto sepanjang perjalanan, membuat pikirannya melayang ke ide yang selama ini ia tolak tapi malam ini terasa sangat menggoda. Kedua supir itu, pria-pria berusia matang, badan tegap, pasti punya kontol besar dan kuat. Ia membayangkan mereka berdua di kamar ini, merobek kebayanya, menjilati kemaluannya, mengentot memek tembemnya bergantian sampai ia menjerit dan mengeluarkan cairan berulang kali.
33Please respect copyright.PENANArCDRxgt4sV
Dengan tangan gemetar, Irna mengambil ponsel dari tas kerjanya yang tergeletak di sofa. Ia menekan nomor Asep, napasnya masih tersengal.
33Please respect copyright.PENANAe4TJxrxPIt
Halo, Bu Irna? Ada apa, Bu? tanya Asep di ujung sana, suaranya langsung berubah tegang karena jarang sekali Bu Irna menelepon malam-malam.
33Please respect copyright.PENANAesLpahuGGK
Pak Asep... dan Pak Anto... tolong datang ke kamar saya sekarang. Kamar 612. Ada yang perlu saya bicarakan... penting... dan... jangan bilang siapa-siapa, ucap Irna dengan suara pelan tapi bergetar penuh nafsu.
33Please respect copyright.PENANAvavTOJv8Wy
Baik, Bu. Kami langsung naik. Tunggu sebentar ya, Bu, jawab Asep cepat, suaranya sudah penuh antisipasi. Ia langsung menoleh ke Anto yang sedang berbaring di ranjang sebelah, mata mereka bertemu dan langsung mengerti.
33Please respect copyright.PENANAdRvj14fahc
Irna mematikan telepon, meletakkan ponsel di meja. Ia berdiri lagi di depan cermin, merapikan jilbab hijau yang sedikit miring karena gerakan tadi. Payudaranya masih naik turun cepat, puting merah kecilnya menonjol jelas di balik kebaya. Memek tembemnya berdenyut-denyut, menunggu sentuhan yang segera datang. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai istri dan walikota, ia tidak ingin menahannya lagi.
33Please respect copyright.PENANAvjN8mYftj0
Di koridor lantai empat, Asep dan Anto berjalan cepat menuju lift. Kontol mereka sudah setengah tegang hanya karena mendengar suara Irna yang bergetar tadi. Mereka saling pandang, senyum kecil penuh arti muncul di bibir mereka.
33Please respect copyright.PENANADxS6lQekPM
Ini beneran, Pak? tanya Anto pelan.
33Please respect copyright.PENANA7rYR7zh2Eu
Kayaknya iya. Bu Irna lagi panas... kita yang bakal puasin dia malam ini, jawab Asep sambil menekan tombol lift ke lantai enam.
33Please respect copyright.PENANAKb44wQy8FS
Lift naik pelan, membawa mereka ke arah kamar 612, tempat Irna sudah menunggu dengan tubuh yang membara dan pikiran yang penuh nafsu terlarang.
ns216.73.216.75da2


