Bab 3: Pelajaran Pertama yang Lebih Dalam
6956Please respect copyright.PENANAZc97gJ6JOM
Pagi berikutnya Salsa bangun dengan tubuh yang terasa remuk. Setiap ototnya pegal, terutama di pinggul dan paha bagian dalam. Vaginanya masih bengkak dan sensitif; setiap kali ia bergerak, denyutan pelan mengingatkannya pada malam panjang di ruang kepala sekolah. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, melihat bekas merah samar di payudaranya yang besar dan di bokong bulatnya. Puting pinknya masih agak bengkak karena digigit berulang kali. Salsa menyentuhnya pelan, dan sensasi itu langsung membuat vaginanya berkedut lagi. Ia menggeleng keras, mencoba mengusir bayangan Fahri.
6956Please respect copyright.PENANAvHTSzINuJd
“Tidak boleh begini,” gumamnya pada diri sendiri. Ia masih ibu yang tegas, yang harus melindungi Kirana. Tapi janji yang ia buat kemarin malam terngiang jelas: ia harus memuaskan nafsu Fahri kapan pun dipanggil. Dan hari ini, pesan singkat sudah masuk di ponselnya pagi-pagi sekali: “Sore jam 5. Ruanganku. Pakai rok yang mudah dilepas. Jangan mandi sebelum datang.”
6956Please respect copyright.PENANAahEZH6kos7
Salsa merasa campuran antara takut dan getar aneh di perut. Ia menghabiskan hari dengan bekerja di kantor, tapi pikirannya terus melayang. Kirana pulang sekolah dengan wajah lebih cerah; ia bilang masalahnya sudah “dimaafkan” oleh kepala sekolah. Salsa tersenyum tipis, tapi hatinya berat. Harga yang ia bayar terlalu mahal.
6956Please respect copyright.PENANABg7PQQHoVl
Jam 4 sore, Salsa sudah bersiap. Ia memilih rok hitam pendek yang longgar di bagian bawah, blus putih ketat tanpa bra lagi, dan tidak memakai celana dalam seperti perintah kemarin. Kulit putihnya terasa dingin karena AC mobil saat ia melaju ke sekolah. Begitu masuk ruangan kepala sekolah, Fahri sudah menunggu dengan senyum yang membuat Salsa merinding.
6956Please respect copyright.PENANARV7hKFExZq
“Kamu datang tepat waktu, lacurku,” kata Fahri sambil berdiri dan mendekat. Ia langsung menarik Salsa ke pelukannya, mencium bibirnya dalam-dalam. Lidahnya menjelajah mulut Salsa, tangannya meremas bokong bulat besar itu dengan kuat. “Aroma tubuhmu masih bercampur dengan bauku dari kemarin. Bagus. Kamu belum mandi, kan?”
6956Please respect copyright.PENANAt3RpAtokj2
Salsa mengangguk malu. Fahri tertawa pelan, aroma maskulinnya yang kuat kembali memenuhi hidung Salsa. Ia membawa Salsa ke belakang meja, di mana ada sebuah tas besar yang belum pernah ada sebelumnya.
6956Please respect copyright.PENANAgjDyppUITO
“Hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru,” kata Fahri dengan suara rendah yang penuh otoritas. “Kamu suka didominasi, bukan? Aku bisa lihat dari cara vaginamu meremas kontolku kemarin. Hari ini aku akan buat kamu merasakan sensasi yang lebih intens.”
6956Please respect copyright.PENANAWzGDfRckV6
Fahri memerintahkan Salsa berlutut di karpet. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan beberapa alat yang membuat mata Salsa melebar: sebuah botol cairan bening, selang panjang tipis dengan ujung bulat, dan sebuah kantong besar. Salsa langsung mengerti apa itu.
6956Please respect copyright.PENANA21FHLl1kaH
“Pak… itu enema?” tanyanya dengan suara gemetar.
6956Please respect copyright.PENANA3RnARFjDUJ
Fahri mengangguk sambil tersenyum. “Benar. Aku suka membersihkan budakku sebelum memakainya sepenuhnya. Berdirilah, angkat rokmu, dan bersandar di meja.”
6956Please respect copyright.PENANAHDC30SPsYp
Salsa patuh meski lututnya lemas. Ia membungkuk di meja, roknya diangkat sampai pinggang, bokong bulat putihnya terpampang telanjang. Fahri mengoleskan sedikit minyak ke ujung selang, lalu perlahan memasukkan ujung itu ke lubang belakang Salsa. Salsa tersentak, sensasi dingin dan asing membuatnya menggigil. Cairan hangat mulai mengalir masuk pelan-pelan. Rasa penuh di perutnya mulai terasa, seperti ada tekanan yang semakin besar.
6956Please respect copyright.PENANAhgeqmRX7Q8
“Ahh… Pak… rasanya aneh… penuh sekali,” desah Salsa. Perutnya mulai membuncit sedikit, kulit putihnya meregang. Fahri mengusap perut Salsa dengan tangan hangatnya, memijat pelan agar cairan merata.
6956Please respect copyright.PENANAMUSoDpQUG2
“Tahan sebentar, Sayang. Ini baru permulaan. Kamu harus belajar menahan banyak hal hari ini.”
6956Please respect copyright.PENANAtmijoCfSGV
Setelah beberapa menit yang terasa lama, Fahri menarik selang keluar. Ia memerintahkan Salsa ke kamar mandi kecil di dalam ruangan untuk mengeluarkan cairan itu. Salsa merasa malu luar biasa saat membersihkan diri, tapi saat kembali, vaginanya sudah basah lagi karena campuran rasa malu dan antisipasi.
6956Please respect copyright.PENANAcdnM5ogxsK
Fahri tidak memberi waktu istirahat. Ia menarik Salsa ke pangkuannya di kursi kebesaran, membuka blusnya, dan meremas payudara F cup yang besar itu dengan rakus. Mulutnya menyedot puting pink yang sudah mengeras, lidahnya berputar cepat, sesekali menggigit hingga Salsa menjerit kecil “Aahh!”. Dua jarinya kembali masuk ke vaginanya yang sudah licin, bergerak keluar-masuk dengan ritme yang membuat Salsa menggelinjang di pangkuannya.
6956Please respect copyright.PENANAjKeBCR75BS
Setiap kali Salsa hampir orgasme, Fahri menghentikan gerakan. “Belum boleh. Hari ini kamu harus menahan orgasme sampai aku izinkan.”
6956Please respect copyright.PENANA5i49hFvVBp
Salsa mengeluh frustrasi, tubuhnya gemetar. “Pak… tolong… saya sudah tidak tahan…”
6956Please respect copyright.PENANAiIyVGcSv55
Fahri tersenyum jahat. Ia membaringkan Salsa di karpet, membuka kakinya lebar-lebar, dan mulai memasukkan dua jari lagi, kali ini lebih kasar. Ia juga mengambil sebuah dildo berukuran sedang dari tasnya dan memasukkannya pelan ke lubang belakang Salsa yang baru dibersihkan. Sensasi ganda membuat Salsa menjerit. Dildo itu bergerak keluar-masuk sementara jari Fahri terus merangsang titik sensitif di vaginanya.
6956Please respect copyright.PENANAkWTE5918Qr
“Rasakan itu, lacur. Dua lubang sekaligus. Kamu suka, kan?”
6956Please respect copyright.PENANA1zZjUL0ySs
Salsa mengangguk tanpa sadar, pinggulnya bergerak sendiri. Bau minyak dan cairan tubuh memenuhi ruangan. Suara basah “schlup schlup” dari vaginanya dan “plok plok” dari dildo di belakang bergema. Fahri terus merangsang tanpa memberi klimaks. Salsa menangis pelan karena frustrasi, air matanya mengalir. Emosinya kacau: ia benci diperlakukan seperti ini, tapi tubuhnya semakin lapar akan pelepasan.
6956Please respect copyright.PENANAxGtPDStlK1
Akhirnya, setelah hampir 40 menit menahan, Fahri menarik dildo keluar dan menggantinya dengan batangnya yang sudah sangat keras. Ia memasukkan seluruh 19 cm dalam sekali hentakan ke vaginanya. “Aaaahhh!!” Salsa menjerit keras. Sensasi penuh setelah enema membuat vaginanya terasa lebih sempit dan sensitif. Setiap gesekan terasa lebih tajam.
6956Please respect copyright.PENANAZTBO4XHFqw
Fahri mulai mengenjot dengan ritme kuat. “Plak! Plak! Plak!” bokong Salsa bergoyang hebat setiap kali pangkal paha Fahri menabraknya. Fahri meremas payudara Salsa, menamparnya pelan hingga suara “plak!” terdengar, membuat daging putih itu bergoyang. Ia menyedot putingnya bergantian, menggigit lebih kuat dari kemarin.
6956Please respect copyright.PENANAbHMKffagep
Salsa orgasme pertama malam itu datang seperti bendungan yang jebol. Tubuhnya mengejang hebat, vaginanya berkontraksi kuat menggenggam batang Fahri, cairan menyembur keluar membasahi karpet. “Aaaah… Pak… saya keluar!! Tolong jangan berhenti!”
6956Please respect copyright.PENANArX0xguWYPj
Tapi Fahri berhenti sejenak, hanya untuk berganti posisi. Kali ini ia membalik Salsa ke posisi doggy, memasukkan lagi sambil menarik rambut hitam panjangnya seperti tali. Gerakannya lebih kasar, setiap hentakan membuat Salsa maju mundur di karpet. Fahri sesekali menampar bokongnya keras “Plak! Plak!” hingga memerah.
6956Please respect copyright.PENANADcDZ7UImhr
“Katakan kamu lacurku,” perintah Fahri.
6956Please respect copyright.PENANAKwkfvCelxZ
Salsa, dengan suara serak karena orgasme, menjawab “Saya… lacur Pak Fahri… ahh… entot saya lebih keras…”
6956Please respect copyright.PENANA2zeLhQNeJE
Fahri tersenyum puas. Ia berganti ke posisi cowgirl, membiarkan Salsa naik turun sendiri sambil ia memegang pinggangnya dan mendorong ke bawah dengan kuat. Payudara besar Salsa bergoyang liar di depan wajah Fahri. Ia menyedot dan menggigit putingnya, membuat Salsa orgasme lagi dan lagi.
6956Please respect copyright.PENANAzNTjCfe0Ug
Mereka terus berganti posisi selama hampir dua setengah jam. Standing di depan jendela (dengan risiko orang melihat dari jauh), spooning di sofa, bahkan Salsa dipaksa berjalan jongkok di ruangan sambil batang Fahri masih di dalamnya. Setiap ganti posisi membawa sensasi baru: di doggy ia merasa seperti binatang yang sedang dikawini, di cowgirl ia merasa malu karena harus aktif sendiri, di standing ia merasa ringkih dan benar-benar dikuasai.
6956Please respect copyright.PENANA79FOP8P5D9
Fahri akhirnya meledak di dalam vaginanya, menyemburkan banyak cairan hangat yang meluber keluar. Salsa orgasme bersamaan, tubuhnya ambruk di karpet. Tapi Fahri belum selesai. Ia memerintahkan Salsa membersihkan batangnya dengan mulut, lalu memasukkan lagi untuk ronde kedua yang lebih lambat tapi tak kalah intens.
6956Please respect copyright.PENANALjiUzGqUEv
Saat jam menunjukkan hampir 8 malam, Salsa terbaring lemas. Tubuhnya penuh keringat, vaginanya bengkak, payudaranya merah karena remasan dan gigitan. Ia sudah orgasme lebih dari sepuluh kali, dan lubang belakangnya juga sudah terisi jari dan dildo. Fahri duduk di kursi, mengusap rambut Salsa dengan lembut tapi penuh kepemilikan.
6956Please respect copyright.PENANAzlVUdZbhDx
“Kamu semakin patuh, Sayang. Besok aku akan ajak kamu ke hotel mewah. Ada kolam renang pribadi di sana. Siapkan tubuhmu yang indah ini.”
6956Please respect copyright.PENANATWlxjwJtdl
Salsa hanya bisa mengangguk lemah. Saat ia pulang, ia merasa tubuhnya sudah bukan miliknya lagi. Di mobil, tangannya tanpa sadar menyentuh vaginanya yang masih berdenyut. Emosinya semakin rumit – rasa malu masih ada, tapi ketagihan mulai merayap masuk. Ia mulai memahami bahwa ia suka didominasi, dan hal itu membuatnya takut sekaligus bergairah.
6956Please respect copyright.PENANAWv9A4q93rT
Malam itu, saat Kirana tidur, Salsa berbaring di tempat tidurnya dan untuk pertama kali menyentuh dirinya sendiri sambil mengingat suara “plak plak” dan rasa penuh yang diberikan Fahri. Benih kebinalan yang tersembunyi mulai tumbuh lebih cepat.
6956Please respect copyright.PENANA58HoZBdcMz


