Beberapa hari berlalu sejak chat nakal itu. Gue sengaja gak langsung nyerang lagi, biar Lia punya waktu mikir sendiri. Di kantor gue sibuk, tapi tiap malam pulang, gue perhatiin dia lebih detail. Lia keliatan biasa aja di depan gue, senyum-senyum, masak makan malam, cerita soal customer di butiknya. Tapi gue tau ada yang beda. Matanya kadang melamun, atau pas kami lagi duduk bareng di sofa, dia pegang hape agak lama, kayak lagi baca sesuatu. Gue yakin dia baca ulang artikel yang gue kirim, atau mungkin dia sendiri googling soal hotwife. Gue gak tanya langsung, takut dia defensif. Gue pengen dia datang sendiri ke gue kalau udah penasaran.
166Please respect copyright.PENANAY1yYUQ7QsS
Hari Rabu malam itu, hujan deras di luar apartemen. Jakarta lagi musim hujan, petir sesekali gemuruh, bikin suasana romantis. Kami baru selesai makan malam, ayam goreng mentega buatan Lia yang enak banget. Gue bantu cuci piring, lalu kami pindah ke kamar. Lia mandi duluan, gue duduk di kasur buka hape, scroll forum dewasa lagi. Gue udah bikin akun anonim, baca cerita-cerita orang yang sukses bikin istrinya jadi hotwife. Ada yang bilang butuh waktu berbulan-bulan, ada yang cepet. Gue mikir, gue harus sabar.
166Please respect copyright.PENANAudwXfPKjOQ
Lia keluar dari kamar mandi pakai handuk pendek, rambutnya basah menempel di bahu. Kulitnya keliatan lebih glowing karena uap panas mandi. "Mas, mandi yuk. Bau keringet nih," godanya sambil lempar handuk kecil ke gue. Gue senyum, tarik dia ke pangkuan gue. "Bentar lagi, pengen peluk dulu." Gue cium lehernya yang wangi sabun mandi, tangan gue langsung naik ke bawah handuk, remas bokongnya yang bulat. "Ahh... Mas, langsung aja nih," Lia ketawa kecil, tapi badannya udah merapat ke gue.
166Please respect copyright.PENANAq5xDbf851a
Gue lepas handuknya, liat tubuh telanjangnya yang sempurna. Toketnya masih kencang, pinggang ramping, memeknya yang selalu gue cukur rapi biar mulus. Gue dorong dia ke kasur, naik ke atasnya. Kami ciuman panas, lidah saling kejar, napas kami mulai cepat. Gue turun ke toketnya, hisap puting kiri sambil cubit puting kanan pelan. "Ohh... Mas... enak... hisap lebih kuat," desah Lia, tangannya narik rambut gue. Gue jilat muter-muter di putingnya, bikin dia mendesah lebih keras.
166Please respect copyright.PENANAoe41Z228JO
Tangan gue turun ke selangkangannya, jari gue gesek klitorisnya yang udah mulai basah. "Memek Lia udah banjir nih, Sayang," gue bisik. Lia malu-malu, "Karena Mas yang godain terus." Gue masukin satu jari, keluar masuk pelan, rasain dinding memeknya yang hangat ngejepit. "Ahh... Mas... tambah jari lagi... yaahh..." Gue tambah dua jari, goyang lebih cepat, sambil lidah gue masih main di toketnya.
166Please respect copyright.PENANAMC9rBbDJFS
Lia mulai goyang pinggulnya, ikut ritme jari gue. "Mas... aku pengen kontol Mas sekarang..." Gue lepas celana pendek gue, kontol gue udah ngaceng keras, urat-uratnya keliatan. Gue gosok-gosok kepala kontol gue di bibir memeknya, basahin dulu. "Mau dimasukin ya?" Lia angguk cepet, matanya sayu, "Iya Mas... masukin pelan-pelan... kontol Mas gede banget."
166Please respect copyright.PENANAeXAwOmbwL4
Gue dorong pelan, masuk setengah dulu, nikmatin sensasi ketatnya memek Lia. "Uhh... ketat amat memekmu, Sayang." Gue dorong lagi sampe habis, lalu mulai pompa pelan. Posisi misionaris, mata kami saling tatap. Gue mulai lagi, seperti malam pertama fantasi itu. "Sayang, coba bayangin lagi ya. Bayangin ini bukan kontol Mas, tapi kontol cowok gym ganteng. Badannya six pack, ototnya keras, kontolnya lebih panjang dan tebal dari Mas."
166Please respect copyright.PENANAiprNPj4fmz
Lia langsung buka mata lebar, "Mas... lagi-lagi... aku gak mau bayangin yang lain." Tapi gue gak berhenti pompa, malah lebih dalam, nabrak-nabrak serviksnya. "Coba aja, Sayang. Bayangin dia lagi di atas kamu, badannya berotot, keringetnya netes ke toket Lia. Dia entot lebih kencang dari Mas." Gue pegang toketnya, remas kuat, sambil pompa lebih cepat.
166Please respect copyright.PENANAvmnAPyf5rS
Lia geleng-geleng kepala, tapi gue liat matanya mulai setengah merem, kayak lagi berusaha tolak tapi terbawa. "Mas... jangan... aku cuma mau Mas... ohh... tapi... kontolnya dalem banget... ahh..." Desahannya mulai beda, lebih panjang, lebih liar. Gue tambah kecepatan, "Iya, bayangin dia lagi remas toket Lia, hisap putingnya, sambil kontolnya keluar masuk memek Lia yang basah ini."
166Please respect copyright.PENANAo0OCSeII8B
Badan Lia mulai bergetar lebih hebat dari biasanya. Pinggulnya naik ikut dorongan gue, kayak lagi pengen lebih dalam. "Ahh... Mas... entot lebih kencang... yaahh... kontolnya... gede... nembus dalem..." Gue tau dia mulai ikut berimajinasi sedikit, meskipun gak ngaku. Gue balik badannya jadi doggy, pegang pinggulnya, masukin lagi dari belakang. Bokongnya yang bulat gue tampar pelan, "Enak gak kalau cowok gym itu yang doggy Lia gini? Dia pegang pinggulmu kuat, entot dari belakang sampe memekmu bergetar."
166Please respect copyright.PENANAE9K7u8DTxF
Lia mendesah keras, "Mas... stop bilang gitu... aku... aku gak mau... tapi... oh God... lebih cepat Mas... tampar lagi bokongku..." Gue tampar lagi, pompa lebih kencang, suara plok-plok kulit tabrakan memenuhi kamar. Memeknya makin basah, cairannya netes ke paha gue. "Sayang, bayangin dia lagi tarik rambut Lia, entot lebih dalam, kontolnya nabrak-nabrak G-spot Lia."
166Please respect copyright.PENANAepPs24HqRe
Lia gak jawab lagi, cuma rintih panjang, "Yaaahh... ahh... aku... aku mau keluar Mas... kontolnya... enak banget... lebih dalam lagi..." Badannya mengejang hebat, orgasme pertama datang lebih cepat dari biasanya. Memeknya ngejepit kontol gue kuat banget, gue rasain getarannya sampe ke pangkal kontol. "Ahh... Mas... aku keluar... squirt... yaahh..." Benar aja, cairannya muncrat keluar, basahin seprai dan perut gue. Orgasmenya lebih kuat dari malam-malam sebelumnya, badannya bergetar lama, napasnya ngos-ngosan.
166Please respect copyright.PENANAeW4g5YSYEM
Gue gak berhenti, balik lagi posisi misionaris, angkat kakinya ke bahu gue biar lebih dalam. "Lagi ya, Sayang. Bayangin cowok itu lagi bikin kamu squirt berkali-kali." Lia udah lemes, tapi matanya liar, "Mas... aku capek... tapi... enak banget... terus aja... ahh..." Gue pompa lagi, kali ini lebih lambat tapi dalam, nikmatin setiap gesekan. Lia orgasme lagi dua kali, yang kedua squirt lebih banyak, tubuhnya bergetar hebat kayak kejang kecil, tangannya mencengkeram sprei kuat.
166Please respect copyright.PENANAYMWoBbEsM8
Akhirnya gue gak tahan, "Sayang, Mas mau keluar... di dalem ya?" Lia angguk lemah, "Iya Mas... isi memekku... penuhin..." Gue dorong terakhir, keluar banyak banget di dalamnya, rasain memeknya yang masih berdenyut ngejepit sisa-sisa kontol gue. Kami ambruk bareng, berkeringat deras, napas sama-sama cepet.
166Please respect copyright.PENANA6NmefZ3boY
Lia peluk gue erat, "Mas... tadi enak banget... aku capek." Gue cium keningnya, "Kamu juga liar banget malam ini." Dia senyum tipis, tapi gak bilang apa-apa soal fantasi tadi. Gue tau dia masih tolak, tapi orgasmenya yang lebih kuat itu pertanda bagus. Dia mulai terbawa, meskipun cuma sedikit.
166Please respect copyright.PENANAQiEHVyOwho
Malam itu kami tidur pelukan. Gue bangun tengah malam buat minum, lalu buka hape diam-diam di ruang tamu. Gue masuk lagi ke forum dewasa itu, buka thread cari bull di Jakarta. Gue mulai chat sama beberapa akun yang keliatan serius: cowok-cowok dari keluarga mampu, punya foto badan bagus, umur 30-an. Gue belum bilang detail soal Lia, cuma tanya pengalaman mereka dulu. Hati gue deg-degan, ini langkah pertama gue nyari kandidat beneran. Gue mikir, pelan-pelan, tapi pasti.
ns216.73.216.75da2


