Bab 2: Kedatangan di Rumah Mewah Ahmad
4692Please respect copyright.PENANAPTv0MLNTZv
Pesawat mendarat mulus di bandara internasional Riyadh di bawah terik matahari siang. Santi turun dengan jantung berdegup kencang. Tas besarnya menyeret di belakang, rambut hitam panjangnya diikat rapi, tubuh langsingnya dibalut dress sederhana yang tetap menonjolkan lekuk payudaranya yang E-cup dan bokong bulat besar. Kulit putihnya berkilau di bawah cahaya, mata coklatnya memindai sekitar dengan campuran gugup dan harapan. Usianya 30 tahun, tapi hari ini ia merasa seperti gadis baru yang melangkah ke dunia tak dikenal.
4692Please respect copyright.PENANATzXMeqXrYk
Seorang sopir pribadi sudah menunggu dengan plang bertuliskan namanya. Perjalanan menuju rumah Ahmad memakan waktu hampir satu jam melewati jalanan kota besar yang mewah. Santi menatap keluar jendela, pikirannya melayang ke Dani. Malam tadi di kontrakan masih terasa hangat di tubuhnya — kenangan kontol suaminya yang masuk ke dalam vaginanya, sperma hangat yang memenuhi, dan lidah Dani yang membersihkan semuanya. Tapi di balik itu, ada rasa hampa yang tak mau pergi. “Semoga di sini aku bisa dapat uang banyak,” gumamnya pelan.
4692Please respect copyright.PENANAu9VhzvbEwW
Mobil berhenti di depan gerbang besar sebuah vila mewah. Rumah itu seperti istana mini — dinding marmer putih, taman hijau luas, dan kolam renang yang berkilau. Pintu utama terbuka, dan seorang pria tampan menyambutnya dengan senyum ramah. Ahmad, 33 tahun, tinggi 171 cm, tubuh atletis enak dipandang, rambut hitam ikal, kulit sawo matang yang sehat. Senyumnya menawan, mata tajamnya seolah bisa membaca pikiran. Di belakangnya berdiri Malik, anaknya yang berusia 22 tahun. Tubuh atletis, wajah tampan keturunan Cina, rambut hitam lurus, senyum yang juga memikat. Tingginya 168 cm, tapi aura percaya dirinya terasa kuat.
4692Please respect copyright.PENANArrLzeyzVOS
“Selamat datang, Santi,” sapa Ahmad dengan suara dalam dan tenang. “Aku Ahmad, majikanmu. Ini anakku, Malik. Kami senang sekali kamu bergabung dengan kami.”
4692Please respect copyright.PENANAF33b4Q8ekN
Santi membungkuk sopan, payudaranya yang besar sedikit bergoyang saat ia menunduk. “Terima kasih, Pak Ahmad. Saya siap bekerja keras.”
4692Please respect copyright.PENANAwOStP1fJoQ
Malik tersenyum lebar, matanya melirik sekilas ke lekuk tubuh Santi sebelum kembali ke wajahnya. “Panggil saja Malik, Kak Santi. Rumah ini besar, tapi kami keluarga kecil. Ada aku, Ayah, dan adik perempuanku yang sedang kuliah. Semua pekerjaan rumah akan kamu tangani, tapi kami tidak mau kamu capek berlebihan.”
4692Please respect copyright.PENANAd3MNGQDH25
Ahmad mengangguk setuju. “Gajimu akan dibayar setiap bulan dengan jumlah yang cukup besar. Kamu bisa kirim ke suamimu di Indonesia. Kami tahu kamu sudah menikah. Itu bagus, berarti kamu bertanggung jawab.”
4692Please respect copyright.PENANA1sdtT6T6wL
Mereka mengantar Santi ke kamar pembantu yang ternyata jauh lebih baik dari kontrakan lamanya — kamar bersih dengan AC, tempat tidur nyaman, dan kamar mandi pribadi. Santi meletakkan tasnya, napasnya lega. “Ini… lebih bagus dari yang saya bayangkan.”
4692Please respect copyright.PENANA4oApMD9920
Malam pertama, Santi menelepon Dani lewat video call. Wajah suaminya muncul di layar, senyumnya sedikit cemas. “Gimana di sana, Sayang? Rumahnya bagus?”
4692Please respect copyright.PENANASgXwKD4dlL
“Bagus sekali, Dani. Majikannya ramah. Pak Ahmad baik, anaknya juga sopan. Ada anak perempuan juga, tapi sedang kuliah. Kerjaannya membersihkan rumah, masak, dan sedikit laundry. Gajinya besar, bulan ini aku bisa kirim sebagian besar ke kamu.”
4692Please respect copyright.PENANACOU4PLmoWS
Dani tersenyum lega, tapi matanya masih was-was. “Hati-hati ya. Aku dengar banyak cerita TKI di sana… jangan sampai ada yang aneh-aneh.”
4692Please respect copyright.PENANAriRxLWMxl9
Santi tertawa kecil, suaranya lucu seperti biasa. “Kamu khawatir berlebihan. Mereka orang baik. Lihat, aku sudah sampai dengan selamat. Besok aku mulai kerja.”
4692Please respect copyright.PENANActSdBavvkr
Setelah telepon ditutup, Santi berbaring di tempat tidur. Tubuhnya lelah karena perjalanan panjang, tapi pikirannya tak tenang. Ia ingat malam terakhir dengan Dani — bagaimana kontol suaminya masuk ke vaginanya, bagaimana ia naik turun di atasnya hingga sperma Dani memenuhi dalamnya, lalu bagaimana ia duduk di wajah Dani dan orgasme sambil vaginanya dijilat bersih. Rasa itu masih ada, tapi lagi-lagi ada kekurangan yang mengganggu. “Mungkin di sini aku bisa fokus kerja saja,” bisiknya pada diri sendiri.
4692Please respect copyright.PENANAfQYiMeANwi
Hari-hari pertama berjalan lancar. Santi bangun pagi, membersihkan rumah besar itu dengan teliti. Ahmad memang majikan yang baik — ia sering memuji kerja Santi, memberi bonus kecil, dan tak pernah marah meski ada kesalahan kecil. Malik juga membantu sesekali, membawa belanjaan atau mengobrol ringan. Anak perempuan Ahmad, yang bernama Aisyah, pulang akhir pekan dan langsung mengajak Santi berolahraga bersama di gym pribadi rumah.
4692Please respect copyright.PENANAAEG323nwAl
“Ayo, Kak Santi! Kita jalan cepat di treadmill, lalu yoga. Tubuh Kakak sudah bagus, tapi bisa lebih langsing lagi,” kata Aisyah dengan semangat.
4692Please respect copyright.PENANAG5JGvBaq8B
Santi tersenyum, meski dalam hati ia merasa aneh. Tapi ia ikut saja. Setiap pagi mereka berolahraga bersama — lari, angkat beban ringan, yoga yang membuat tubuhnya semakin lentur. Kulit Santi semakin putih bersih karena perawatan spa sederhana yang disediakan Ahmad. Payudaranya tetap montok, bokongnya semakin kencang dan bulat. Wajahnya semakin cantik, mata coklatnya semakin memikat. Santi tak sadar bahwa semua ini adalah bagian dari rencana halus Ahmad.
4692Please respect copyright.PENANAd1FliBFW4M
Suatu sore, saat Santi sedang menyapu ruang tamu, Ahmad mendekat. Tubuh atletisnya terlihat enak dipandang di balik kemeja longgar. “Santi, kamu sudah betah di sini?”
4692Please respect copyright.PENANAMzEY2Dlk6E
“Sudah, Pak. Terima kasih banyak. Gajinya juga tepat waktu.”
4692Please respect copyright.PENANAR19ambpNJd
Ahmad tersenyum, matanya menelusuri tubuh Santi yang sedang membungkuk. “Bagus. Kalau ada apa-apa, bilang saja. Kami anggap kamu bagian keluarga.”
4692Please respect copyright.PENANAC8cR1Lb7AU
Malik yang kebetulan lewat ikut tersenyum. “Iya, Kak. Kalau butuh apa, bilang ke aku juga.”
4692Please respect copyright.PENANA698iihbrwx
Santi merasa hangat. Majikan seperti ini jarang didapat. Malam itu ia lagi-lagi menelepon Dani, menceritakan betapa baiknya Ahmad dan Malik. “Mereka benar-benar baik, Dani. Aku bahkan diajak olahraga sama anak perempuannya. Badanku sekarang lebih fit.”
4692Please respect copyright.PENANA3JHduJQOFy
Dani di layar terlihat senang, tapi ada keraguan di matanya. “Kamu semakin cantik di foto yang kamu kirim. Hati-hati ya… jangan sampai ada yang memanfaatkan.”
4692Please respect copyright.PENANA2P9KmZs84g
Santi tertawa, suaranya tegas seperti biasa. “Kamu paranoid. Aku ini istri kamu. Aku tahu batasanku.”
4692Please respect copyright.PENANAuAt9ajRsWK
Tapi di balik kata-katanya, Santi mulai merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Beberapa hari terakhir, ia sering merasa panas di malam hari. Vaginasnya kadang basah tanpa sebab, puting pinknya lebih sensitif saat bergesekan dengan bra. Ia mengira itu karena cuaca panas atau karena olahraga. Ia tak tahu bahwa Ahmad diam-diam sudah mulai mencampurkan sedikit obat perangsang ke dalam makanan atau minumannya setiap hari.
4692Please respect copyright.PENANApzR9LUSNFV
Suatu malam, setelah membersihkan dapur, Santi mandi di kamar mandinya. Air hangat mengalir di tubuh langsingnya. Tanganannya tanpa sadar menyentuh payudaranya, meremas pelan puting pink yang sudah keras. “Ah…” desahnya pelan. Rasa panas itu semakin kuat. Ia duduk di lantai kamar mandi, kakinya terbuka, jari-jarinya turun ke vagina yang sudah licin. Ia mengusap kristoriskecilnya dengan gerakan melingkar, lalu memasukkan satu jari ke dalam. “Mmm… kenapa hari ini begini sekali…”
4692Please respect copyright.PENANAM6QTljM3xM
Gerakannya semakin cepat. Bayangan malam dengan Dani melintas, tapi kali ini bayangan itu bercampur dengan wajah Ahmad yang tampan dan tubuh atletis Malik. Santi menggigit bibir, tubuhnya menegang. cairan orgasmenya keluar dengan deras, membuatnya gemetar di lantai kamar mandi. “Ahh… ya…”
4692Please respect copyright.PENANANAs6hCZ72H
Ia tak tahu bahwa di ruangan lain, Ahmad dan Malik sedang duduk di depan layar monitor, tersenyum puas melihat rekaman kamera tersembunyi di kamar mandi Santi.
4692Please respect copyright.PENANAynFUnPSYGX
“Dia mulai bereaksi,” kata Ahmad pelan, suaranya penuh kepuasan. “Tubuhnya sudah siap. Tinggal tunggu dosisnya naik.”
4692Please respect copyright.PENANAUkS9tLvkwS
Malik tertawa kecil. “Cantik sekali saat orgasme. Bokongnya bergoyang enak. Ayah benar, rencana ini akan berhasil.”
4692Please respect copyright.PENANASu6aCV5L3A
Santi keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah. Ia berbaring di tempat tidur, napasnya masih berat. Dalam hati ia merasa bersalah karena orgasme sambil membayangkan orang lain. Tapi rasa puas itu terlalu enak untuk ditolak. “Ini pasti karena kangen Dani,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
4692Please respect copyright.PENANAUW5YxV5V26
Hari-hari berikutnya, rutinitas berlanjut. Santi bekerja dengan tekun, olahraga bersama Aisyah membuat tubuhnya semakin langsing dan seksi, kulitnya semakin mulus. Ahmad dan Malik semakin sering mengobrol dengannya, menciptakan suasana nyaman. Tapi di balik kebaikan itu, rencana gelap mulai bergerak pelan. Obat perangsang yang dicampur ke makanan Santi semakin hari semakin kuat, meski masih dalam dosis rendah.
4692Please respect copyright.PENANAAC4ko1hFpu
Suatu sore, saat Santi sedang membersihkan kamar Ahmad, majikannya masuk dan berdiri di belakangnya. “Santi, kamu lelah tidak? Istirahat sebentar.”
4692Please respect copyright.PENANAN6Yg1Ufbg1
Santi menoleh, payudaranya bergoyang saat ia bangkit. “Tidak apa-apa, Pak.”
4692Please respect copyright.PENANAgc268MGMhu
Ahmad tersenyum, tangannya menyentuh bahu Santi sekilas — sentuhan yang terasa hangat dan penuh arti. “Kamu istri yang baik. Suamimu pasti bangga.”
4692Please respect copyright.PENANAz5ewtzx16K
Santi tersenyum, tapi ada getaran aneh di tubuhnya. Malam itu, saat menelepon Dani lagi, ia berusaha terdengar biasa. “Semua baik di sini. Aku semakin betah.”
4692Please respect copyright.PENANACJMP7ajnX4
Dani mengangguk di layar. “Aku juga kangen kamu. Tapi senang kalau kamu bahagia.”
4692Please respect copyright.PENANAbzmOwsGhRn
Setelah telepon selesai, Santi duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya lagi-lagi panas. Jarinya tanpa sadar menyentuh paha dalamnya. Ia tahu ada yang berubah dalam dirinya, tapi belum bisa ia pahami. Api kecil yang mulai menyala di malam terakhir di kontrakan kini semakin besar.
4692Please respect copyright.PENANAlxAyLUIpX2
Di ruangan lain, Ahmad dan Malik saling pandang dengan senyum puas. Pelatihan sesungguhnya akan segera dimulai. Santi, istri Dani yang pemarah tapi suka didominasi, perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih binal.
4692Please respect copyright.PENANAu2OKznTOVG


